Perumpamaan Ramadan Adalah Seperti Matahari

Publish

25 March 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
82
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Perumpamaan Ramadan Adalah Seperti Matahari

Oleh: Roehan Usman, Pengasuh PP Ibnul Qoyyim, Anggota Muhammadiyah Patuk Gunungkidul

Ketika matahari terbit dari timur, cahayanya menerangi dan menghangatkan, serta menggugah semua makhluk untuk mengawali aktivitasnya dalam mencari energi bagi keberlanjutan hidup.

Demikian pula ketika Ramadhan tiba. Geliat semarak ibadah menyambutnya dari tiap-tiap rumah kaum mukminin, masjid-masjid, lembaga pendidikan, hingga pasar tradisional maupun modern. Bahkan, pasar Ramadan pun bergema. Aktivitas ibadah sunah dikerjakan, dan yang wajib dijaga, baik yang bersifat individu maupun berjamaah.

Seperti matahari yang terbit perlahan namun pasti menyingkap kegelapan, begitu pula Ramadan. Diri seakan terjeda, namun justru kesadaran menjadi tergugah. Ramadan menghadirkan suasana yang berbeda: hati mudah tersentuh, panjatan doa lebih khusyuk, lantunan ayat-ayat ilahi semakin sering membasahi bibir, serta kepedulian dan silaturahmi terjalin semakin intens.

Ketika matahari terbenam, kehangatan serta cahayanya tidak serta-merta hilang. Rembulan menjadi cermin pantulan cahayanya, bahkan bintang-bintang turut memberikan andil dalam menambah keindahan gelapnya malam.

Karena itu, bukan berarti dengan berlalunya Ramadhan, gema kesadaran hati yang tergugah harus hilang. Hati tidak boleh mengeras, doa tidak boleh menjadi asing, bibir tidak boleh kering dari lantunan ayat-ayat, serta kepedulian dan silaturahmi tidak boleh terhenti. Semua itu harus tetap terjalani, meskipun dalam bentuk yang bertransformasi.

Bukankah justru pada malam hari Allah berfirman: “Dan pada sebagian malam, lakukanlah salat tahajud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (QS. Al-Isra’: 79)

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS. Al-Muzzammil: 6)

“Dan pada sebagian malam, maka sujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada bagian yang panjang di malam hari.” (QS. Al-Insan: 26)

Berdasarkan perumpamaan tersebut, setelah Ramadhan berlalu—yakni pada sebelas bulan lainnya—merupakan waktu untuk mempertahankan kesadaran hati, kekhusyukan ibadah, tetesan air mata, keindahan kalam ilahi, kepedulian, empati, serta silaturahmi.

Di situlah letak pengamalan hakiki dari makna la‘allakum tattaqun, yang tidak berhenti pada satu peristiwa atau momen semata. Ketakwaan adalah sebuah karakter, bahkan dapat menjadi identitas diri, yang karenanya kemuliaan seseorang diperoleh—baik kemuliaan di hadapan makhluk maupun di sisi Sang Khalik.

Puasa dan Al-Qur’an adalah dua hal yang harus dipahami secara mendalam.

Bulan Ramadan adalah bulan diwajibkannya puasa, sebagai upaya pembersihan jasmani dan rohani agar keduanya menjadi sehat walafiat.

Sehat adalah kondisi fisik yang bebas dari penyakit (fungsi organ berjalan baik), sedangkan afiat (al-‘afiyah) adalah perlindungan Allah berupa kesehatan fisik, mental, dan spiritual yang digunakan sesuai tujuan penciptaan, yaitu ketaatan. Orang sehat belum tentu afiat, tetapi orang yang afiat pasti sehat dan selamat. Dengan demikian, afiat merupakan tingkat kesehatan yang lebih tinggi dan komprehensif.

Puasa merupakan upaya persiapan diri untuk memahami Al-Qur’an.

Jika memaknai penerimaan Al-Qur’an hanya sebatas dari Allah Swt. kepada Rasul-Nya, yaitu Nabi Muhammad saw., sehingga persiapan lahir dan batin hanya berlaku bagi beliau, maka umatnya tidak akan mampu menerima hidayah-Nya. Padahal, Al-Qur’an diturunkan sebagai petunjuk bagi manusia serta penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk tersebut dan sebagai pembeda antara yang hak dan yang batil.

Secara etimologis, Al-Qur’an berasal dari bahasa Arab qara’a–yaqra’u–qur’anan yang berarti “bacaan” atau “yang dibaca”. Istilah ini merujuk pada himpunan ayat-ayat Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. untuk dibaca, dipelajari, dan diamalkan. Wahyu pertamanya adalah “Iqra’”.

Perintah “Iqra’” harus dimaknai secara komprehensif, bukan parsial. Perintah tersebut bukan sekadar membaca, tetapi membaca dengan nama Tuhan, yaitu membaca dengan ketauhidan. Artinya, menjadikan aktivitas membaca sebagai sarana untuk mengenal, mengagungkan, dan mengesakan Allah Swt.

Ini bukan sekadar proses kognitif, melainkan pendekatan literasi yang mengintegrasikan akidah Islam dalam proses pemahaman ilmu pengetahuan, di mana Al-Qur’an dan tauhid menjadi fondasi utama (kerangka berpikir). Dalam konteks yang lebih luas, membaca dengan ketauhidan juga menjadi kekuatan transformatif yang mendorong kesetaraan, keadilan sosial, serta perlawanan terhadap penindasan.

Membaca hingga memahami petunjuk, penjelasannya, serta mampu membedakan antara yang hak dan yang batil.

Tidak cukup jika semua itu berhenti seiring berakhirnya Ramadhan, sebagaimana kehidupan tidak berhenti saat matahari terbenam. Kehidupan terus berjalan, tidak bergantung pada datang dan perginya matahari. Demikian pula ketakwaan, yang harus terus dijaga.

Sebagaimana disampaikan oleh Guru Besar Universitas Darussalam Gontor, Prof. Dr. Nur Hadi Ihsan, M.I.R.K.H.:

“Cahaya Ramadan yang paling lembut, yaitu muraqabah (perasaan selalu diawasi dan ditemani oleh-Nya), harus senantiasa dijaga. Istikamah menjaga cahaya Ramadan.”

“Apakah kita akan membiarkan cahaya itu padam, atau menjaganya tetap hidup sepanjang perjalanan hidup kita?”

Secercah Cahaya Yang Pernah Menyala Pada Diri Kita


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Itikaf yang Membumi, Dari Ritual Menuju Aksi Sosial Berkeadilan Oleh: Firman Nugraha, widyaiswara d....

Suara Muhammadiyah

28 March 2025

Wawasan

Jangan Biarkan Israel Hancurkan RS Indonesia di Gaza (29 November, Hari Solidaritas Terhadap Rakyat....

Suara Muhammadiyah

8 December 2023

Wawasan

Oleh: Drh H Baskoro Tri Caroko LPCRPM PPM Bidang Pemberdayaan Ekonomi Menyimak acara seminar via z....

Suara Muhammadiyah

26 February 2024

Wawasan

SINERGITAS GERAKAN EKONOMI: Dari Debat Milik Siapa ke Gerakan Ekonomi Jamaah Oleh: Suwatno Ibnu Sud....

Suara Muhammadiyah

14 November 2025

Wawasan

Revisi Tata Tertib DPR Merusak Sistem Bernegara Oleh: Sobirin Malian, Dosen Fakultas Hukum Universi....

Suara Muhammadiyah

8 February 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah