Prof Dr Siti Chamamah Soeratno: Penjaga Ingatan Peradaban
Penulis: Abd Rohim Ghazali, Senior Fellow Maarif Institute, Wakil Ketua LHKP PP Muhammadiyah 2020-2026
Pada saat menanti laga hidup-mati menuju babak delapan besar Piala Dunia antara Argentina dan Mesir, datang kabar duka dari Yogyakarta: Ibu Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno telah wafat pada pukul 20.13 WIB dalam usia 85 tahun. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un, Indonesia kehilangan seorang filolog, guru besar, pemimpin organisasi perempuan, sekaligus penjaga kebudayaan yang sepanjang hidupnya mengabdikan ilmu bukan hanya untuk dipelajari, melainkan juga untuk dihidupi.
Di tengah derasnya arus modernitas yang sering membuat masyarakat lupa pada akar sejarahnya, Prof. Chamamah yang lahir 24 Januari 1941, memilih jalan yang tidak populer, yakni merawat naskah-naskah lama, menafsirkan warisan intelektual Nusantara, dan menghubungkannya dengan tantangan zaman. Baginya, manuskrip bukan sekadar lembaran kertas yang menguning dimakan usia, melainkan percakapan panjang antargenerasi yang harus terus dijaga agar bangsa ini tidak kehilangan ingatan.
Sebagai pakar filologi dan sastra Melayu, beliau memahami bahwa sebuah bangsa dapat kehilangan masa depannya ketika ia melupakan masa lalunya. Karena itu, kerja filologi yang sering dianggap sunyi sesungguhnya merupakan pekerjaan besar membangun identitas. Dari ruang-ruang perpustakaan, ruang arsip, hingga forum ilmiah internasional, Prof. Chamamah mengajarkan bahwa kebudayaan bukan benda mati, melainkan energi yang terus menghidupkan peradaban.
Namun Prof. Chamamah tidak berhenti sebagai akademisi. Beliau adalah contoh langka seorang intelektual yang mampu menjembatani dunia ilmu dengan dunia gerakan. Amanah sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat ’Aisyiyah selama dua periode (2000–2005 dan 2005–2010) membuktikan bahwa kepakaran akademik tidak menghalangi seseorang untuk hadir dalam denyut kehidupan umat. Sebaliknya, ilmu justru menjadi fondasi bagi kepemimpinan yang berorientasi pada kemajuan.
Di tangan beliau, ’Aisyiyah terus meneguhkan dirinya sebagai organisasi perempuan Islam yang berpijak pada tradisi keilmuan. Pendidikan, pemberdayaan perempuan, kesehatan, dakwah, dan kebudayaan dipandang sebagai satu kesatuan. Beliau meyakini bahwa kemajuan umat hanya mungkin dicapai apabila perempuan memperoleh kesempatan yang sama untuk belajar, berpikir, dan memimpin. Gagasan itu bukan sekadar pidato, melainkan menjadi bagian dari perjalanan hidupnya sendiri.
Latar belakang beliau sebagai putri Kauman Yogyakarta membentuk sintesis yang indah antara tradisi keislaman dan tradisi akademik. Dari lingkungan yang kental dengan nilai-nilai Muhammadiyah, beliau tumbuh menjadi cendekiawan yang terbuka terhadap berbagai khazanah ilmu pengetahuan dunia. Pendidikan di Universitas Gadjah Mada, pengalaman akademik di Prancis, Belanda, dan berbagai forum internasional semakin memperkaya perspektifnya tanpa membuatnya tercerabut dari akar budaya bangsa.
Dalam banyak kesempatan, Prof. Chamamah mengingatkan bahwa Islam dan kebudayaan bukanlah dua kutub yang saling bertentangan. Islam hadir untuk memuliakan kebudayaan yang membawa kemaslahatan, sementara kebudayaan menjadi medium tempat nilai-nilai Islam bertumbuh secara kontekstual. Cara pandang seperti inilah yang membuat beliau dihormati tidak hanya di lingkungan Muhammadiyah, tetapi juga di kalangan akademisi lintas disiplin.
Mereka yang pernah menjadi mahasiswa atau koleganya mengenang beliau sebagai guru yang teliti, rendah hati, sekaligus sangat disiplin. Beliau tidak hanya mengajar teori, tetapi juga mengajarkan etika keilmuan yakni kesabaran membaca, ketekunan meneliti, kejujuran dalam menyimpulkan, dan kerendahan hati untuk terus belajar. Di zaman ketika informasi berlimpah tetapi kebijaksanaan sering kali langka, teladan seperti itulah yang semakin mahal nilainya.
Sesungguhnya, jasa terbesar seorang guru bukanlah banyaknya buku yang ditulis atau jabatan yang pernah diemban. Jasa terbesar seorang guru adalah murid-murid yang kemudian melampaui dirinya. Dalam hal ini, Prof. Chamamah telah meninggalkan warisan yang sangat kaya. Ratusan, bahkan ribuan mahasiswa, peneliti, dosen, dan aktivis perempuan pernah disentuh oleh keteladanannya. Mereka adalah mata rantai yang akan terus membawa cahaya ilmu yang beliau nyalakan.
Kepergian beliau juga mengingatkan kita bahwa pembangunan bangsa tidak hanya membutuhkan ekonom, insinyur, atau politisi. Bangsa ini juga membutuhkan para penjaga makna, para perawat ingatan kolektif, dan para penafsir kebudayaan. Sebab kemajuan yang tercerabut dari akar sejarah hanya akan melahirkan masyarakat yang modern secara teknologi, tetapi rapuh secara identitas.
Saat ini, Prof. Dr. Siti Chamamah Soeratno telah menyelesaikan pengabdiannya. Akan tetapi, gagasan dan keteladanannya tetap hidup dalam ruang-ruang kelas, perpustakaan, organisasi, dan terutama dalam cara berpikir orang-orang yang pernah belajar darinya. Sebab seorang guru besar sejatinya tidak pernah benar-benar wafat. Ia terus hidup melalui ilmu yang diamalkan, nilai yang diwariskan, dan generasi yang diteruskannya.
Selamat jalan, Prof. Chamamah. Terima kasih telah mengajarkan bahwa membaca masa lalu bukanlah untuk bernostalgia, melainkan untuk menemukan arah masa depan. Semoga Allah SWT menerima seluruh amal ibadah, pengabdian, dan ilmu yang telah Ibu tebarkan sebagai amal jariyah yang tak pernah putus. Dan semoga bangsa ini terus melahirkan perempuan-perempuan cendekia yang meneladani keluasan ilmu, keteguhan iman, dan keluhuran akhlak yang telah Ibu wariskan.

