YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Keberadaan Al-Qur'an menjadi sangat substansial dalam kehidupan. "Semuanya ada," tegas Zulkarnain.
Kandungannya begitu komprehensif, demikian tambahnya, saat memberikan pengajian Nuzulul Qur'an di Suara Muhammadiyah, Sabtu (7/3).
Pokok pangkal semua itu, karena Al-Qur'an telah terjamin kualitas dan kredibilitasnya sampai hari kiamat. "Qur'an ini Allah jamin kebenarannya," tekannya.
Yang kemudian menjadi tantangan saat ini, bisakah Al-Qur'an tersemai dalam jiwa umat Islam?
Pendakwah kontemporer itu mengemukakan, bisa, tetapi tidak bisa sekali jadi. "Harus ada kesungguhan dari kita sendiri," bebernya.
Di sinilah relevansi dari menuzululqur'ankan dalam diri sendiri, menukil pandangan Deni Asy'ari, Direktur Utama Suara Muhammadiyah.
Tidak bisa tidak. Memang demikianlah realitanya. Tanpa ada kesungguhan, musykil Al-Qur'an merasuk dalam diri setiap personal umat Islam.
"Maka, kita ini harus memanfaatkan bulan Ramadhan dengan sebaik-baiknya," tegas lagi Zulkarnain.
Menurutnya, dengan mengombinasikan Al-Qur'an dalam seluruh denyut nadi aktivitas seismik keseharian, niscaya akan terjadi perbedaan menyolok, salah satunya terjadi kedamaian dan ketenangan.
"Hidup manusia akan terasa indah dengan Al-Quran bila dia berusaha untuk husnuzon dalam setiap keadaan. Apalagi kepada Allah, berprasangka baik," bebernya.
Pada saat yang sama, terciptanya keseimbangan (tawazun) yang harmonis antara aspek ruhani, jasmani, dan lingkungan alam.
"Manusia kalau tanpa keseimbangan, pincang. Dunia kita kejar terus, akhiratnya nggak ada, nggak ada artinya. Akhirat kita kejar terus, dunianya nggak ada, jadi pengemis. Yang ada apa? Seimbang," ulasnya.
Karena itu maka, Al-Qur'an tidak cukup hanya dibaca atau dilantunkan semata. Lebih dari itu, ia harus dipahami, direnungkan, dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari. (Cris)

