BATAM, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Nongsa menyelenggarakan Shalat Idul Adha 1447 Hijriah di Lapangan Sekolah Muhammadiyah Kabil, Kecamatan Nongsa, Kota Batam, Rabu (27/5).
Adapun yang bertugas sebagai Imam dan Khatib Ustadz Abdur Rauf, Ketua Korps Mubaligh Muhammadiyah Kota Batam dan sekaligus Dosen Tetap Prodi Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir, STIQ Kepulauan Riau.
Dalam khutbahnya yang bertajuk "Makna Ibadah Haji dan Kurban bagi Kehidupan Sosial", Rauf mengajak umat Islam meneladani perjuangan Nabi Ibrahim AS dan Nabi Ismail AS dalam menegakkan nilai-nilai ketauhidan, pengorbanan, serta kepedulian sosial di tengah kehidupan masyarakat modern yang penuh tantangan.
Ia menjelaskan bahwa ibadah haji dan kurban tidak hanya memiliki dimensi spiritual untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT semata, tetapi juga mengandung pesan sosial yang kuat, terutama dalam membangun solidaritas dan kepedulian terhadap sesama.
"Kurban memiliki fungsi sosial menjadi jembatan integrasi dan solidaritas masyarakat dengan membagikan daging qurban kepada orang-orang yang berhak, seperti yang disebutkan dalam Al-Qur’an surat Al-Hajj/ 22: 28: "...dan berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara dan fakir", ungkapnya dalam khutbah.
Selain itu, jamaah juga diajak melakukan refleksi diri melalui semangat pengorbanan yang dicontohkan Nabi Ibrahim AS. Menurutnya, "Ismail-Ismail" dalam kehidupan modern dapat berupa jabatan, harta, hawa nafsu, dan lain-lain yang indikasinya adalah segala sesuatu yang melemahkan keimanan.
"Segala sesuatu yang membuat kita lebih mementingkan diri pribadi di atas kepentingan yang lebih besar, setiap sesuatu yang membuat kita tidak dapat mendengarkan ajaran Allah SWT, dan sebagainya," katanya.
Harus diakui bahwa secara fitrah, manusia mempunyai kesenangan untuk mencintai atau menyukai sesuatu. Dalam QS. At-Taubah/ 9: 24 dan QS. Ali-‘Imran/ 3: 14 disebutkan bahwa ada delapan hal yang lazim dicintai manusia, yaitu: orang tua, anak, saudara, istri/ suami, karib kerabat, harta, perniagaan (pekerjaan, jabatan), dan tempat tinggal.
Khatib menegaskan, kecintaan terhadap materi tersebut kalau tidak diletakkan pada kecintaan yang wajar, maka akan menyebabkan sesuatu yang dicintai itu menjadi sekutu-sekutu Allah dan akan menyeret manusia kepada kemusyrikan modern, yang menjadikan manusia lebih berorientasi kepada materi daripada Allah SwT.
"Ketika ini telah terjadi maka laknat Allah akan ditimpakan dalam wujud penyakit sosial, seperti perjudian, korupsi, prostitusi, dan perbuatan-perbuatan kriminal lainnya," ujarnya.
Oleh sebab itu, dalam upaya menggapai ketakwaan kepada Allah SWT, Rauf mengajak untuk melestarikan semangat berkurban.
"Itu sebagai modal dasar dalam menciptakan masyarakat yang sejahtera, penuh limpahan rahmat, ridha, dan maghfirah-Nya", tuturnya.
Dalam khutbahnya, ia juga menyinggung pentingnya menjaga persatuan umat Islam serta membangun semangat kebersamaan sebagaimana tergambar dalam pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci.
"Momentum Idul Adha, harus menjadi sarana memperkuat ukhuwah Islamiyah dan menumbuhkan sikap kepedulian sosial," tegasnya.

