Ket: Masjid Nurul Huda merupakan masjid pertama di Bali yang dibangun tahun 1380 atas perintah Raja Majapahit, Prabu Hayam Wuruk, sebagai hadiah buat warga Muslim asal Majapahit yang berada di Kerajaan Gelgel, Klungkung. Masjid itu berada di Kampung Gelgel, sebelah timur Kota Klungkung dan masih berdiri kokoh hingga kini.
Muslim Majapahit dan Muslim Demak di Bali
Suprio Guntoro, Pengurus Forum Pemerhati Sejarah Islam Bali, Penulis Novel dan Sains Religius
Selama ini pemahaman sebagian besar warga Bali, bahwa warga Muslim di Gelgel berasal hanya dari Kerajaan Demak. Saya awalnya juga berpikir demikian. Sumber dari kronik (serat) Sampo Kong mengabarkan bahwa menjelang terjadi perang Demak vs Majapahit, Sunan Ampel sempat mengirim utusan ke Bali (Gelgel) dan Blambangan untuk menyampaikan pesan bahwa perang antara pasukan Girindra Wardana (pengkudeta Brawijaya V dan memindahkan ibu kota Majapahit ke Daha) melawan pasukan Demak bukanlah perang agama (Hindu vs Islam). Perang tersebut lebih pada perebutan legitimasi atas pewaris Majapahit, mengingat Raden Patah, Raja Demak, adalah putra Brawijaya V dari selirnya asal China, sedangkan Girindra Wardana juga putra Brawijaya V dari selir yang lain. Dalam perang pertama, sebagian prajurit Majapahit adalah Muslim. Bahkan Senopati Majapahit (Raden Husein) adalah murid Sunan Ampel. Sementara Senopati Demak adalah imam Masjid Demak, Sunan Ngundung. Setelah Sunan Ngundung tewas, posisinya sebagai senopati diganti oleh putranya, yakni Sunan Kudus, yang tidak lain juga menantu Raden Husein.
Upaya Sunan Ampel untuk mengkanalisasi konflik memang berhasil, di mana Bali dan Blambangan tidak mau terlibat dalam perang tersebut. Selanjutnya utusan dari Demak itu lantas oleh Raja Gelgel (Dalem Watu Renggong) diminta tetap tinggal di Bali dan diberi tempat tinggal di dekat istana.
Namun sejarawan dari Universitas Udayana, Prof. Dr. Agung Bagus Wirawan, menyatakan bahwa Islam yang pertama masuk ke Bali bukan dari Demak, tetapi jauh sebelum Demak berdiri. Mereka berasal dari Kerajaan Majapahit di era Raja Hayam Wuruk (empat generasi di atas Brawijaya V). Jadi, di era itu di pusat Kerajaan Majapahit sudah ada pemeluk Islam, meski masih terbatas. Hal ini bisa dibuktikan dengan adanya kompleks makam Troloyo yang dibangun di era Hayam Wuruk, di mana pada epitaf (tulisan di batu nisan) terdapat nama-nama Muslim.
Pada saat itu Bali masih berada di bawah Majapahit dengan ibu kota di Gelgel. Sebagai adipati adalah Dalem Ketut Ngelesir. Pada tahun 1380, Prabu Hayam Wuruk mengadakan konferensi kerajaan-kerajaan vasal (kerajaan taklukan). Dalem Ketut Ngelesir hadir ke Istana Majapahit. Pada saat Dalem Ngelesir pulang ke Bali, Prabu Hayam Wuruk memberi pengawal 40 orang yang semuanya Muslim. Hal ini mengundang pertanyaan mendasar bagi para sejarawan, mengapa yang mengawal Ngelesir semuanya orang Muslim. Padahal saat itu jumlah komunitas Muslim di Keraton Majapahit masih sangat terbatas. Sebuah teka-teki yang belum terjawab oleh para pakar sejarah.
Namun dalam “Jangka Sabdo Palon”, dijelaskan bahwa meskipun umat Islam di Majapahit saat itu masih amat terbatas, tetapi para pemuka Islam memiliki kedekatan yang kuat dengan Hayam Wuruk. Bisa jadi dipilihnya para pengawal yang Muslim itu atas permintaan para ulama/tokoh Muslim, dengan maksud untuk memperluas penyebaran Islam.
Para pengiring itu lantas menjadi abdi dalem kerajaan dan diberikan tempat tinggal di dekat istana, yang saat ini dikenal sebagai Kampung Gelgel. Banyak di antara mereka mengawini gadis Bali yang kemudian menjadi mualaf. Atas dukungan Dalem Ketut Ngelesir, mereka mendirikan masjid yang dikenal sebagai Masjid Nurul Huda, merupakan masjid pertama di Bali, atas dukungan kebijakan dan dana dari Hayam Wuruk. Hingga kini masjid tersebut masih kokoh berdiri dan mengalami beberapa kali renovasi.
Antara warga Muslim asal Majapahit dan asal Demak bercampur baur sehingga tidak bisa lagi dibedakan. Meski di era Raja Watu Renggong Bali memisahkan diri dari Majapahit (akibat Perang Paregreg), loyalitas umat Islam kepada Kerajaan Gelgel tetap tinggi. Mereka juga aktif menjaga kedaulatan kerajaan, dan bersama-sama umat Hindu ikut berjuang melawan kolonial.
Karena itu warga Muslim Gelgel merasa sebagai “Krama Bali Selam”, dan sejak dulu pun pihak kerajaan menyebutnya sebagai “Nyama Selam” (Saudara Muslim). Mengingat jumlah mereka semakin banyak, maka di era kemerdekaan sebagian warga Muslim Gelgel pindah ke arah timur, yakni di Kampung Kusamba. Di desa ini mereka bercampur baur dengan warga Muslim asal Bugis. Karena jumlah mereka di Kusamba terus berkembang, maka sebagian lantas berpindah menyeberang ke Pulau Nusa Penida, terutama di Kampung Sampalan dan Toyapakeh.

