MPM dan Arah Baru Pemberdayaan: Membangun Kemandirian Umat Berbasis Filantropreneurship

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
513
MPM Outlook 2026

MPM Outlook 2026

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Hilman Latief, Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam MPM Outlook 2026 menyampaikan bahwa forum ini sejatinya menjadi ruang yang baik untuk memikirkan kembali konsep-konsep dasar program MPM yang akan dikembangkan ke depan. Hal ini membutuhkan satu kerangka pemikiran yang berkelanjutan, agar dapat terus dikembangkan sesuai dengan arah baru MPM ke depan.

Selama ini, Muhammadiyah sebagai gerakan filantropi Islam terus berkembang dan berupaya menjalankan berbagai program pemberdayaan. Pertanyaannya, sampai kapan model ini akan terus berlangsung dan seberapa kuat daya tahannya. Konsep empowerment dalam filantropreneurship menekankan pada upaya memberikan kemampuan dan kekuatan—baik tenaga, akal, maupun keterampilan—agar masyarakat mampu mengatasi persoalan yang mereka hadapi. Pemberdayaan merujuk pada proses ketika masyarakat memiliki kemampuan dan kapasitas untuk membuat keputusannya sendiri.

Melalui pemberdayaan yang dijalankan oleh MPM, masyarakat diharapkan mampu meningkatkan aset yang dimiliki serta memperkuat kapasitas mereka dalam membangun akses dan jejaring, sehingga dapat menyampaikan aspirasi secara lebih efektif. 

Pertanyaan penting berikutnya yang disampaikan Hilman adalah bagaimana memanfaatkan teknologi baru dalam rangka pemberdayaan masyarakat, baik dalam transformasi ekonomi maupun sosial. Selain fokus pada pengembangan kualitas sumber daya manusia, sektor-sektor pemberdayaan juga perlu diperjelas, apakah pada pertanian, perikanan, perkebunan, atau industri kreatif. Dalam konteks ini, makna dan fokus dominan pemberdayaan perlu dirumuskan dengan lebih tegas.

Diperlukan arah baru yang lebih serius pada pengembangan industri kreatif, baik di bidang seni maupun teknologi digital. Apakah ini akan menjadi strategi utama MPM dalam melakukan pemberdayaan masyarakat ke depan. Termasuk di dalamnya adalah pendampingan kepada kelompok nelayan, yang tidak hanya berfokus pada sumber daya ikan, tetapi juga pengelolaan dan pemanfaatan potensi lain seperti energi dan sumber daya kelautan lainnya.

"Konsep the power of giving memiliki energi yang terbatas, sehingga perlu ditentukan prioritas-prioritas strategis yang akan menjadi fokus garapan MPM. Keterlibatan Generasi Z menjadi keharusan dan merupakan tanggung jawab bersama," tegasnya. 

Menurut Hilman, pemberdayaan berbasis kewirausahaan (entrepreneurship-based empowerment) sejatinya telah menjadi bagian dari program MPM, namun belum banyak dilakukan upaya untuk melembagakan proyek-proyek pemberdayaan tersebut secara berkelanjutan. Oleh karena itu, filantropreneurship menjadi penting sebagai penopang lahirnya model-model pemberdayaan baru MPM.

Dalam kerangka besar 2025–2050, ia menegaskan bahwa gerakan Muhammadiyah selama ini ditopang oleh gerakan filantropi dan AUM seperti rumah sakit, perguruan tinggi dan amal usaha lainnya. Ke depan, diperlukan penopang baru, di mana BUMM atau Muhammadiyah Enterprise dapat berperan sebagai penopang ketiga bagi keberlanjutan gerakan dakwah Muhammadiyah. (diko)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BANDA ACEH, Suara Muhammadiyah – Disela sela waktunya Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM....

Suara Muhammadiyah

18 April 2026

Berita

MEDAN, Suara Muhammadiyah - Suasana hangat dan penuh semangat memenuhi ruang rapat ketika Lazismu Su....

Suara Muhammadiyah

7 October 2023

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Universitas Muhammadiyah Yogyakar....

Suara Muhammadiyah

22 July 2023

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Widia Astuti, mahasiswa Ilmu Administrasi Negara Universitas Mu....

Suara Muhammadiyah

30 January 2025

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Wakil Rektor I Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung Dr Hendar R....

Suara Muhammadiyah

1 October 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah