YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Salah diagnosis tuberkulosis (TB) berisiko menimbulkan konsekuensi serius, mulai dari keterlambatan terapi hingga meningkatnya angka kesakitan dan kematian pasien. Oleh karena itu, pembacaan radiografi toraks yang cermat dan sistematis dinilai krusial untuk mencegah kesalahan penanganan.
Penegasan tersebut disampaikan Prof. Dr. dr. Ana Majdawati, M.Sc., Sp.Rad(K) TR dalam Orasi Ilmiah Guru Besar pada Sidang Terbuka Senat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (24/1).
Ana menekankan bahwa kemampuan membaca pola radiografi toraks sangat penting untuk membedakan Multidrug-Resistant Tuberculosis (MDR-TB) dan infeksi Nontuberculous Mycobacteria (NTM) yang kerap menyerupai TB, baik secara klinis maupun radiologis.
Dalam orasinya, ia menyoroti masih tingginya beban TB di Indonesia serta tantangan diagnosis yang semakin kompleks. MDR-TB, menurutnya, memerlukan durasi pengobatan yang lebih lama, bersifat lebih toksik, serta membutuhkan biaya yang jauh lebih besar dibandingkan TB sensitif obat.
Sementara itu, infeksi NTM sering kali luput dikenali karena gejala klinis dan gambaran radiologinya menyerupai TB. Kondisi ini berpotensi menyebabkan kesalahan terapi yang berdampak serius bagi pasien.
“Pasien sering datang dengan keluhan batuk lama dan gambaran radiografi toraks yang mengarah ke TB, lalu langsung diberikan terapi. Ketika respons klinis tidak sesuai harapan, di situlah risiko besar mulai muncul,” ujar Ana.
Menurutnya, risiko terbesar terjadi pada tahap awal diagnosis, yakni dalam menentukan apakah pasien mengalami TB sensitif obat, MDR-TB, atau infeksi NTM. Kesalahan pada tahap ini, tegasnya, dapat berdampak fatal.
Hasil penelitian Ana menegaskan bahwa radiografi toraks tidak dimaksudkan untuk menggantikan pemeriksaan laboratorium, melainkan berperan sebagai panduan awal yang membantu pengambilan keputusan klinis secara lebih cepat dan terarah.
“Radiografi toraks merupakan pemeriksaan yang sederhana dan paling luas digunakan. Nilainya akan sangat besar apabila dibaca sebagai bahasa klinis yang menuntun pengambilan keputusan, bukan sekadar menyatakan ada atau tidaknya kelainan,” jelasnya.
Hal ini menjadi semakin penting, terutama di fasilitas layanan kesehatan dengan keterbatasan akses terhadap pemeriksaan molekuler maupun kultur.
Guru Besar UMY Bidang Ilmu Radiologi Subspesialis Radiologi Toraks ini juga menekankan bahwa keterlambatan atau kesalahan diagnosis tidak hanya memperpanjang penderitaan pasien, tetapi turut meningkatkan risiko penularan serta beban biaya bagi sistem kesehatan.
“Setiap keputusan yang lebih cepat dan tepat berarti peluang kesembuhan yang lebih besar dan risiko yang lebih kecil bagi pasien,” imbuhnya.
Untuk meningkatkan keselamatan pasien, Ana mendorong penguatan standardisasi pelaporan radiografi toraks agar pembacaan menjadi lebih konsisten. Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi yang lebih erat antara klinisi, radiolog, dan laboratorium, serta pemanfaatan teknologi seperti digitalisasi dan kecerdasan buatan secara bertanggung jawab sebagai alat bantu pengambilan keputusan klinis. (ID)

