Ramadan, Zakat Fitrah, dan Panggilan Solidaritas Umat
Oleh: Hening Parlan, Wakil Ketua LLH PB Muhammadiyah, Wakil Ketua LLH PB ’Aisyiyah
Indonesia sering disebut sebagai negeri dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia. Dari sekitar 270 juta penduduk Indonesia, lebih dari 87 persen beragama Islam, atau lebih dari 230 juta jiwa. Angka ini menjadikan Indonesia sebagai rumah bagi komunitas Muslim terbesar di muka bumi.
Besarnya jumlah umat Islam ini tentu bukan sekadar statistik demografis. Ia adalah potensi besar bagi lahirnya masyarakat yang adil, peduli, dan berkeadaban. Jika ratusan juta orang memegang nilai-nilai Islam, maka nilai solidaritas, kepedulian terhadap yang lemah, serta keadilan sosial seharusnya menjadi wajah kehidupan masyarakat.
Namun realitas sosial menunjukkan bahwa perjalanan menuju masyarakat yang sejahtera masih panjang. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada September 2025 jumlah penduduk miskin di Indonesia masih sekitar 23,36 juta orang atau sekitar 8,25 persen dari total penduduk. Angka ini memang menunjukkan tren penurunan, tetapi tetap saja berarti puluhan juta orang masih hidup dalam keterbatasan ekonomi.
Di berbagai daerah, wajah kemiskinan masih dapat kita jumpai dengan mudah. Ada keluarga yang hidup dari penghasilan harian yang tidak menentu. Ada anak-anak yang harus bersekolah dengan fasilitas terbatas. Ada pula orang tua yang harus bekerja keras sepanjang hari hanya untuk memastikan keluarganya dapat makan.
Kondisi ini mengingatkan kita bahwa persoalan kemiskinan bukan sekadar persoalan angka statistik. Ia adalah persoalan kemanusiaan yang menyentuh kehidupan nyata banyak orang.
Kewajiban Sosial dalam Ajaran Islam
Islam sejak awal tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga tentang hubungan manusia dengan sesama. Ibadah dalam Islam selalu memiliki dimensi sosial yang kuat.
Salah satu instrumen utama dalam ajaran Islam untuk membangun keadilan sosial adalah zakat. Zakat bukan sekadar amal sukarela, tetapi kewajiban bagi setiap Muslim yang mampu.
Allah SWT berfirman: “Ambillah zakat dari sebagian harta mereka, dengan zakat itu kamu membersihkan dan menyucikan mereka…”
(QS. At-Taubah: 103)
Ayat ini menegaskan bahwa zakat memiliki fungsi spiritual sekaligus sosial. Ia membersihkan jiwa manusia dari sifat kikir, sekaligus menjadi sarana untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Dalam perspektif Islam, sebagian dari harta yang kita miliki sebenarnya adalah hak orang lain yang harus ditunaikan melalui zakat.
Zakat Fitrah: Menyempurnakan Ramadan
Salah satu bentuk zakat yang sangat dikenal oleh umat Islam adalah zakat fitrah. Zakat ini diwajibkan bagi setiap Muslim yang mampu dan dikeluarkan pada bulan Ramadan menjelang Hari Raya Idul Fitri.
Secara spiritual, zakat fitrah berfungsi sebagai penyempurna ibadah puasa. Selama Ramadan, umat Islam berusaha menahan diri dari berbagai hawa nafsu. Namun manusia tetap memiliki kekurangan. Mungkin ada kata yang kurang baik atau sikap yang kurang sabar. Zakat fitrah menjadi sarana untuk menyucikan kekurangan tersebut.
Namun lebih dari itu, zakat fitrah memiliki makna sosial yang sangat kuat. Ia memastikan bahwa kebahagiaan Idul Fitri tidak hanya dinikmati oleh mereka yang berkecukupan.
Kisah yang Menggugah
Di sebuah kampung di pinggiran kota, seorang ibu bernama Siti hidup bersama dua anaknya. Suaminya telah lama meninggal dunia. Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, ia bekerja sebagai penjual gorengan di depan rumahnya.
Penghasilannya tidak besar. Kadang cukup untuk makan sehari, kadang harus berhemat. Ketika Ramadan tiba, ia tetap berusaha menjalankan puasa dengan penuh kesabaran. Namun menjelang Idul Fitri, ia sering merasa cemas: apakah anak-anaknya bisa merasakan kegembiraan hari raya seperti anak-anak lainnya?
Suatu hari menjelang Idul Fitri, panitia zakat di kampungnya datang membawa beras zakat fitrah. Bagi sebagian orang, beberapa kilogram beras mungkin tidak berarti banyak. Tetapi bagi Siti, bantuan itu sangat berarti.
Ia bisa memasak makanan yang cukup untuk keluarganya. Anak-anaknya bisa menyambut Idul Fitri dengan senyum. Zakat fitrah mungkin sederhana. Tetapi bagi mereka yang membutuhkan, ia bisa menjadi sumber kebahagiaan yang sangat besar.
Jika kita membayangkan jumlah umat Islam di Indonesia yang mencapai ratusan juta orang, potensi zakat sebenarnya sangat luar biasa. Bayangkan jika setiap Muslim yang mampu menunaikan zakat dengan kesadaran penuh.
Zakat bukan hanya bantuan konsumtif. Jika dikelola dengan baik, ia dapat menjadi kekuatan sosial yang besar: membantu pendidikan anak-anak miskin, mendukung usaha kecil, meningkatkan layanan kesehatan, hingga membantu korban bencana. Karena itu, pengelolaan zakat secara profesional menjadi sangat penting.
Berzakat Melalui Lazismu
Di lingkungan Muhammadiyah, pengelolaan zakat dilakukan melalui Lazismu (Lembaga Amil Zakat, Infaq, dan Shadaqah Muhammadiyah). Lembaga ini menghimpun dan menyalurkan dana zakat untuk berbagai program sosial dan pemberdayaan masyarakat.
Lazismu mengembangkan berbagai program strategis, mulai dari bantuan pendidikan, pemberdayaan ekonomi masyarakat, layanan kesehatan, hingga bantuan kemanusiaan bagi masyarakat yang membutuhkan.
Di era digital, menunaikan zakat juga semakin mudah. Masyarakat dapat menunaikan zakat fitrah secara daring melalui platform resmi Lazismu. Silahkan buka di link: https://donasi.lazismu.org/zakatfitrah
Melalui platform tersebut, umat Islam dapat menunaikan zakat dengan mudah, cepat, dan amanah. Dana yang terkumpul kemudian disalurkan kepada para mustahik di berbagai daerah. Dengan menunaikan zakat melalui lembaga yang terpercaya, kita tidak hanya menjalankan kewajiban agama, tetapi juga memperkuat gerakan filantropi Islam yang terorganisasi dan berdampak luas.
Di negeri dengan jumlah umat Islam terbesar di dunia, zakat seharusnya menjadi kekuatan besar untuk membangun keadilan sosial. Puluhan juta orang yang masih hidup dalam keterbatasan adalah panggilan moral bagi seluruh umat Islam. Zakat fitrah mengingatkan kita bahwa iman tidak hanya diwujudkan dalam ibadah pribadi, tetapi juga dalam kepedulian terhadap sesama.
Ketika kita menunaikan zakat fitrah, kita sedang membangun jembatan antara yang mampu dan yang membutuhkan. Kita memastikan bahwa kebahagiaan Idul Fitri dapat dirasakan oleh lebih banyak orang. Ramadan pada akhirnya bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah bulan untuk menghidupkan solidaritas, menumbuhkan empati, dan menghadirkan kemanusiaan.
Dan zakat adalah salah satu jalan paling nyata untuk mewujudkan semua itu.
