Prof Syamsul Anwar, Membingkai Organisasi dengan Kefakihan dan Kezuhudan

Suara Muhammadiyah

31 August 2026

156
Prof Dr Haedar Nashir M.Si saat memberikan sambutannya dalam acara Launching Buku Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran (31/8).

Prof Dr Haedar Nashir M.Si saat memberikan sambutannya dalam acara Launching Buku Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran (31/8).

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Di mata keluarga, Prof Syamsul Anwar dikenal sebagai sosok yang sangat serius serta tekun. Keseriusannya terlihat dari ketahanan beliau selama berjam-jam di depan komputer untuk mengetik atau saat membaca buku. Mungkin hal inilah yang membuat beliau berada di level yang berbeda seperti yang kita lihat sekarang. Dalam keilmuan, tak jarang orang menyebutnya sebagai pakar dalam hal keislaman. 

Prof Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah menilai Prof Syamsul Anwar sebagai sosok ulama yang langka di Muhammadiyah. Kepakarannya dalam bidang fikih dan kemudian ditambah dengan sifat zuhudnya membuat banyak orang menaruh hormat kepada beliau. 

Sehingga gelar Fakih yang Zahid menjadi sangat relevan dengan beliau. Cerminan dari ulama yang matang dalam berpikir dan dewasa dalam bersikap. Begitu pula saat memimpin organisasi Islam modern terbesar, kedewasaannya ditunjukkan melalui sikap tidak merasa paling benar, serta tidak memaksakan kehendak pribadinya dalam memutuskan langkah organisasi. Hal ini menjadi karakter yang terus melekat pada diri Syamsul Anwar, yang mana secara istiqomah, beliau membingkai dirinya melalui Muhammadiyah sebagai organisasi yang berpegang pada tiga hal, al-Qur’an, Sunnah, dan Ijtihad. 

“Ilmu kita terbatas. Jangan sampai kita merasa melampaui keputusan organisasi. Bingkai kita adalah al-Qur’an, Sunnah dan Ijtihad,” ujar Haedar. 

Masih berkaitan dengan rambu-rambu organisasi dalam menentukan suatu kebijakan, Muhammadiyah sejatinya menganut ijtihad jama’i atau yang akrab disebut ijtihad kolektif. Dan inilah yang terus dijaga dan dipegang teguh oleh seluruh Pimpinan Persyarikatan, khususnya oleh Prof Syamsul Anwar sebagai pimpinan sekaligus ulama Muhammadiyah. 

“Kalau kita punya pandangan, jangan mencoba untuk memaksakan pandangan kita diterima, lebih-lebih pandangan tersebut bersifat pribadi. Ingat, di Muhammadiyah ada musyawarah,” pesan Haedar di UMY Hotel (31/8). 

Ia kembali menegaskan bahwa di Muhammadiyah ada sistem yang harus dijunjung tinggi oleh seluruh warga Persyarikatan. Sistem yang menjaga kompas arah organisasi.

“Sehebat apapun orang di Muhammadiyah, mereka datang dan pergi. Yang abadi adalah sistemnya,” tutupnya. (diko)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

PEKANBARU, Suara Muhammadiyah – Perwujudan kampus Islami akan memberikan dampak yang positif p....

Suara Muhammadiyah

25 February 2025

Berita

KOTIM, Suara Muhammadiyah - Ketua lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Muhammadiyah Kotawaringin Tim....

Suara Muhammadiyah

27 July 2026

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Dekan dan dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muha....

Suara Muhammadiyah

29 August 2024

Berita

MANADO, Suara Muhammadiyah— Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Sulawesi Utara bersama Lembaga....

Suara Muhammadiyah

9 May 2026

Berita

SURABAYA, Suara Muhammadiyah - Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, bela negara kerap ka....

Suara Muhammadiyah

19 December 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah