Muhammadiyah Menjadi Besar Karena Kritik yang Faktual dan Konstruktif

Suara Muhammadiyah

1 October 2026

337
Busyro Muqoddas, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah

Busyro Muqoddas, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Sebanyak 94 kader dari berbagai latar belakang berkumpul. Mereka hadir di Kantor Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jl. KH Ahmad Dahlan No. 103 Yogyakarta dengan maksud menyampaikan kritik malalui sebuah tulisan yang kemudian berbuah buku tebal berjudul “Reinventing Muhammadiyah”. Buku ini mencoba mempertanyakan kembali relevansi Muhammadiyah di abad kedua yang bagi sebagian kader mengalami stagnasi dalam banyak bidang kehidupan.

Busyro Muqoddas, Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah dalam amanatnya mengatakan, buku ini, menurutnya, tepat dibaca sebagai sebuah cermin. Cermin yang baik bukan cermin yang membuat seseorang selalu tampak sempurna. Cermin yang baik adalah cermin yang memperlihatkan wajah kita apa adanya. Sehingga yang bersangkutan mengetahui bagian mana yang harus dirawat, diperbaiki, bahkan dibersihkan.

Muhammadiyah membutuhkan cermin semacam itu. Sebab Muhammadiyah adalah gerakan tajdid. Semangat tajdid mengandung keberanian untuk membaca kenyataan secara jernih, termasuk keberanian untuk membaca dirinya sendiri secara jujur. Muhammadiyah tidak boleh hanya mengarahkan tajdid kepada masyarakat di luar dirinya. Tajdid juga harus berani diarahkan kepada Muhammadiyah sendiri.

“Buku ini mengingatkan bahwa tantangan Islam Berkemajuan hari ini bukan semata-mata bagaimana Muhammadiyah memengaruhi masyarakat, tetapi juga bagaimana Muhammadiyah terlebih dahulu menjadi teladan dari nilai-nilai yang diperjuangkannya,” ujar Busyro.

Baginya, akan sulit mengajak masyarakat membangun tata kelola yang baik jika tata kelola internal sendiri belum sepenuhnya transparan. Sulit mengajak bangsa melawan korupsi apabila konflik kepentingan (conflict on interest) di dalam kelembagaan masih ditoleransi. Sulit mengajak masyarakat terbuka terhadap kritik apabila kritik internal justru dipandang sebagai ancaman.

“Buku ini menunjukkan bahwa refleksi kritis harus dipahami sebagai energi pembaruan, bukan sebagai ancaman terhadap keberlangsungan Persyarikatan,” paparnya.

Dalam konteks itulah mantan aktivis IPM tersebut memandang persoalan rangkap jabatan, baik rangkap jabatan publik maupun rangkap jabatan internal, perlu dibaca dengan lebih serius. Rangkap jabatan memang tidak dengan sendirinya merupakan korupsi. Akan tetapi, dalam perspektif etika dan tata Kelola organisasi, rangkap jabatan dapat menciptakan situasi yang rawan terhadap conflict of interest.

Dari situ dapat berkembang penyalahgunaan kewenangan (abuse of power), pengambilan keputusan yang tidak independen, penggunaan akses organisasi untuk kepentingan pribadi atau kelompok, hingga praktik fraud. Karena itu, kita tidak boleh menunggu sampai suatu penyimpangan berubah menjadi perkara hukum. Pencegahan harus dimulai jauh sebelum tindak pidana terjadi.

Permasalahan hari ini menurutnya juga tidak dapat dilepaskan dari praktik nepotisme yang kemudian berkembang menjadi neonepotisme (nepotisme gaya baru). Praktik menyimpang ini kemudian memiliki dua anak kandung, yakni oligarki politik dan oligarki bisnis. Sejak 2014, keduanya memegang peranan penting dalam menentukan arah negara dan nasib 280 juta rakyat Indonesia.

“Jadi, kata kuncinya adalah nepotisme. Sinonimnya koncoisme, boloisme, dan lain sebagainya ini harus kita lawan,” ujarnya.

Lala di mana posisi Islam? Busyro menegaskan bahwa Islam tidak mengenal nepotisme. Merujuk pada ayat inna akromakum indallahi atqokum. Menurutnya, Islam sangat igaliter. Mengusung semangat kebersamaan berbasis nilai dan integritas, bukan loyalitas buta.

Busyro menyampaikan bahwa pendekatan yang dipakai dalam buku setebal 588 halaman tersebut tidak lain adalah pendekatan fenomenologi. Pendekatan ini menurutnya sudah menjadi track record dari penulis-penulis kelas berat, salah satunya adalah Karen Armstrong.

“Dengan ini, saya ingin mengapresiasi para penulis yang telah menggunakan pendekatan yang sangat tepat dalam penulisan buku ini,” ungkap Busyro.

Dihadapan para kader, ia mengingatkan bahwa berjuang di Muhammadiyah harus berbasis kepada tiga hal. Pertama, kerja keras. Kedua, kerja ikhlas. Dan yang ketiga, kerja cerdas. “Muhammadiyah hari ini dan yang akan datang butuh peran dan sumbangan pemikiran dari para kadernya. Bahwa Muhammadiyah butuh waktu untuk mengatur yang demikian ini. Sehingga sudah saatnya Muhammadiyah diberi kritik ke dalam yang faktual,” katanya. Karena menurut hemat Busyro, Muhammadiyah bisa besar seperti sekarang tidak dapat dilepaskan dari kritik-kritik yang konstruktif. (diko)

 

 

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

KUDUS, Suara Muhammadiyah –  Universitas Muhammadiyah Kudus (UMKU)  mengadakan ....

Suara Muhammadiyah

3 August 2026

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah – Sebanyak 221 peserta mengikuti Kejuaraan Daerah (Kejurda) Pencak....

Suara Muhammadiyah

31 August 2026

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - MAARIF Institute resmi menutup rangkaian perayaan Bulan Buya Syafii Ma....

Suara Muhammadiyah

20 June 2026

Berita

SUKOHARJO, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah Pondok, Grogol, Sukoharjo melaksana....

Suara Muhammadiyah

1 April 2024

Berita

METRO, Suara Muhammadiyah - Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Agama Islam....

Suara Muhammadiyah

9 August 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah