Mudik ke Kampung Abadi

Publish

17 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
55
Ilustrasi

Ilustrasi

Mudik ke Kampung Abadi 

Oleh: Muhammad Qorib, Dosen FAI UMSU, Bendahara PWM Sumut, Wakil Ketua Umum MUI Kota Medan

Menjelang akhir Ramadhan, jutaan Umat Islam melakukan mudik ke kampung halaman mereka masing-masing. Mudik menjadi pertanda Ramadhan akan segera berlalu berganti fajar Syawal. Mudik merupakan momen psikologis untuk meluahkan rasa rindu kepada keluarga dan orang-orang terdekat. Mengunjungi kampung halaman, melihat tempat bermain semasa kecil, bercengkrama tentang masa lalu, adalah ornamen-ornamen penting dalam aktifitas mudik itu. Mudik melahirkan rasa bahagia dan membentuk suasana kebatinan yang segar. Mudik juga merupakan salah satu terapi psikologis untuk jiwa-jiwa yang layu. 

Dimana Mereka?

Suara takbir yang saling bersahutan di malam satu Syawal membuat suasana mudik semakin syahdu. Namun ada saja hal yang boleh jadi terasa ganjil, ternyata ada satu atau beberapa orang yang kita cintai tidak lagi berada di tengah-tengah kita. Mungkin Ayah, Ibu, suami, istri, anak, kakak, adik atau kerabat, yang tidak lagi merayakan lebaran bersama. Kemana perginya orang-orang yang kita kasihi itu? Ternyata mereka telah mudik terlebih dahulu ke kampung abadi. Mereka telah kembali selamanya menghadap Allah Yang Maha Rahman dan Maha Rahim.

Kita tidak lagi dapat mengucapkan “Selamat Idul Fitri” yang diiringi doa “Taqabbalallahu minna wa minkum” dan “Minal a’idin wal fa’izin”. Kita tidak lagi dapat mencium pipi mereka. Kita tidak lagi dapat berjabat tangan dengan mereka. Kita tidak lagi dapat berbagi hadiah lebaran yang selama ini kita berikan. Kita tidak lagi dapat menikmati masakan tradisional yang mereka siapkan. Di sela-sela kebahagiaan yang dirasakan banyak orang, ternyata dada kita terasa sesak, nafas kita tersenggal, suara kita parau, ketika mengenang saat-saat terindah bersama mereka. Air mata kita pun mengalir dan ada rasa penyesalan karena kita belum dapat membuat mereka bahagia. Tanpa kehadiran mereka ternyata jiwa kita sangat rapuh. Di titik itulah kita menjadi sadar bahwa kehadiran mereka sangat berarti setelah mereka pergi.

Jika boleh berangan-angan, kita memohon kepada Allah SWT agar jarum kehidupan diputar ke belakang. Kita ingin menelusuri lorong masa lalu dan memperbaiki kebaktian yang selama ini terabaikan. Ambisi yang meluap-luap dalam pekerjaan, sikap hemat yang berlebihan, telah membuat kita lupa bahwa ada orang-orang terdekat yang haknya belum kita tunaikan. Mereka belum mendapat perhatian kita secara tulus. Selama ini, perhatian yang kita berikan hanya bersifat sporadis, ketika kita ingat saja. Kita juga senantiasa merasa berat untuk memberikan yang terbaik kepada mereka. Dalam kondisi demikian, akhirnya kesedihan dan penyesalan memenuhi rongga jiwa.

Sejatinya, dari kesedihan dan penyesalan itulah kita dapat belajar. Kita mesti melakukan refleksi dan kontemplasi. Dari situ diharapkan muncul pertanyaan-pertanyaan kritis, “darimana kita datang”, “dimana kita sedang berada”, “apa yang seharusnya kita lakukan”,  “untuk siapakah hidup kita”, dan “kemanakah kita akan pergi setelah ini”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan mengarahkan perahu kehidupan kita ke tujuan yang sebenarnya. Karena selama ini perahu kehidupan tersebut terombang ambing tak tentu arah. Akibat rutinitas kehidupan yang bersifat robotik, jiwa-jiwa tulus di kampung halaman tak terperhatikan.

Hidup di dunia hanya sejenak saja sebagaimana diuangkapkan dalam sepenggal syair, life is just a thrown stone (hidup seperti batu yang dilemparkan, pendek dan singkat). Karena durasinya sebentar maka tak ada pilihan kecuali melakukan perbaikan-perbaikan. Dunia dengan berbagai pernak-perniknya pasti ditinggalkan. Rasulullah Muhammad SAW mengingatkan, “Sesungguhnya hubunganku dengan dunia seperti seorang musafir yang berteduh sebentar di bawah pohon lalu meninggalkannya.” (H.R. Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Hadis tersebut memiliki makna yang sangat dalam. Dunia ini bersifat fana, sementara, dan kemudian akan ditinggalkan oleh setiap orang. Dunia adalah tempat dimana life road map (peta jalan kehidupan) didesain dan diimplementasikan. Peta itu harus jelas dan terukur agar kita mengetahui sampai sejauh mana kebajikan-kebajikan telah dicapai.

Alkisah, seorang raja mengundang pandai emas ke istananya untuk membuat cincin. Cincin pun selesai dikerjakan setelah melalui proses perenungan dan pengerjaan dengan amat hati-hati. Namun di cincin itu ada sebuah tulisan, “Ini pun akan berakhir”. Raja tidak mengetahui apa makna tulisan singkat itu. Sampai satu ketika, ia menghadapi masalah berat di kerajaannya. Tanpa sengaja, ia membaca tulisan itu. Raja sadar bahwa seberat apa pun masalah yang dihadapi pasti berakhir. Demikian pula saat ia berbaring di peraduannya, ia membaca tulisan itu kembali. Kemudian raja merenung bahwa posisinya sebagai seorang raja akan berakhir. Hidup yang ia jalani juga akan berakhir. Raja kemudian mengabdikan dirinya secara maksimal untuk seluruh rakyat yang ia pimpin sebelum semuanya berakhir.

Hidup di dunia berjalan secara linier, lurus ke depan. Ia terus bergerak maju dan tidak akan berhenti sampai Allah memberi tahu bahwa batas akhir telah tiba. Selanjutnya setiap orang akan mudik ke kampung abadi selamanya dan tak akan pernah kembali lagi ke dunia. Oleh karenanya, berbuat kebajikan  selama hidup di dunia menjadi kebutuhan yang tak bisa ditawar. Allah Yang Maha Bijaksana mengingatkan kita untuk menggunakan waktu sebaik mungkin, misalnya Wa al-Fajr (Demi waktu fajar), Wa al-Dhuha (Demi waktu dhuha), Wa al-“Ashr (Demi waktu sore), Wa al-Lail (Demi waktu malam). Tujuannya agar hidup kita produktif dan membawa manfaat. Selain itu, Allah SWT menyuruh kita untuk senantiasa  tanadzar, yaitu mencermati prestasi kebajikan yang telah diukir untuk persiapan hidup mendatang (Q.S. Al-Hasyr (59): 18). 

Siapa pun tanpa terkecuali akan menjadi pemudik. Kapan waktunya, dimana tempatnya, dan bagaimana caranya masih menjadi rahasia. Namun yang pasti, setiap orang akan sampai pada ajal (batas waktu) yang dijanjikan Allah SWT (Q.S. Al-A’raf (7): 34). Mudik yang sebenarnya pasti terjadi, suka atau terpaksa, sedih atau gembira. Dunia dengan segala kenikmatan semu akan ditinggalkan. Tak ada lagi status sosial, tak ada lagi kepemilikan harta, tak ada lagi gelar dan tanda kehormatan, semuanya harus dilepaskan. Baju yang mahal berganti kain kafan. Kendaraan yang mewah berganti keranda. Kasur yang empuk berganti tanah yang dingin. Kamar yang terang berganti liang lahat yang gelap gulita. Relasi yang luas tak banyak membantu selain amal yang pernah dikerjakan selama hidup. Semuanya berubah secara drastis. 

Dalam konteks ini, Rasulullah Muhammad SAW juga mengingatkan, “Perbanyaklah mengingat pemutus kenikmatan (kematian).” (H.R. Tirmidzi). Dalam hadis yang lain beliau menegaskan, “Mukmin yang baik adalah yang paling baik akhlaknya dan Mukmin yang cerdas adalah Mukmin yang paling banyak mengingat mati dan yang paling banyak mempersiapkan bekal untuk kematiannya.” (H.R. Ibnu Majah).

Sementara Imam Syafii menjelaskan bahwa hidup kita tidak boleh terpedaya dan sia-sia. Beliau mengatakan, “Jadikan akhirat di hatimu, dunia di tanganmu, dan kematian di pelupuk matamu.” Hadis dan nasehat Imam Syafii ini membuat kita semakin optimis berbuat kebajikan. Saat nama kita diumumkan masuk dalam daftar kafilah pemudik, kita sudah siap menghadapinya.

Allah menyebut bahwa kehidupan dunia adalah permainan dan senda gurau saja  (Q.S. Al-An’am (6): 32). Jika di dunia ini kita memiliki banyak teman untuk “bermain” dan banyak “alat permainan” yang kita gunakan, namun semuanya seperti fatamorgana. Pada akhirnya setiap orang akan menempuh jalan sepi dengan cara mudik ke kampung abadi. “Alat permainan” akan melahirkan kebahagiaan berikut kesengsaraan, tergantung pemanfaatannya selama hidup di dunia. Dalam al-Qur’an, Allah menyebut mudik itu dengan kata “raji’” (Q.S. Al-Baqarah (2): 156).

Mudik di dunia ini masih berpeluang untuk memberi atau menerima bantuan dari orang lain. Berbeda dengan mudik ke kampung akhirat, semuanya sendiri, tidak ada teman yang mendampingi kecuali berbagai kebajikan. Semuanya bersifat personal dan tidak ada kesempatan untuk memperbaiki diri.

Bekal Mudik

Mudik yang dilakukan selama beberapa hari di kampung halaman merupakan mudik kecil. Para pemudik itu membawa bekal secukupnya untuk diri dan orang-orang yang dicintai. Setelah mudik itu, mereka akan kembali melakukan rutinitas seperti biasa. Sementara mudik yang sebenarnya adalah mudik besar, yaitu berupa perjalanan ke kampung halaman abadi. Bekal yang dibawa adalah amal shaleh yang dilakukan selama hidup di dunia. Bekal terbaik untuk mudik besar itu adalah takwa. Takwa meliputi kesalehan personal, kesalehan ritual, dan kesalehan lingkungan. Allah SWT berfirman, “…Berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa. Bertakwalah kepada-Ku wahai orang-orang yang berakal (Q.S. Al-Baqarah (2): 197). Semoga bermanfaat.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Cinta Guru Kita Oleh: Mohammad Fakhrudin Profesi guru sangat mulia. Melalui profesi itu, guru memp....

Suara Muhammadiyah

28 November 2025

Wawasan

Menggembirakan Tetangga yang Sakit Oleh: Mohammad Fakhrudin Kajian ini berisi uraian lanjutan tent....

Suara Muhammadiyah

21 July 2025

Wawasan

Meluruskan Niat dan Tujuan Beribadah Haji Oleh: Mohammad Fakhrudin Setelah menunggu sepuluh tahun ....

Suara Muhammadiyah

7 May 2024

Wawasan

Ibadah Ramadhan dan Kedamaian bagi Orang Lain Oleh: Mohammad Fakhrudin Ibadah Ramadhan yang dikerj....

Suara Muhammadiyah

12 February 2026

Wawasan

Jalan Lurus sebagai Etos Spiritual: Pembacaan Filosofis-Sufistik QS. Al-Fātiḥah [1]:7 dan Relevan....

Suara Muhammadiyah

3 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah