Netanyaho, Genghis Khan dan Ilusi Kemenangan
Oleh: M. Saifudin, Pengasuh Pondok Modern Muhammadiyah Sragen
Di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang terus memanas, setiap pernyataan elite politik global tidak lagi sekadar retorika, tetapi cermin dari cara pandang terhadap kekuasaan, moral dan peradaban.
"Yesus Kristus tidak memiliki keunggulan atas Genghis Khan. Karena jika Anda cukup kuat, cukup kejam, cukup berkuasa, kejahatan akan mengalahkan kebaikan. Agresi akan mengalahkan moderasi." Demikian isi kutipan pidato PM. Israel Binyamin Netanyaho yang disiarkan televisi pada Kamis (19/3/2026), dan dilansir Anadolu. Banjir kritik dan hujatan tak bisa dihindari, namun Netanyaho tetap bersikap keras dengan ”pede”nya, ia berkilah tidak bermaksud menyinggung dan merendahkan siapapun.
Pernyataan ini memicu perdebatan, bukan sekadar membandingkan figur religius dengan penakluk wilayah, tetapi karena mengandung asumsi bahwa kekuatan brutalitas adalah faktor penentu kemenagan dalam sejarah.
Lantas apa motif sebenarnya dari ungkapan Netanyao itu? Padahal secara historis, latarbelakang dan konteks, antara Netanyaho dengan Genghis Khan, tidak pernah ada hubungannya. Namun, pernyataan itu memberi kesan bahwa dirinya mengidolakan pemimpin (Khan) dan pendiri Kekaisaran Mongol. Maka, untuk memahami pola pikir ini, kita perlu melihat figur Genghis Khan yang ia singgung.
Dari Temujin ke Penguasa Mongol
Genghis Khan, yang nama kecilnya Temujin (1206–1227 M), adalah pendiri Kekaisaran Mongol. Ia berasal dari keluarga bangsawan, namun masa kecilnya penuh penderitaan setelah ayahnya, Yisugei, diracun. Temujin dan keluarganya diasingkan dan bertahan hidup dalam kondisi keras di padang stepa, yang membentuk ketangguhan dan karakter kepemimpinannya.
Seiring waktu, Temujin menunjukkan kemampuan militer dan kepemimpinan yang luar biasa. Ia membangun kekuatan melalui aliansi, strategi, dan kekerasan terhadap musuh, hingga berhasil menyatukan berbagai suku Mongol seperti Tatar, Kereyid, Naiman, dan Merkid. Pada 1206, dalam kurultai di Sungai Kerulen, ia diangkat sebagai Genghis Khan “penguasa semesta” yang menandai berdirinya Kekaisaran Mongol.
Sebagai pemimpin, ia melakukan reformasi administratif dan militer, merombak struktur pasukan agar tidak berbasis kesukuan, serta memperkuat komunikasi dan tata kelola kekaisaran. Pasukan Mongol dikenal karena mobilitas tinggi, keahlian berkuda dan memanah, serta kemampuan beradaptasi dengan taktik musuh.
Ekspansi Mongol berlangsung agresif dan brutal. Serangan ke Cina dan Asia Barat diwarnai penghancuran kota-kota besar seperti Beijing, Bukhara, dan Samarkand, disertai pembantaian massal dan teror psikologis yang luas. Kampanye ini menjadikan Mongol sebagai kekuatan yang sangat ditakuti dalam sejarah.
Namun, di balik kebrutalan tersebut, Genghis Khan juga menerapkan kebijakan yang mendukung stabilitas, seperti toleransi beragama, perlindungan perdagangan, dan mempertahankan penguasa lokal selama tunduk pada Mongol. Paradoks ini menunjukkan bahwa kekuasaan yang ia bangun tidak hanya bertumpu pada kekerasan, tetapi juga pada kemampuan mengelola imperium.
Genghis Khan wafat pada 1227 M dalam sebuah ekspedisi militer. Warisan yang ditinggalkannya menjadi fondasi bagi salah satu kekaisaran terbesar dalam sejarah, yang pada puncaknya menguasai hampir seperlima dunia.
Model kekuasaan yang bertumpu pada ekspansi brutal, disiplin militer, dan teror psikologis inilah yang menjadikan Genghis Khan bukan sekadar tokoh sejarah, tetapi simbol pola kekuasaan berbasis dominasi. (Mark Cartwright, “Genghis Khan,” World History Encyclopedia, 2022, terj. Christo Sylvano).
Dalam konteks inilah, para sejarawan mencoba membaca kembali sosok Genghis Khan, tidak hanya sebagai penakluk, tetapi juga sebagai fenomena kompleks dan paradoksal.
Jack Weatherford menyoroti sisi kelebihan Genghis Khan, ia sangat detail dalam hal administratif dan kontribusi sistemik di tubuh kekaisaran, tetapi tetap menekankan dominasi militer sebagai fondasi kekuasaannya. (Jack Weatherford, Genghis Khan and the Making of the Modern World, hlm. 88–95)
Namun, dibalik kesuksesannya menaklukan dunia, sisi gelap dan brutalnya tidak bisa disembunyikan. Genghis Khan tampak paradoksal, jenius strategi, tetapi juga arsitek ketakutan global. Ia menaklukkan dunia, namun dengan harga kemanusiaan yang sangat mahal.
Pandangan ini sejalan dengan catatan sejarawan klasik yang menyaksikan langsung dampak invasi Mongol terhadap dunia Islam.
Sebagaimana disebutkan oleh para sejarawan. Ibn Katsir (774H/ 1373M) menyebutnya sebagai penguasa yang paling kejam sepanjang sejarah pasca peradaban, sebagaimana pernyataannya:
“tidak pernah terlihat dalam Islam, dan tidak pula pada umat-umat lainnya, seperti apa yang dilakukan oleh bangsa Tatar (Mongol), mereka memasuki negeri-negeri, lalu membunuh manusia, menghancurkan permukiman, dan menghalalkan (melanggar) kehormatan-kehormatan.” (Ibn Katsir, Al-Bidayah wa an-Nihayah, hlm. 312–314)
Genghis Khan meninggal pada 1227 M terjadi di tengah ekspedisi militer dalam kondisi yang tidak sepenuhnya jelas. Setelah itu, imperium Mongol terpecah menjadi berbagai khanat, dilanda konflik internal, dan perlahan kehilangan kekuatan. Apa yang tampak kokoh ternyata rapuh dari dalam.
Ekspansi yang tidak diimbangi dengan penguatan internal, baik menejemen dan moral, menjadikan kekuasaan besar itu tak berdaya untuk bertahan dalam jangka panjang.
Bertold Spuler menjelaskan bahwa kekaisaran Mongol terlalu bergantung pada ekspansi terus-menerus dan kurang penguatan internal. Sehingga, terlihat kekuasaan yang tampak hebat, namun kondisi internalnya sangat rapuh. (Bertold Spuler, Die Mongolen in Iran, hlm. 65–70)
Tokoh sejarawan muslim, Ahmad Shalabi menggambarkan ekspansi Mongol adalah awal dari bencana peradaban. Bukti bahwa kekuatan tanpa nilai hanya melahirkan kehancuran. (Ahmad Shalabi, At-Tarikh al-Islami, hlm. 102–107).
Dalam teori kehancuran peradaban, Ibn Khaldun (w. 808 H / 1406 M) menyimpulkan bahwa kekuasaan yang tidak dibangun di atas keadilan dan solidaritas (‘ashabiyah) akan cepat menuju kehancuran dan indikasinya adalah lahirnya Tirani, dalam teorinya bahwa Tirani adalah fase awal runtuhnya peradaban. (Ibn Khaldun, Al-Muqaddimah, hlm. 245–250).
Ahmad Amin memberi catatan, bahwa kemajuan peradaban tidak bisa dipisahkan dari nilai moral. Kekuatan tanpa moralitas tidak cukup menopang keberlanjutan. (Ahmad Amin, Fajr al-Islam, hlm. 178–182).
Hukum sejarah ini menunjukkan bahwa kekuatan yang bertumpu pada kekerasan semata hanya menghasilkan kemenangan jangka pendek, bahkan menyimpan benih kehancuran di dalamnya.
Jauh sebelumnya, Al-Qur’an juga menegaskan hukum ini,
“Dan katakanlah: Telah datang kebenaran dan lenyaplah kebatilan. Sesungguhnya kebatilan itu pasti lenyap.” (QS. Al-Isra: 81)
Demikian pula Nabi Muhammad Shallallahu ’alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memberi tangguh kepada orang zalim, tetapi tidak akan membiarkannya selamanya.” (HR. Muttafaq ‘alaih)
Ketika Pemimpin Meniru Figur Kekerasan
Di tengah panasnya eskalasi di Timur Tengah, Benjamin Netanyaho menyinggung perbandingan antara kepemimpinan Nabi Isa as dan Genghis Khan. Pernyataan ini berpotensi menceriman bahwa dirinya sedang mengikuti pola kepemimpinan sosok yang dipuji, asumsi ini diperkuat oleh teori psikologi modeling “Manusia cenderung meniru dan mengidentifikasi diri dengan figur yang mereka kagumi. Pujian terhadap figur tertentu sering mencerminkan proses internalisasi nilai dan perilaku tokoh tersebut.” (Albert Bandura, Social Learning Theory, hlm. 22–45).
Dalam konteks ini, pujian terhadap figur Genghis Khan tidak sekadar dibaca seabagai kekaguman historis, tetapi berpotensi besar menjadi legitimasi dan inspiraisi atas sikap, penggunaan kekuatan, agresi, dan dominasi dalam praktik politik kontemporer.
Genghis Khan adalah salah satu representasi dari sekian dinamika peradaban-peradaban lampau. Kemajuan dan kejayaan mungkin bisa diraih melalui dominasi kekerasan, kekejaman dan kelaliman. Dan tidak jarang, kekuasaan yang dibangun dengan darah dan ketakutan berakhir pada kejatuhan tragis. Ibn Khaldun dalam Mukadimah menyimpulkan bahwa ”kepemimpinan berbasis ketakutan hanya meninggalkan “tinta hitam” dalam sejarah manusia. Ia mungkin membangun kekuasaan, tetapi tidak pernah membangun peradaban, melainkan awal dari proses kehancuran.”
Dalam kerangka ini, pernyataan Netanyaho tidak semata-mata dibaca sebagai perbandingan historis, melainkan sebagai cermi dari cara pandangnya bahwa kekuatan berbasis brutalitas dapat dibenarkan dalam mencapai tujuan politik kekuasaan.
Sejarah telah berulang kali menunjukkan bahwa kekuasaan yang mengabaikan moral bisa saja meraih kemenangan dalam waktu singkat, tetapi sering kali berujung pada kehancuran.
