Prof Yuli Kusumawati: Deteksi Dini Kesehatan Mental Ibu Hamil Masih Terabaikan

Suara Muhammadiyah

28 August 2025

945
Dok Istimewa

Dok Istimewa

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah – Persoalan kesehatan ibu di Indonesia kerap dibicarakan dalam konteks fisik, mulai dari anemia, kekurangan energi protein, hingga gizi. Namun, ada sisi lain yang sering terabaikan yaitu kesehatan mental ibu hamil.

Hal tersebut menjadi fokus perhatian Prof. Dr. Yuli Kusumawati, SKM., M.Kes – Guru Besar bidang Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIK) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), yang menekankan pentingnya keseimbangan antara kesehatan fisik dan mental dalam masa kehamilan.

“Selama ini, pemeriksaan kehamilan di Puskesmas lebih banyak menanyakan kondisi fisik ibu. Tidak ada pertanyaan sederhana seperti, ‘Apakah ibu bahagia dengan kehamilan ini?’ Padahal, gangguan mental seperti stres, kecemasan, hingga depresi nyata dialami oleh banyak ibu hamil,” terang Yuli, Rabu (27/8).

Ia memulai perhatiannya pada isu ini dari fakta bahwa angka kematian ibu di Indonesia masih tinggi. Melalui pendekatan epidemiologi sosial, ia menelusuri penyebab yang lebih mendasar. Salah satu faktor kunci adalah kehamilan yang tidak direncanakan, baik yang tidak dikehendaki sama sekali, maupun pada pasangan yang sebenarnya telah berkeluarga tetapi tidak menginginkan anak lagi.

“Kehamilan yang tidak direncanakan cenderung meningkatkan risiko gangguan kesehatan mental. Sayangnya, data real mengenai seberapa besar masalah ini belum tercatat dengan baik di masyarakat,” jelasnya.

Berdasarkan temuannya, Yuli mengembangkan model skrining kesehatan mental untuk ibu hamil. Tujuannya adalah untuk deteksi dini agar tenaga kesehatan bisa merujuk pasien sesuai kebutuhan, apakah cukup ditangani bidan, memerlukan konseling psikolog, atau bahkan harus ke layanan kesehatan jiwa.

“Kalau bisa terdeteksi sejak awal, maka masalah mental ibu hamil bisa tertangani lebih cepat. Ini bukan hanya untuk keselamatan ibu, tapi juga kualitas tumbuh kembang janin,” ujarnya.

Bagi Yuli, intervensi medis saja tidak cukup. Ia menekankan pentingnya dukungan sosial, baik dari keluarga, masyarakat, maupun tenaga kesehatan dalam menjaga kesehatan mental ibu. Edukasi, konseling, hingga pendampingan yang berkelanjutan diyakini mampu menekan risiko depresi, mencegah kematian ibu, bahkan berkontribusi pada upaya pencegahan stunting.

“Generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas lahir dari ibu yang sehat, bukan hanya fisik tapi juga mental. Maka, skrining kesehatan mental dalam layanan Antenatal Care (ANC) harus dipandang sebagai kebutuhan mendesak,” tegasnya.

Yuli berharap gagasannya ini dapat semakin menguatkan agenda nasional dalam menekan angka kematian ibu, mencegah stunting, sekaligus melahirkan generasi masa depan yang sehat secara utuh. (Fika/Humas)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

BERAU, Suara Muhammadiyah - BERAU, Suara Muhammadiyah - Muhammad Bayu, Rektor Universitas Muhammadiy....

Suara Muhammadiyah

7 March 2024

Berita

PADANGPANJANG, Suara Muhammadiyah - Pesantren Kauman Muhammadiyah Padang Panjang terus mewujudkan ko....

Suara Muhammadiyah

23 March 2024

Berita

BANYUWANGI, Suara Muhammadiyah – Selepas melaksanakan tahapan ibadah wajib selama di kota Makk....

Suara Muhammadiyah

10 June 2026

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Muhammadiyah (UM)....

Suara Muhammadiyah

21 April 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Lembaga Pengembangan Olahraga (LPO) Pimpinan Pusat Muhammadiyah ber....

Suara Muhammadiyah

31 May 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah