Ramadhan, Ruang Menemukan Makna Hidup yang Sesungguhnya

Suara Muhammadiyah

15 March 2026

548
Drs Muhammad Afnan Hadikusumo. Foto: Cris

Drs Muhammad Afnan Hadikusumo. Foto: Cris

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Apa tujuan hidup itu? Tanya Afnan Hadikusumo. Demikian betapa luasnya spektrum kehidupan tersebut.

Yang semua orang boleh menentukannya sendiri. Tapi, satu hal yang pasti, “tujuan hidup itu satu untuk beribadah,” sambung Afnan. Ini pokok substansialnya, yang pertama.

Sejurus dengan itu, Qs adz-Dzariyat ayat 56, pun demikian menyingkap fakta sebenarnya tujuan hidup. Selain derivat berikutnya, kata Afnan, yaitu mencari bekal terbaik.

“Bekalnya apa? Amal,” ucapnya, tegas. Menggarisbawahi konteks ini, senyampang masih diberikan kesempatan hidup, hal demikian itu mesti dijadikan prioritas utama.

“Karena setiap orang yang sudah meninggal itu tidak bakal apa berhenti pahalanya kecuali doa anak yang sholeh, ilmu yang berguna, amal jariyah,” sebut Dewan Pakar Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.

Apa yang hendak dituju? Jelaslah di sini tampak arahnya pada proses peningkatan setiap diri personal menjadi pribadi premium, yakni pribadi takwa. Cirinya, pertama, berinfak kala lapang dan sempit.

Berinfak, tidak hanya bermanifes pada materi, melainkan bisa menjelma dalam bentuk yang lain. Sepanjang hal demikian itu untuk kemaslahatan umat.

“Nek (kalau) tidak punya harta ya tenaga. Kalau tidak punya harta tidak punya tenaga dengan doa,” ujarnya, Ahad (15/3) saat Pengajian Berbuka Puasa PCPM dan PCNA Jetis Yogyakarta di Masjid Noor Pakuningratan Yogyakarta.

Ciri kedua, menahan amarah. Orang bertakwa, tampak secara kediriannya mampu mengendalikan diri dari rangsangan berbuat marah. “Jadi mereka adalah orang yang bisa memanage emosi,” sambung Afnan.

Ciri ketiga, memaafkan kesalahan orang lain. Banyak persoalan di permukaan yang acap kali orang tidak sadar banyak melakukan kesalahan.

Yang ini menjadi keniscayaan dialami semua manusia. Di titik krusial ini, sesungguhnya menjadi medium untuk bisa memaafkan kesalahan orang lain.

“Nah bulan Ramadan ya itu semua unsurnya itu masuk. Jadi targetnya itu taqwa,” tegasnya.

Tapi, bentang ciri takwa di atas, acapkali masih menjadi paradoks, lebih-lebih pasca-Ramadhan belalu. Sehingga timbul pertanyaan mendasar: apakah ciri itu sudah terhunjam dalam diri ini?

“Jadi, kalau setelah berpuasa justru menjadi pelit, atau malah mudah marah dan tidak mudah memaafkan, maka derajat ketakwaannya patut dipertanyakan,” beber Afnan.

Di sinilah letak fundamentalnya Ramadhan. “Kesempatan refleksi, muhasabah diri,” tegasnya, sekali lagi. Hal itu amat perlu, untuk melongok kembali apakah tujuan hidup hakiki sudah teaktualisasi, atau justru jauh panggang dari api. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Bekali Pelajar Bandung untuk Masa Depan Lebih Cerah BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Masa remaja....

Suara Muhammadiyah

29 August 2025

Berita

MAKKAH, Suara Muhammadiyah - Menjelang puncak pelaksanaan ibadah haji (Armuzna), Petugas Penyelengga....

Suara Muhammadiyah

20 May 2025

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah - Tiga Rumah Sakit PKU Muhammadiyah: Yogyakarta, Gamping, dan Sleman sere....

Suara Muhammadiyah

28 May 2026

Berita

Terima Bantuan Peralatan P3K dan Logistik dari MPKU PDM Cilacap  CILACAP, Suara Muhammadiyah -....

Suara Muhammadiyah

17 March 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Pada momen libur panjang Idul Adha 1447 H, Angkatan Muda Muha....

Suara Muhammadiyah

30 May 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah