Post-Truth dan Tradisi Intelektual IMM yang Kian Memudar
Oleh: Dwi Kurniadi, Kader PC IMM Sukoharjo
Tulisan ini adalah Catatan Menjelang Muktamar IMM yang kian mengikis suatu gagasan. Di tengah derasnya arus informasi, kita hidup pada zaman yang sering disebut sebagai era post-truth. Pada masa ini, fakta tidak lagi menjadi penentu utama dalam membentuk cara berpikir kader. Emosi, kedekatan kelompok, dan kepentingan politik sering kali lebih menentukan daripada data dan argumentasi. Yang paling lantang dianggap paling benar. Yang paling populer lebih mudah dipercaya daripada yang paling berilmu.
Fenomena ini tidak hanya terjadi dalam kehidupan politik nasional atau media sosial. Perlahan, gejalanya juga mulai masuk ke ruang-ruang organisasi, termasuk organisasi mahasiswa. Ruang yang seharusnya menjadi tempat bertumbuhnya gagasan perlahan dipenuhi oleh kalkulasi kepentingan. Diskusi yang dahulu hidup kini kalah ramai dengan perbincangan mengenai dukungan, strategi, dan kemenangan.
Sebagai organisasi kader, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) tentu tidak kebal terhadap tantangan tersebut. Menjelang Muktamar, semestinya yang mengemuka adalah diskusi mengenai masa depan gerakan, tantangan bangsa, penguatan kaderisasi, hingga bagaimana IMM menjawab persoalan zaman. Namun, yang sering kali lebih mendominasi justru dinamika politik organisasi. Siapa mendukung siapa, siapa membangun koalisi dengan siapa, hingga siapa yang paling berpeluang memenangkan kontestasi.
Tidak ada yang salah dengan politik organisasi. Politik merupakan bagian dari proses demokrasi yang sehat. Pergantian kepemimpinan membutuhkan kompetisi. Perbedaan pilihan juga merupakan hal yang lumrah. Namun, persoalan muncul ketika politik tidak lagi menjadi alat untuk memperjuangkan gagasan, melainkan berubah menjadi tujuan itu sendiri.
Ketika kemenangan menjadi orientasi utama, gagasan perlahan kehilangan tempatnya. Kandidat lebih sibuk membangun jaringan daripada menyusun peta jalan gerakan. Delegasi lebih banyak membicarakan konfigurasi dukungan dibandingkan menawarkan solusi terhadap persoalan umat, bangsa, dan kemanusiaan. Pada titik itulah organisasi mulai kehilangan ruhnya.
IMM sejak awal tidak didirikan untuk menjadi organisasi yang sekadar melahirkan pemimpin administratif. IMM lahir untuk mencetak intelektual yang memiliki keberanian berpikir, kemampuan membaca realitas, serta komitmen menghadirkan perubahan sosial. Karena itu, ketika gagasan mulai tersisih, sesungguhnya yang sedang dipertaruhkan bukan hanya kualitas Muktamar, tetapi juga masa depan organisasi itu sendiri.
Muktamar dan Pudarnya Tradisi Intelektual
Muktamar merupakan forum tertinggi IMM. Lebih dari sekadar memilih ketua umum, Muktamar IMM adalah ruang untuk mengevaluasi perjalanan gerakan sekaligus merumuskan arah masa depan. Di forum inilah seharusnya tradisi intelektual IMM menemukan puncaknya.
Sayangnya, tradisi tersebut tampak semakin memudar.
Dahulu, kader IMM dikenal dengan budaya membaca, berdiskusi, menulis, dan mengkritisi realitas sosial. Buku menjadi teman diskusi. Tulisan menjadi alat perjuangan. Perbedaan pendapat dijawab dengan argumentasi, bukan dengan polarisasi. Kader dihormati karena keluasan ilmunya, bukan semata karena besarnya pengaruh politiknya.
Hari ini, tradisi itu menghadapi tantangan yang tidak ringan. Budaya membaca semakin tergeser oleh budaya menggulir layar. Diskusi mendalam kalah oleh potongan video berdurasi singkat. Tulisan ilmiah kalah populer dibandingkan narasi yang mudah viral. Bahkan, tidak sedikit kader yang lebih mengenal peta dukungan politik dibandingkan peta persoalan bangsa.
Padahal, IMM lahir dari semangat intelektual Muhammadiyah. Muhammadiyah membangun peradaban melalui sekolah, universitas, rumah sakit, penerbitan, dan gerakan ilmu pengetahuan. Jalan yang ditempuh bukan sekadar jalan politik, tetapi jalan pencerdasan umat. IMM mewarisi semangat tersebut.
Karena itu, Muktamar semestinya menjadi panggung besar pertarungan ide. Kandidat menawarkan konsep kaderisasi. Delegasi menyampaikan hasil riset. Komisi-komisi membahas arah gerakan berdasarkan data dan kebutuhan masyarakat. Setiap keputusan lahir dari dialog yang matang, bukan dari kompromi kepentingan.
Kita tentu berharap suasana seperti itu kembali hidup. Sebab, organisasi kader tidak akan dikenang karena ramai tidaknya Muktamar. Organisasi kader akan dikenang karena gagasan yang berhasil dilahirkannya.
Pertanyaan yang patut diajukan bukanlah siapa yang akan menang dalam Muktamar nanti, tetapi gagasan apa yang akan menang. Sebab, kemenangan individu hanya berlangsung beberapa tahun, sedangkan kemenangan gagasan dapat bertahan puluhan bahkan ratusan tahun.
Dari Politik Organisasi Menuju Politik Gagasan
IMM tidak membutuhkan organisasi yang steril dari politik. Itu mustahil. Yang dibutuhkan adalah politik yang dipandu oleh ilmu, etika, dan cita-cita peradaban.
Politik organisasi seharusnya menjadi instrumen untuk menghadirkan kepemimpinan terbaik, bukan arena perebutan kekuasaan. Politik yang sehat melahirkan pemimpin yang memiliki kapasitas berpikir, keberanian moral, serta visi yang jelas. Sebaliknya, politik yang kehilangan arah hanya akan menghasilkan pergantian nama tanpa perubahan makna.
Di sinilah pentingnya mengembalikan politik organisasi menjadi politik gagasan. Artinya, yang dipertandingkan bukan hanya figur, melainkan juga ide. Yang dinilai bukan hanya kemampuan membangun dukungan, tetapi juga kemampuan membaca zaman. Yang dipilih bukan semata orang yang populer, melainkan mereka yang mampu menawarkan jalan keluar atas berbagai persoalan yang dihadapi IMM, Muhammadiyah, dan Indonesia.
Muktamar mendatang dapat menjadi titik balik apabila seluruh kader sepakat mengubah orientasi. Forum tidak lagi didominasi oleh kalkulasi politik, tetapi dipenuhi oleh diskusi intelektual. Kandidat tidak cukup datang dengan tim sukses, melainkan juga dengan naskah pemikiran. Delegasi tidak hanya membawa mandat, tetapi juga membawa hasil pembacaan terhadap realitas masyarakat.
Tantangan yang dihadapi IMM hari ini jauh lebih besar dibandingkan persoalan pergantian kepemimpinan. Era kecerdasan buatan, krisis lingkungan, ketimpangan sosial, radikalisme digital, disinformasi, hingga melemahnya literasi membutuhkan jawaban yang lahir dari tradisi intelektual yang kuat. Jika IMM gagal membangun tradisi tersebut, maka organisasi ini akan kehilangan relevansinya di tengah perubahan zaman.
Sudah saatnya kita kembali mengingat mengapa IMM didirikan. Organisasi ini bukan dibangun untuk mencetak politisi organisasi semata, melainkan melahirkan intelektual yang mampu menggerakkan perubahan. Kepemimpinan hanyalah alat. Jabatan hanyalah amanah. Adapun tujuan akhirnya adalah membangun peradaban.
Karena itu, menjelang Muktamar, mungkin ada satu pertanyaan sederhana yang layak direnungkan bersama. Setelah seluruh rangkaian sidang selesai, setelah ketua umum baru terpilih, setelah seluruh euforia kemenangan berakhir, apa yang benar-benar akan diwariskan kepada IMM?
Jika jawabannya hanya pergantian kepemimpinan, maka Muktamar hanyalah agenda rutin lima tahunan. Namun, jika yang diwariskan adalah lahirnya tradisi berpikir, budaya membaca, keberanian menulis, serta semangat membangun peradaban melalui ilmu pengetahuan, maka Muktamar telah menjalankan fungsi sejarahnya.
Sebab pada akhirnya, sejarah tidak pernah mencatat siapa yang paling pandai mengumpulkan suara. Sejarah lebih memilih mengingat mereka yang mampu melahirkan gagasan besar. Dan organisasi kader seperti IMM hanya akan tetap hidup selama gagasan menjadi jantung dari setiap gerakannya.

