PWM DIY Launching Muhammadiyah Balanced Scorecard dan Gandeng Marshall Cavendish Education, Singapura

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
71
Seminar Pendidikan

Seminar Pendidikan

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Majelis Pendidikan Dasar Menengah dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen & PNF) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY menggelar Seminar Pendidikan dan Launching Instrumen Penilaian Kinerja Sekolah/Madrasah Muhammadiyah berbasis Key Performance Indicators (KPI).

Kegiatan yang berlangung di Aula SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta, Selasa (2/6/2026) ini menjadi langkah strategis dalam mendorong transformasi tata kelola sekolah/madrasah Muhammadiyah DIY yang lebih terukur, akuntabel, dan berbasis data.

Seminar mengusung tema “Transformasi Tata Kelola Kinerja Sekolah/Madrasah Muhammadiyah Berbasis KPI: Mewujudkan Pendidikan Unggul, Akuntabel, dan Berkemajuan”.

Kegiatan dihadiri Ketua PWM DIY, Dr. Muh Ikhwan Ahada, Ketua Majelis Dikdasmen PNF PP Muhammadiyah, Didik Suhardi, Ph.D. serta dua narasumber seminar yakni Sekretaris PP Muhammadiyah, Muhammad Sayuti, Ph.D., dan Prof. Dr. Toni Toharudin, M.Sc., selaku Kepala Badan Kebijakan Pendidikan Dasar dan Menengah, Kemendikdasmen RI.

Seminar diikuti kurang lebih 300 peserta dari kepala SMA/SMK/MA/SLB Muhammadiyah se-DIY, wakil kepala sekolah, Pimpinan Majelis Dikdasmen PNF PWM DIY, perwakilan Majelis Dikdasmen dan PNF Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-DIY, serta Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY.

Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PP Muhammadiyah, Didik Suhardi, Ph.D., mengapresiasi langkah inovatif yang dilakukan oleh Majelis Dikdasmen dan PNF PWM DIY.

Ia menyebut, instrumen ini penting untuk mengukur capaian dan target keberhasilan sekolah secara terukur berdasarkan delapan Standar Nasional Pendidikan yang dipadukan dengan kurikulum nasional dan ciri khas Kemuhammadiyahan.

“Ini sangat baik untuk melihat secara kuantitatif sejauh mana ukuran keberhasilan yang sudah dicapai dengan target yang jelas dan terukur,” ujarnya.

Didik mengingatkan agar penerapan KPI tidak mengabaikan nilai-nilai kualitatif yang menjadi ruh pendidikan Muhammadiyah, seperti karakter, kemandirian, toleransi, dan budaya berbagi antarsekolah.

“Karakter seperti sopan santun, toleransi, dan kemandirian itu agak sulit dikuantitatifkan. Jadi, KPI bukan satu-satunya. Jangan sampai penggunaan KPI menghilangkan unsur penting yang justru dihasilkan dari pendidikan Muhammadiyah,” tegasnya.

​Sementara itu, Ketua PWM DIY, Ikhwan Ahada menegaskan, pendidikan Muhammadiyah tidak hanya berorientasi pada transfer ilmu, tetapi juga pembentukan karakter dan adab yang berlandaskan nilai tauhid serta teologi Al-Ma'un yang diwariskan KH Ahmad Dahlan.

Baginya, keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur melalui capaian akademik, tetapi juga aspek afektif yang membentuk kepribadian peserta didik.

“Mbah Dahlan mengajarkan bahwa ilmu harus berlandaskan tauhid, tidak melahirkan kesombongan, serta mampu memadukan akal, ilmu, dan amal. Karena itu, aspek afeksi juga harus menjadi ukuran keberhasilan pendidikan,” ujarnya.

Ikhwan berharap, sekolah/madrasah Muhammadiyah di DIY mampu menerapkan pendidikan yang holistik, integratif, dan berkemajuan tanpa kehilangan identitas serta nilai-nilai khas Muhammadiyah.

Ketua Majelis Dikdasmen dan PNF PWM DIY, Achmad Muhamad, M.Ag menambahkan, instrumen KPI menjadi upaya membangun sistem pengukuran kinerja sekolah/madrasah yang lebih terstruktur, komprehensif, dan berkelanjutan.

Achmad menjelaskan, instrumen KPI dirancang untuk membantu sekolah/madrasah Muhammadiyah meningkatkan kualitas pengelolaan pendidikan secara sistematis pada seluruh aspek yang menjadi standar mutu pendidikan.

KPI juga mengukur kualitas proses pembelajaran, pengelolaan aset dan keuangan yang transparan serta akuntabel, pengembangan organisasi pembelajar, hingga aspek tata kelola sekolah/madrasah Muhammadiyah DIY.

“Instrumen KPI Muhammadiyah memiliki lima indikator utama. Berbeda dengan model pengukuran kinerja lainnya, indikator pertama menempatkan nilai-nilai ideologis Muhammadiyah sebagai fondasi utama, mulai dari implementasi nilai amanah, tata kelola berbasis nilai Islam, hingga penguatan ibadah yang dapat diukur secara jelas melalui berbagai program dan kegiatan sekolah,” paparnya.

Lebih lanjut, untuk mendorong peningkatan mutu secara bertahap, Majelis Dikdasmen dan PNF PWM DIY membagi kategori sekolah menjadi sekolah bertumbuh, sekolah berkembang, sekolah unggul pratama, sekolah unggul madya, dan sekolah unggul utama.

“Melalui instrumen ini kami ingin memastikan setiap sekolah/madrasah Muhammadiyah DIY memiliki ukuran kinerja yang jelas dan dapat dipantau perkembangannya dari waktu ke waktu. Baseline setiap sekolah memang berbeda, tetapi yang terpenting ada peningkatan yang terukur sehingga sekolah yang masih berkembang dapat terus bertumbuh menuju sekolah unggul,” pungkasnya.

Kegiatan ini diakhiri dengan penandatangan Memorandum of Understanding (MoU) dengan Marshall Cavendish Education (MCE), Singapura.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MURUNG RAYA, Suara Muhammadiyah - Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Murung Raya, kembali ....

Suara Muhammadiyah

7 March 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) MM Kine Club Universitas Muhamma....

Suara Muhammadiyah

14 November 2023

Berita

CILACAP, Suara Muhammadiyah - Sebanyak 280 siswa SMP Muhammadiyah 1 (Mutu) Plus Cilacap mengiku....

Suara Muhammadiyah

26 April 2025

Berita

TANGSEL, Suara Muhammadiyah - Fakultas Agama Islam Universitas Muhamamdiyah Jakarta (FAI UMJ) menamb....

Suara Muhammadiyah

11 June 2024

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. H....

Suara Muhammadiyah

19 December 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah