Prof Syamsul Anwar, Membingkai Organisasi dengan Kefakihan dan Kezuhudan

Suara Muhammadiyah

31 August 2026

453
Prof Dr Haedar Nashir M.Si saat memberikan sambutannya dalam acara Launching Buku Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran (31/8).

Prof Dr Haedar Nashir M.Si saat memberikan sambutannya dalam acara Launching Buku Fakih yang Zahid di Era Pudarnya Kepakaran (31/8).

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Di mata keluarga, Prof Syamsul Anwar dikenal sebagai sosok yang sangat serius serta tekun. Keseriusannya terlihat dari ketahanan beliau selama berjam-jam di depan komputer untuk mengetik atau saat membaca buku. Mungkin hal inilah yang membuat beliau berada di level yang berbeda seperti yang kita lihat sekarang. Dalam keilmuan, tak jarang orang menyebutnya sebagai pakar dalam hal keislaman. 

Prof Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah menilai Prof Syamsul Anwar sebagai sosok ulama yang langka di Muhammadiyah. Kepakarannya dalam bidang fikih dan kemudian ditambah dengan sifat zuhudnya membuat banyak orang menaruh hormat kepada beliau. 

Sehingga gelar Fakih yang Zahid menjadi sangat relevan dengan beliau. Cerminan dari ulama yang matang dalam berpikir dan dewasa dalam bersikap. Begitu pula saat memimpin organisasi Islam modern terbesar, kedewasaannya ditunjukkan melalui sikap tidak merasa paling benar, serta tidak memaksakan kehendak pribadinya dalam memutuskan langkah organisasi. Hal ini menjadi karakter yang terus melekat pada diri Syamsul Anwar, yang mana secara istiqomah, beliau membingkai dirinya melalui Muhammadiyah sebagai organisasi yang berpegang pada tiga hal, al-Qur’an, Sunnah, dan Ijtihad. 

“Ilmu kita terbatas. Jangan sampai kita merasa melampaui keputusan organisasi. Bingkai kita adalah al-Qur’an, Sunnah dan Ijtihad,” ujar Haedar. 

Masih berkaitan dengan rambu-rambu organisasi dalam menentukan suatu kebijakan, Muhammadiyah sejatinya menganut ijtihad jama’i atau yang akrab disebut ijtihad kolektif. Dan inilah yang terus dijaga dan dipegang teguh oleh seluruh Pimpinan Persyarikatan, khususnya oleh Prof Syamsul Anwar sebagai pimpinan sekaligus ulama Muhammadiyah. 

“Kalau kita punya pandangan, jangan mencoba untuk memaksakan pandangan kita diterima, lebih-lebih pandangan tersebut bersifat pribadi. Ingat, di Muhammadiyah ada musyawarah,” pesan Haedar di UMY Hotel (31/8). 

Ia kembali menegaskan bahwa di Muhammadiyah ada sistem yang harus dijunjung tinggi oleh seluruh warga Persyarikatan. Sistem yang menjaga kompas arah organisasi.

“Sehebat apapun orang di Muhammadiyah, mereka datang dan pergi. Yang abadi adalah sistemnya,” tutupnya. (diko)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Mahasiswa program studi Teknik Informatika (TI) Fakultas Teknik ....

Suara Muhammadiyah

20 November 2025

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Tak dapat dinafikan, di tengah lipatan zaman dan lilitan tantangan yang....

Suara Muhammadiyah

6 February 2026

Berita

PURWOREJO, Suara Muhammadiyah – Ruang Auditorium Kasman Singodimedjo, Universitas Muhammadiyah....

Suara Muhammadiyah

20 December 2025

Berita

Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universit....

Suara Muhammadiyah

17 June 2025

Berita

Dowanload Logo Milad Nasyiatul Aisyiyah ke-93 / 96 YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Nasyiatul Aisyi....

Suara Muhammadiyah

16 May 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah