Privilege dalam Perspektif Sosiologi Islam

Publish

8 June 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
59
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Privilege dalam Perspektif Sosiologi Islam

Penulis: Amalia Irfani, Dosen IAIN Pontianak/LPPA PWA Kalbar

Diskusi tentang bagaimana interaksi sosial pada remaja dapat mengalami konflik,  salah satunya dipicu oleh budaya saling menghargai yang masih rendah.  Misalnya karena si remaja memiliki keistimewaan karena ekonomi keluarga atau status sosial sejak lahir sehingga tidak merasa perlu menghargai teman yang berbeda strata.  

Dalam perspektif sosiologi Islam privilege dapat dipahami sebagai fenomena sosial yang kompleks dan penuh dinamika. Privilege dapat dipahami sebagai keistimewaan yang dimiliki seseorang tanpa harus diperjuangkan, seperti akses pendidikan, kesehatan, teknologi, maupun dukungan keluarga. Dalam konteks remaja, privilege ini tampak jelas pada mereka yang lahir dari keluarga berada, tinggal di kota besar, atau memiliki akses luas terhadap teknologi digital. Mereka lebih mudah memperoleh ilmu, kesempatan berkarier, dan jaringan sosial dibandingkan remaja yang hidup dalam keterbatasan. Namun, Islam memandang privilege bukan sekadar keuntungan pribadi, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan.  

Sosiologi Islam menekankan prinsip ‘adl (keadilan) dan ihsan(kebaikan yang melampaui keadilan). Privilege yang dimiliki remaja seharusnya tidak menjadi alat untuk menindas atau merendahkan orang lain, melainkan menjadi sarana untuk menebarkan manfaat. Rasulullah SAW bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya”(HR. Ahmad). 

Hadis Rasullulah diatas menegaskan bahwa keistimewaan yang dimiliki seseorang, termasuk remaja, harus diarahkan untuk memberi manfaat sosial. Dalam Al-Qur’an, Allah berfirman: “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan”(QS. Al-Maidah: 2). Ayat ini menjadi landasan bahwa privilege harus digunakan untuk memperkuat solidaritas sosial, bukan memperlebar jurang ketidakadilan.  

Privilege dan Tantangan

Jika dilihat dari dimensi ekonomi, remaja dari keluarga kaya memiliki privilege berupa akses terhadap pendidikan berkualitas, gizi yang baik, dan kesempatan berkarier. Islam mengingatkan bahwa harta adalah titipan Allah, dan pemiliknya wajib menunaikan zakat serta berbagi dengan yang membutuhkan. 

Dari dimensi budaya, remaja yang tumbuh dalam lingkungan dominan lebih mudah diterima dalam pergaulan, sementara Islam menekankan bahwa tidak ada keunggulan antara satu bangsa dengan bangsa lain kecuali dengan takwa (QS. Al-Hujurat: 13). Dari dimensi gender, sebagian masyarakat memberi lebih banyak kebebasan kepada laki-laki dibanding perempuan, padahal Islam menegaskan kesetaraan hak dalam pendidikan dan kesempatan beribadah. 

Kemudian, dari dimensi teknologi, remaja yang memiliki akses internet dapat belajar lebih cepat dan luas, tetapi Islam mengingatkan agar teknologi digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, bukan sekadar hiburan yang melalaikan.  

Privilege remaja membawa tantangan besar. Mereka bisa terjebak dalam sikap konsumtif, individualis, dan kurang empati terhadap sesama.  Anak yang memiliki privilege harus memiliki kesadaran sosial untuk peka terhadap ketidakadilan di sekitar mereka, penggunaan ilmu untuk membangun masyarakat, serta solidaritas dengan teman sebaya yang kurang beruntung. 

Dengan demikian, privilege bukanlah sekadar hak, tetapi juga tanggung jawab moral dan spiritual. Rasulullah SAW bersabda: “Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa setiap privilege yang dimiliki remaja adalah bentuk kepemimpinan yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban.  

Dalam praktik kehidupan sehari-hari, privilege remaja dapat terlihat dari bagaimana mereka menggunakan waktu luang, akses informasi, dan kesempatan belajar. Remaja yang memiliki fasilitas lengkap seringkali lebih mudah mengembangkan potensi diri, sementara yang kurang beruntung harus berjuang lebih keras. Islam mengajarkan bahwa setiap kelebihan adalah ujian. Allah berfirman: Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megahkan itu)” (QS. At-Takatsur: 8). Ayat ini menegaskan bahwa privilege bukanlah sesuatu yang bebas dari pertanggungjawaban, melainkan akan dimintai hisab di akhirat.  

Oleh karena itu, remaja Muslim yang memiliki privilege harus menyadari bahwa keistimewaan mereka adalah sarana untuk berbuat baik. Mereka dituntut untuk menjadi agen perubahan sosial, menebarkan manfaat, dan memperjuangkan keadilan. Privilege seharusnya mendorong mereka untuk lebih peduli terhadap sesama, mengembangkan solidaritas, dan menggunakan ilmu serta teknologi untuk membangun masyarakat yang lebih adil. Dengan menjadikan privilege sebagai sarana untuk berbuat baik, remaja tidak hanya membangun dirinya sendiri, tetapi juga membangun masyarakat yang beradab.  

Untuk itu peran orang tua menjadi penting dalam menanamkan tanggung jawab,  kesederhanaan agar anak memiliki pemahaman yang ditunjukan dalam keseharian. Privilege bukanlah sekadar keuntungan pribadi, melainkan ujian yang menentukan sejauh mana seseorang mampu menggunakan keistimewaan itu untuk kebaikan bersama. Dengan kesadaran ini, remaja Muslim dapat menjadikan privilege sebagai jalan menuju keberkahan hidup, baik di dunia maupun di akhirat.  

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Partisipasi Perempuan Pada Pemilu 2024 Oleh: Amalia Irfani, LPPA PWA Kalbar  Riuh menyambut p....

Suara Muhammadiyah

31 December 2023

Wawasan

Pendidikan Kuat, Bangsa Berdaulat Penulis: Moh In’ami, PDM Kudus Membicarakan masalah pendid....

Suara Muhammadiyah

2 May 2026

Wawasan

Identitas Pendidikan Muhammadiyah  Oleh: Dr. Amalia Irfani, M.Si, Sekretaris LPP PWM Kalbar/Do....

Suara Muhammadiyah

1 September 2025

Wawasan

Urwatul Wutsqa: Solidaritas Islam dan Fanatisme Kesukuan  Oleh: Hatib Rachmawan (Dosen Il....

Suara Muhammadiyah

8 November 2024

Wawasan

Membangun Indonesia dengan Gagasan dan Akhlak Oleh: Agusliadi Massere Indonesia sebagai negara-ban....

Suara Muhammadiyah

25 November 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah