Mufakkir Kabir Peradaban Islam Tutup Usia
Oleh: Alvin Qodri Lazuardy, Pegiat Literasi Tinggal di Yogyakarta
Ada tokoh yang tidak sekadar hidup pada zamannya, tetapi meninggalkan jejak panjang dalam perjalanan intelektual sebuah peradaban. Salah satu di antaranya adalah Syed Muhammad Naquib Al-Attas—seorang filsuf, sejarawan pemikiran, dan sarjana Muslim yang gagasan-gagasannya tentang ilmu, adab, dan peradaban Islam membentuk diskursus intelektual dunia Islam modern.
Ia lahir pada 1931 di Bogor, Jawa Barat, Indonesia, dari keluarga yang memiliki tradisi spiritual dan intelektual yang kuat. Ayahnya, Syed Ali al-Attas, berasal dari Johor Bahru, Malaysia, sedangkan ibunya, Syarifah Raguan Alaydrus, berasal dari Bogor. Keluarga Al-Attas dikenal sebagai keluarga sayyid yang silsilahnya dapat ditelusuri hingga kepada Nabi Muhammad melalui jalur Husain bin Ali. Tradisi keluarga yang sarat dengan keilmuan dan spiritualitas inilah yang membentuk dasar pemikiran Al-Attas sejak masa kecil.
Pendidikan dan Pembentukan Intelektual
Pendidikan awalnya dimulai di Ngee Heng Primary School di Johor Bahru pada 1936–1941. Masa berikutnya ia habiskan di Indonesia dengan mempelajari bahasa Arab dan ilmu agama di Madrasah al-‘Urwat al-Wuthqa di Sukabumi.
Setelah kembali ke Johor, ia melanjutkan pendidikan di Bukit Zahrah School dan kemudian di English College Johor Bahru (kini Maktab Sultan Abu Bakar). Pada 1951 ia sempat bergabung sebagai kadet di Royal Malay Regiment. Kemampuannya menarik perhatian Komisaris Tinggi Inggris di Malaya, Gerald Templer, yang mengirimnya mengikuti pendidikan militer di Royal Military Academy Sandhurst di Inggris.
Namun Al-Attas akhirnya memilih meninggalkan jalur militer dan kembali ke dunia intelektual. Ia melanjutkan studi di University of Malaya di Singapura pada 1957–1959. Di masa inilah karya-karya awalnya lahir, termasuk kumpulan puisi Rangkaian Ruba’iyyat serta kajian akademik Some Aspects of Sufism as Understood and Practised among the Malays.
Karya tersebut membawanya memperoleh fellowship dari Canada Council untuk melanjutkan studi di Institute of Islamic Studies McGill University di Montreal, Kanada. Pada 1962 ia meraih gelar magister dalam filsafat Islam dengan tesis mengenai pemikiran ulama Aceh abad ke-17, Nuruddin al-Raniri.
Ia kemudian melanjutkan studi doktoral di SOAS University of London dan menyelesaikan disertasi monumental berjudul The Mysticism of Hamzah Fansuri, sebuah kajian mendalam mengenai tokoh sufi Melayu Hamzah Fansuri.
Peran Akademik dan Institusional
Sekembalinya ke Asia Tenggara, Al-Attas meniti karier akademik di University of Malaya sebagai Ketua Divisi Sastra di Departemen Studi Melayu pada 1965. Pada 1968 ia diangkat menjadi Dekan Fakultas Seni.
Ketika Universiti Kebangsaan Malaysia didirikan pada 1970, ia menjadi salah satu tokoh perintisnya dan berperan dalam merumuskan identitas intelektual universitas tersebut.
Dalam perjalanan akademiknya, Al-Attas juga aktif di forum internasional. Ia memimpin panel tentang Islam di Asia Tenggara pada Kongres Internasional Orientalis di Paris tahun 1973, menjadi Profesor Pelawat di Temple University di Philadelphia pada 1976, serta tampil sebagai pembicara dalam Konferensi Dunia Pertama Pendidikan Islam di Mekkah pada 1977.
Pencapaian monumental lainnya adalah pendirian International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC) di Kuala Lumpur pada 1987. Lembaga ini dirancangnya sebagai pusat kajian peradaban Islam yang mengintegrasikan tradisi intelektual klasik dengan pendekatan akademik modern.
Gagasan dan Karya
Kontribusi terbesar Al-Attas terletak pada pemikirannya tentang Islamisasi ilmu pengetahuan. Ia berpendapat bahwa krisis terbesar umat Islam adalah krisis adab dalam memahami ilmu. Pendidikan Islam, menurutnya, harus memulihkan hubungan antara ilmu, moralitas, dan pandangan alam Islam.
Sepanjang hidupnya ia menghasilkan puluhan karya ilmiah yang menjadi rujukan penting dalam studi Islam dan peradaban, di antaranya:
● Islam and Secularism
● The Concept of Education in Islam
● Islam and the Philosophy of Science
● The Meaning and Experience of Happiness in Islam
● Prolegomena to the Metaphysics of Islam
● Risalah untuk Kaum Muslimin
● Historical Fact and Fiction
Melalui karya-karya tersebut, Al-Attas mengingatkan bahwa ilmu dalam Islam tidak hanya bersifat rasional, tetapi juga berakar pada dimensi metafisik dan spiritual manusia.
Tahun-Tahun Terakhir dan Wafatnya
Dalam beberapa tahun terakhir kehidupannya, Al-Attas tetap menunjukkan ketekunan intelektual yang jarang ditemui pada ilmuwan modern. Bahkan ketika dunia akademik bergerak semakin cepat dan digital, ia masih menulis buku dengan pena dan tangannya sendiri, mempertahankan tradisi intelektual yang tenang dan kontemplatif.
Peluncuran salah satu bukunya yang setebal 98 halaman tiga tahun sebelum wafat bahkan dihadiri sekitar 1.500 orang—sebuah gambaran tentang besarnya penghormatan masyarakat akademik terhadap dirinya.
Akhirnya, perjalanan panjang seorang pemikir ini mencapai penutupnya pada Senin, 18 Ramadhan 1447 H atau 8 Maret 2026. Pada hari itu, Syed Muhammad Naquib Al-Attas wafat dalam usia 94 tahun, 6 bulan, dan 4 hari.
Ia meninggalkan empat orang anak: Sharifah Faizah al-Attas, Syed Ali Tawfik al-Attas, Sharifah Shifa’ al-Attas, dan Syed Haydar al-Attas. Istrinya, Latifah Moira Maureen O'Shay, telah lebih dahulu wafat pada 3 Maret 2020.
Warisan Seorang Pemikir
Wafatnya Al-Attas bukan sekadar kehilangan seorang akademisi. Dunia Islam kehilangan seorang pemikir yang dengan tekun menjaga tradisi ilmu di tengah kebisingan zaman modern.
Di abad ke-21 yang dipenuhi teknologi, ia tetap menjadi sosok yang menulis dengan tangan, berpikir dengan ketenangan, dan memandang ilmu sebagai jalan menuju kebenaran.
Warisan intelektualnya—melalui buku, gagasan, dan institusi yang ia bangun—akan terus hidup sebagai khazanah berharga bagi dunia, terutama bagi kaum Muslimin yang mencari kembali hubungan antara ilmu, adab, dan peradaban.
