KLATEN, Suara Muhammadiyah - Bulan Ramadhan segera berakhir. Karenanya, Sukamta, Rektor Universitas Muhammadiyah Klaten (UMKLA) mengajak agar semakin aktif berinteraksi dengan Al-Qur'an.
"Al-Qur'an itu bukan sejarah, tetapi Al-Qur'an adalah panduan hidup," ujarnya, Senin (16/3) saat Pengajian Buka Bersama Keluarga Besar UMKLA di Gedung A Lantai 2 UMKLA.
Al-Qur'an diturunkan di bulan Ramadhan. Dasarnya jelas sekali, Qs al-Baqarah ayat 185. Di sinilah tradisi membaca Al-Qur'an menemukan titik urgensinya.
"Besok di akhirat Al-Qur'an berhadapan dengan siapa yang bersama dengan kita semua," tutur Sukamta.
Karena itu, mengingat Ramadhan yang akan usai pada tahun 1447 H ini, Sukamta mengajak untuk sama-sama mendaras Al-Qur'an. Hal ini amat penting sekali dalam kehidupan sehari-hari.
Sedikit demi sedikit, tak mengapa. Yang paling utamanya, adalah mampu menemukan jantung pemaknaan mendalam dari yang dibacanya itu.
"Waktunya kita untuk kembali me-refresh ketika Al-Qur'an sebagai panduan hidup," tegasnya.
Yang lebih menarik, kata Sukamta, Al-Qur'an diturunkan di malam Lailatul Qadar. Apa itu? "Malam, malam ketetapan atau malam kemuliaan," sebutnya.
Para malaikat turun ke bumi dipimpin oleh malaikat Jibril. "Di situ disebut dengan Ar-Ruh, Ruhul Quddus, atas izin Allah mengatur semua urusan manusia," bebernya.
Di saat yang sama, juga membagi rezeki, menetapkan takdir setahun ke depan. "Itulah malam Lailatul Qadar," tandasnya.
Untuk mendapatkannya, beber Sukamta, senantiasa menghidupkan malam, khususnya di malam-malam akhir bulan Ramadhan.
"Jadi orang tokoh-tokoh muslim yang dimuliakan di dunia dan oleh Allah itu tidak pernah dia absen dari salat malam," tegasnya.
Berikutnya, menjadi orang yang mudah memaafkan. Hidupnya gemar membuka ruang dialog, untuk mencari titik solusi konstruktif di tengah masalah yang terjadi. Bukan saling menyalahkan satu sama lain.
"Orang yang memaafkan orang lain dengan ikhlas, itulah orang yang sabar. Dan orang yang sabar, dia pantas mendapatkan Lailatul Qadar," tekannya. (Cris)
