YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Dengan mengusung tagline “Masyarakat Berdaya, Indonesia Berjaya”, Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar MPM Outlook 2026 di Gedung Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jalan KH. Ahmad Dahlan, Yogyakarta, Sabtu (3/1). Agenda ini menjadi penanda awal perjalanan MPM di tahun 2026, sekaligus ruang refleksi atas capaian dari kerja-kerja pemberdayaan di sepanjang tahun 2025.
Ketua MPM PP Muhammadiyah, Nurul Yamin, menegaskan bahwa Outlook 2026 bukan sekadar forum evaluasi, melainkan ikhtiar strategis untuk membaca masa depan. “Sebagai manusia, kita hidup dalam tiga dimensi waktu—kemarin, hari ini, dan esok. Ketiganya saling terhubung dan tidak bisa dipisahkan,” ujarnya. Karena itu, keberhasilan mengarungi tahun 2025 merupakan hal yang patut disyukuri. Namun menghadapi tahun 2026 menuntut konsolidasi, reposisioning, serta kecakapan dan kecepatan beradaptasi.
Menurut Yamin, memasuki dimensi waktu hari ini, ia mengajak seluruh MPM di semua tingkatan untuk memperkuat fondasi organisasi dan memastikan seluruh gerak langkah selaras dengan tujuan besar pemberdayaan. “Kita perlu menata ulang posisi, memperkuat kapasitas, dan melangkah dengan optimisme atas apa yang telah dirancang,” tegasnya.
Dalam paparannya, Yamin mengulas perjalanan panjang pemberdayaan masyarakat yang telah dilakukan MPM, yang tidak terlepas dari delapan program prioritas. Fokus utama diarahkan pada penguatan komunitas di akar rumput. Sejak Rapat Kerja Nasional 2023, MPM secara serius mengidentifikasi kelompok sasaran, mulai dari wilayah 3T (tertinggal, terdepan, terluar), komunitas petani dan nelayan, penyandang disabilitas, hingga kelompok miskin perkotaan yang membutuhkan uluran tangan pemberdayaan.
MPM kemudian menyusun program-program strategis yang terbagi ke dalam tiga pendekatan utama. Pertama, program berskala nasional yang dirancang dan dibaca secara nasional, termasuk upaya memperkuat organisasi di seluruh level. Dalam kerangka ini, pembentukan jejaring petani (JATAM) dan nelayan menjadi langkah penting untuk memperkokoh basis pemberdayaan berbasis komunitas.
Kedua, pengembangan program unggulan berbasis komunitas yang menjawab kebutuhan riil masyarakat. Program-program ini dirancang agar kontekstual, adaptif, dan berkelanjutan. Ketiga, MPM menekankan bahwa proses pemberdayaan adalah transformasi kebudayaan yang berjalan dari hulu ke hilir. “Pemberdayaan sejatinya membantu orang lain agar mampu menolong dirinya sendiri,” ungkap Yamin.
Transformasi ini, lanjutnya, membutuhkan adaptasi dan rekonstruksi mental. Tujuannya jelas: mengangkat potensi masyarakat sehingga terjadi lompatan kualitas hidup—dari yang semula sebagai penerima zakat, menjadi pribadi yang mampu menunaikan zakat. Di sinilah pemberdayaan menemukan makna sejatinya.
Sejumlah program strategis nasional pun telah dilahirkan. Jambore JATAM menjadi wadah konsolidasi dan penguatan petani di berbagai daerah. Dari sisi inovasi, MPM juga berhasil menelurkan produk unggulan, di antaranya pengembangan varietas padi unggul yang memperkuat ketahanan pangan berbasis komunitas.
Tak kalah penting, MPM menghadirkan Sekolah Kader Pemberdayaan Masyarakat sebagai investasi jangka panjang dalam menyiapkan SDM pendamping yang tangguh dan berintegritas. Sementara itu, program Pemberdayaan Pekerja Migran Indonesia melalui Sahabat Migran Berkemajuan menegaskan komitmen MPM untuk hadir membersamai kelompok rentan lintas batas.
Melalui MPM Outlook 2026, Muhammadiyah meneguhkan langkah: menjadikan pemberdayaan sebagai jalan perubahan, memperkuat akar rumput sebagai fondasi, dan melangkah ke masa depan dengan optimisme. Sebab, ketika masyarakat berdaya, Indonesia pun kian berjaya.
Terkait dengan transformasi kebudayaan, di MPM senantiasa mendorong bagi seluruh komunitas binaannya berubah dari yang sebelumnya memiliki mental menerima, menjadi mental memberikan. Ia mengajak seluruh personil di MPM untuk bergerak cepat menghadirkan pemberdayaan bagi masyarakat di akar rumput. "Mudah-mudahan ini dapat menjadi wujud ikhtiar kita menghadirkan kebermanfaatan kepada sesama, hadir sebagai rahmatan lil alamin," harapnya. (diko)

