SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Pengajian Ahad Pagi Muhammadiyah Balecatur, Kapanewon Gamping, Sleman, mengajak jamaah memaknai kemerdekaan secara lebih utuh, tidak hanya terbebas secara fisik, tetapi juga memiliki kemerdekaan mental yang berlandaskan iman, ilmu, dan amal.
Pesan tersebut disampaikan Dosen Universitas Muhammadiyah Magelang, Anang Amiruddin Nugroho.
Anang mengatakan, kemerdekaan tidak dapat dimaknai sebagai kebebasan tanpa batas. Seseorang tetap perlu memiliki kendali diri agar kebebasan yang dimiliki tidak berubah menjadi keterikatan pada hawa nafsu.
“Menikmati kemerdekaan pada hakikatnya harus merdeka secara fisik dan mental. Merdeka bukan berarti sepenuhnya bebas, karena tetap ada batasan yang harus diketahui,” katanya, di Aula Kalurahan Balecatur, Gamping, Sleman, Ahad (9/8).
Menurutnya, kebebasan yang melampaui batas justru menunjukkan bahwa seseorang belum sepenuhnya merdeka.
“Ketika keputusan dan tindakan dikendalikan hawa nafsu, manusia masih berada dalam bentuk keterpasungan yang lain,” ungkapnya.
Anang menekankan, kemerdekaan seharusnya menjadi kecakapan diri dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan. Setiap pilihan perlu dilandasi iman, diperkuat ilmu, kemudian diwujudkan melalui amal yang memberikan manfaat.
“Kalau kemerdekaan hanya dimaknai sebagai bebas melakukan apa saja hingga melampaui batas, sebenarnya kita belum sepenuhnya merdeka karena masih terpasung oleh hawa nafsu,” ujarnya.
Ia menambahkan, kemerdekaan juga perlu dipahami sebagai bentuk rasa syukur atas kesempatan yang diberikan Allah untuk menjalani kehidupan dan berbuat kebaikan.
“Kemerdekaan pada hakikatnya merupakan refleksi kebersyukuran seorang hamba terhadap kesempatan yang diberikan oleh Rabb-Nya,” katanya.
Melalui pengajian tersebut, jamaah diajak menjadikan momentum kemerdekaan sebagai ruang refleksi untuk memperkuat pengendalian diri, memperluas pengetahuan, meningkatkan kualitas amal, serta menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar.

