Muktamar XVI Tapak Suci dan Api Syiar yang Harus Menyala

Publish

15 June 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
159
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Muktamar XVI Tapak Suci dan Api Syiar yang Harus Menyala

Pada pagi hari tanggal 8 Agustus 2026 mendatang, Lapangan Pancasila Simpang Lima Semarang akan berubah wajah. Ribuan pendekar, kader, pelatih, pimpinan, dan anggota Tapak Suci Putera Muhammadiyah dari berbagai penjuru Indonesia bahkan mancanegara akan berkumpul dalam satu momentum bersejarah. Mereka datang untuk menghadiri Muktamar XVI Tapak Suci Putera Muhammadiyah.

Jumlah anggota yang diproyeksikan hadir mencapai 11.439 orang. Mereka terdiri atas unsur Pimpinan Pusat, Pimpinan Wilayah, Pimpinan Daerah, perwakilan luar negeri, tamu undangan, dan para penggembira.

Dalam ukuran organisasi pencak silat, angka ini bukanlah angka biasa. Bahkan boleh dikatakan, Muktamar XVI merupakan salah satu perhelatan terbesar dalam sejarah Tapak Suci, sekaligus salah satu agenda paling monumental dalam dunia persilatan Indonesia.

Kebanggaan Muhammadiyah

Warga Muhammadiyah tentu pantas berbangga. Tidak banyak organisasi otonom yang mampu menggerakkan puluhan ribu orang dalam satu kegiatan nasional. Tidak banyak pula perguruan pencak silat yang memiliki jaringan organisasi hingga berbagai negara dan mampu menghadirkan perwakilan luar negeri dalam forum permusyawaratan tertingginya.

Pemandangan ribuan anggota Tapak Suci yang memenuhi Simpang Lima Semarang kelak sesungguhnya bukan hanya menunjukkan besarnya sebuah perguruan. Lebih dari itu, ia menunjukkan keberhasilan Muhammadiyah membangun dakwah kultural melalui jalur pencak silat selama lebih dari enam puluh tahun.

Namun di balik kebanggaan itu, ada satu pertanyaan yang terus mengusik pikiran saya.

Sudahkah kebesaran Tapak Suci diketahui publik seluas kebesaran organisasi itu sendiri?

Pertanyaan ini terasa penting karena hingga menjelang Muktamar XVI, gaung publikasi kegiatan akbar tersebut belum terasa sekuat yang semestinya. Padahal dari sisi nilai berita, Muktamar XVI memiliki hampir semua unsur yang dicari media massa.

Ada jumlah peserta yang sangat besar. Ada jaringan internasional. Ada dinamika organisasi. Ada tokoh-tokoh nasional. Ada prestasi olahraga. Ada dakwah budaya. Ada kisah kaderisasi. Ada sejarah panjang yang menarik untuk dituturkan.

Dengan kata lain, Tapak Suci sesungguhnya adalah organisasi yang sangat "seksi" di mata media. Ironisnya, banyak kisah besar itu justru belum tersampaikan secara optimal kepada masyarakat luas.

Sebagai anggota Tapak Suci yang memiliki perhatian terhadap dunia media, kegelisahan itulah yang mendorong saya menulis serial artikel menyambut Muktamar XVI. Tulisan yang sedang Anda baca ini merupakan tulisan keempat.

Insya Allah hingga menjelang Muktamar nanti akan lahir sekitar sepuluh tulisan yang saya persembahkan sebagai bagian kecil dari ikhtiar syiar perguruan.

Publikasi adalah dakwah

Bagi saya, publikasi bukan sekadar urusan menyebarkan informasi. Publikasi adalah bagian dari dakwah.

Muhammadiyah memahami hal ini sejak masa-masa awal berdirinya. Ketika organisasi lain masih berkonsentrasi membangun struktur dan membuat kegiatan, Muhammadiyah sudah memanfaatkan media sebagai alat perjuangan. Pada tahun 1915 telah terbit Soeara Moehammadijah, yang hingga hari ini menjadi salah satu media Islam tertua yang masih eksis.

Para pendahulu Muhammadiyah sadar bahwa gagasan yang baik harus disebarluaskan. Amal yang besar harus dikabarkan. Prestasi harus didokumentasikan. Perjuangan harus dituliskan.

Karena itulah Muhammadiyah tidak hanya membangun sekolah, rumah sakit, panti asuhan, dan masjid. Muhammadiyah juga membangun tradisi literasi, jurnalistik, dan publikasi. Semangat itulah yang semestinya diwarisi oleh Tapak Suci.

Sebagai media dakwah kultural Muhammadiyah, setiap aktivitas Tapak Suci sesungguhnya memiliki nilai syiar. Setiap kejuaraan, setiap pelatihan kader, setiap pengabdian sosial, setiap prestasi atlet, bahkan setiap latihan rutin di ranting-ranting memiliki cerita yang layak dipublikasikan.

Sayangnya, budaya publikasi di lingkungan Tapak Suci masih belum tumbuh sekuat budaya latihan dan kompetisi.

Banyak kegiatan besar berlalu begitu saja tanpa dokumentasi yang memadai. Banyak prestasi hebat hanya berhenti menjadi konsumsi internal. Banyak tokoh inspiratif dari perguruan ini yang tidak dikenal publik karena tidak pernah dituliskan.

Akibatnya, masyarakat sering kali hanya melihat hasil akhirnya, tanpa mengetahui proses panjang yang melahirkan berbagai capaian besar tersebut.

Muktamar XVI sebagai titik balik sadar media

Forum tertinggi organisasi ini perlu melahirkan kesadaran baru bahwa komunikasi dan publikasi bukan lagi pekerjaan sampingan, melainkan bagian strategis dari perjuangan organisasi.

Sudah saatnya Tapak Suci memiliki gerakan sadar publikasi. Sudah saatnya setiap jenjang pimpinan memiliki kemampuan dasar komunikasi organisasi.

Sudah saatnya kader-kader yang memiliki kompetensi jurnalistik, fotografi, videografi, desain grafis, manajemen media sosial, dan komunikasi massa diberi ruang yang memadai untuk berkhidmat. Sudah saatnya publikasi ditempatkan sebagai salah satu instrumen dakwah perguruan.

Di era digital, organisasi yang tidak mampu mengelola informasi akan tertinggal. Sebaliknya, organisasi yang mampu mengemas dan menyebarluaskan narasi perjuangannya akan memperoleh dukungan publik yang lebih luas.

Karena itu, Muktamar XVI bukan hanya momentum memilih pimpinan baru. Muktamar juga harus menjadi momentum membangun budaya komunikasi baru.

Tapak Suci membutuhkan pendekar di gelanggang pencak silat. Namun Tapak Suci juga membutuhkan pendekar-pendekar media yang mampu mengabarkan perjuangan perguruan kepada masyarakat.

Ketika ribuan peserta memenuhi Simpang Lima Semarang nanti, semoga yang menyala bukan hanya lautan seragam merah yang memadati arena pembukaan. Lebih dari itu, semoga menyala pula kesadaran seluruh keluarga besar Tapak Suci tentang pentingnya publikasi.

Sebab di zaman ini, perjuangan tidak hanya dilakukan di gelanggang. Perjuangan juga dilakukan di ruang redaksi, di layar gawai, di media sosial, di portal berita, dan di berbagai saluran komunikasi yang membentuk opini publik.

Jika Tapak Suci ingin semakin mendunia, maka syiarnya harus lebih dahulu membahana. Dan mungkin, Muktamar XVI adalah saat yang tepat untuk menyalakan api itu.

Yudha Kurniawan (Ketua Pimda 02 Tapak Suci Bantul, bekerja di BPMP DIY)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

 Meninggalkan Kebaikan Wujud Cinta pada Persyarikatan Oleh: Amalia Irfani Jika menelusuri sa....

Suara Muhammadiyah

6 September 2023

Wawasan

Peringatan Hari Anti Korupsi Bukan Hanya Sehari Oleh: Royyan Mahmuda Al Arisyi Daulay, S.H.,M.H., ....

Suara Muhammadiyah

10 December 2024

Wawasan

Meluruskan Makna Kehormatan: Kontras Ajaran Islam dan Praktik Honor Killing Oleh: Donny Syofyan, Do....

Suara Muhammadiyah

12 September 2025

Wawasan

Menyingkap Huruf-Huruf Misterius dalam Al-Qur`an (2) Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Buday....

Suara Muhammadiyah

26 April 2024

Wawasan

Dagang, Dakwah, Development Oleh: Khafid Sirotudin Pada pengajian Ahad pagi, 25 Januari 2026, &n....

Suara Muhammadiyah

30 January 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah