Muhammadiyah di Era Digital: Meneguhkan Tajdid, Memimpin Peradaban
Oleh: Drs. Ki Anton Eknathon, M.Hum., Alumni Pascasarjana Universitas Gadjah Mada
Lebih dari satu abad sejak didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 18 November 1912, Muhammadiyah tetap berdiri sebagai gerakan Islam yang berwatak tajdid. Sejak awal, tajdid tidak hanya dimaknai sebagai pemurnian akidah dan ibadah, tetapi juga sebagai keberanian membaca perubahan zaman, mengembangkan ilmu pengetahuan, serta menghadirkan solusi atas persoalan umat. Kini, ketika dunia memasuki era transformasi digital yang ditandai dengan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), komputasi awan, big data, dan media sosial, semangat tajdid kembali diuji.
Teknologi digital telah mengubah hampir seluruh sendi kehidupan. Cara manusia belajar, bekerja, berdakwah, berbelanja, hingga berinteraksi mengalami perubahan yang sangat cepat. Perubahan ini menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan yang tidak ringan. Di satu sisi, teknologi mampu memperluas akses ilmu pengetahuan dan pelayanan publik. Di sisi lain, ia juga menjadi ruang penyebaran disinformasi, polarisasi, ujaran kebencian, serta berbagai bentuk degradasi moral yang mengancam kehidupan berbangsa dan beragama.
Dalam situasi seperti ini, Muhammadiyah tidak cukup menjadi pengguna teknologi. Sebagai gerakan Islam Berkemajuan, Muhammadiyah dituntut menjadi pelopor dalam membangun ekosistem digital yang berlandaskan nilai tauhid, keilmuan, dan kemanusiaan. Teknologi harus diposisikan sebagai sarana untuk memajukan kehidupan, bukan sebagai tujuan yang menghilangkan martabat manusia.
Modal yang dimiliki Muhammadiyah sesungguhnya sangat besar. Ribuan sekolah, madrasah, pesantren, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, dan berbagai Amal Usaha Muhammadiyah merupakan kekuatan sosial yang tidak dimiliki banyak organisasi. Jaringan tersebut menjadi fondasi strategis untuk membangun transformasi digital yang terintegrasi. Digitalisasi administrasi, pembelajaran berbasis teknologi, layanan kesehatan digital, hingga penguatan filantropi melalui platform digital perlu terus dikembangkan secara sistematis dan berkelanjutan.
Namun, transformasi digital tidak boleh berhenti pada penggunaan perangkat atau aplikasi. Yang lebih penting adalah perubahan cara berpikir. Pendidikan Muhammadiyah harus melahirkan generasi yang tidak hanya cakap menggunakan teknologi, tetapi juga memiliki kemampuan berpikir kritis, etika digital, kreativitas, serta kepekaan sosial. Kecerdasan buatan dapat membantu proses belajar, tetapi tidak dapat menggantikan peran guru sebagai pendidik karakter dan teladan akhlak. Di sinilah pendidikan Islam Berkemajuan menemukan relevansinya: mengintegrasikan ilmu pengetahuan modern dengan nilai-nilai keislaman.
Dalam bidang dakwah, ruang digital telah menjadi "masjid baru" tempat jutaan orang mencari pengetahuan agama. Sayangnya, ruang ini juga dipenuhi konten yang provokatif, dangkal, bahkan menyesatkan. Karena itu, Muhammadiyah perlu memperkuat dakwah digital yang mencerahkan, berbasis argumentasi ilmiah, santun, dan inklusif. Dakwah yang menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi semesta, bukan sekadar respons emosional terhadap dinamika media sosial.
Transformasi digital juga menuntut penguatan budaya riset. Perguruan tinggi Muhammadiyah harus menjadi pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang responsif terhadap persoalan bangsa. Penelitian mengenai kecerdasan buatan, kesehatan digital, energi terbarukan, pendidikan, ekonomi syariah, dan keberlanjutan lingkungan perlu diarahkan untuk menghasilkan inovasi yang memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Semangat tajdid harus hadir dalam laboratorium, ruang kuliah, rumah sakit, dan pusat-pusat pengabdian masyarakat.
Di atas semua itu, Muhammadiyah perlu terus menjaga jati dirinya sebagai gerakan yang memadukan iman, ilmu, dan amal. Kemajuan teknologi tidak boleh menjauhkan manusia dari nilai-nilai spiritual, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama. Justru di tengah derasnya arus digital, nilai-nilai itulah yang menjadi kompas moral agar kemajuan tidak kehilangan arah.
Al-Qur'an mengingatkan, "Dan katakanlah: Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan" (QS. Taha: 114). Ayat ini menegaskan bahwa Islam adalah agama yang mendorong pencarian ilmu tanpa henti. Akan tetapi, ilmu yang dikehendaki Al-Qur'an bukan sekadar pengetahuan yang meningkatkan kecanggihan teknologi, melainkan ilmu yang melahirkan hikmah, kemaslahatan, dan pengabdian kepada Allah SWT.
Muhammadiyah telah membuktikan bahwa tajdid mampu melahirkan pembaruan dalam pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, dan kehidupan keagamaan. Kini, tantangan baru menanti. Era digital membutuhkan keberanian untuk terus berinovasi tanpa meninggalkan nilai-nilai dasar Islam. Dengan semangat Islam Berkemajuan, Muhammadiyah memiliki peluang besar untuk menjadi pelopor peradaban digital yang berkeadilan, berkeadaban, dan berorientasi pada kemaslahatan umat.
Transformasi digital bukan sekadar perubahan teknologi, melainkan momentum memperkuat dakwah, memperluas pelayanan, dan meneguhkan misi pencerahan. Inilah saatnya Muhammadiyah kembali menunjukkan bahwa tajdid adalah gerak yang hidup: mampu membaca zaman, memimpin perubahan, dan menghadirkan rahmat bagi seluruh alam.