YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Kebutuhan dokter spesialis di Indonesia hingga kini masih menjadi persoalan serius, terutama terkait keterbatasan jumlah dan belum meratanya distribusi tenaga medis di berbagai daerah. Kekurangan dokter spesialis tidak hanya berdampak pada kualitas layanan kesehatan, tetapi juga memperlebar kesenjangan akses pelayanan antara wilayah perkotaan dan daerah.
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menjadi salah satu perguruan tinggi yang merespons persoalan tersebut secara konkret. UMY baru saja mengantongi sembilan Surat Keputusan (SK) pendirian Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) sekaligus. Sembilan program tersebut meliputi Kedokteran Keluarga Layanan Primer, Jantung dan Pembuluh Darah, Radiologi, Ilmu Kesehatan Anak, Obstetri dan Ginekologi, Psikiatri, Patologi Klinik, Anestesiologi dan Terapi Intensif, serta Ortopedi dan Traumatologi. Sementara itu, satu SK pendirian PPDS Bedah telah diperoleh UMY sejak September 2025.
Sekretaris Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Dr. Bachtiar Dwi Kurniawan, S.Fil.I., MPA., menegaskan bahwa pembukaan program-program tersebut merupakan bentuk komitmen UMY dalam mendukung penguatan sistem kesehatan nasional.
“UMY berusaha ikut mewujudkan bangsa yang kuat dan sehat. Kita mengetahui bahwa Indonesia hingga saat ini masih mengalami kekurangan dokter spesialis. Ketika pemerintah membuka ruang bagi seluruh elemen bangsa untuk terlibat dalam pemenuhan kebutuhan tersebut, UMY tidak ragu untuk mengambil peran,” ujar Bachtiar saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (21/1).
Sebagai tindak lanjut atas diterbitkannya SK pendirian PPDS, UMY akan segera melakukan sosialisasi dan peluncuran resmi program tersebut. Agenda kick off direncanakan berlangsung pada 13 Februari 2026.
“Kami akan melakukan peluncuran secara terbuka. Total ada sepuluh program PPDS yang akan dikick off. Setelah itu, proses administrasi dan pendaftaran akan segera kami siapkan agar masyarakat dapat mendaftar,” jelasnya.
Dalam menjamin mutu pendidikan bagi calon residen, UMY memastikan kesiapan fasilitas dan sarana penunjang telah dipenuhi sebelum izin pendirian diajukan. Rumah sakit pendidikan menjadi elemen kunci dalam pelaksanaan PPDS, baik untuk praktik klinik maupun pembentukan kompetensi profesional dokter spesialis.
“Sebelum mengajukan izin PPDS, kami memastikan rumah sakit pendidikan sudah siap, termasuk fasilitas tempat tinggal residen, ruang profesional, serta kantor pendukung. Saat proses visitasi dilakukan, kami memang sudah siap dari sisi infrastruktur, fasilitas, dan sarana medis,” papar Bachtiar.
Terkait pembiayaan, ia menjelaskan bahwa biaya pendidikan PPDS bersifat variatif, menyesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan masing-masing program studi. Meski demikian, UMY berkomitmen untuk menjaga keseimbangan antara kualitas pendidikan dan keterjangkauan biaya.
“Biayanya memang berbeda-beda karena setiap program memiliki kebutuhan yang tidak sama. Namun komitmen UMY adalah menyediakan pendidikan spesialis yang berkualitas dan tetap terjangkau,” tegasnya.
Melalui pembukaan sepuluh program PPDS tersebut, UMY berharap dapat berkontribusi nyata dalam percepatan pemenuhan dan pemerataan dokter spesialis di Indonesia. Lebih dari itu, kehadiran PPDS UMY juga diharapkan memperkuat peran Muhammadiyah dalam menyehatkan kehidupan bangsa. (NF)

