Renungan Ramadhan tentang Sumbatan pada Telinga
Oleh: Mohammad Fakhrudin, Warga Muhammadiyah Magelang
Ada tradisi pada sebagian muslim (Indonesia) menyambut kelahiran bayi dengan memperdengarkan azan ke telinga kanan dan memperdengarkan ikamah ke telinga kiri. Mereka melakukannya dengan rujukan HR at-Turmuzi,
عَنْ عَاصِمُ بْنُ عُبَيْدِ اللَّهِ عَنْ عُبَيْدِ اللَّهِ بْنِ أَبِي رَافِعٍ عَنْ أَبِيهِ قَالَ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَذَّنَ فِي أُذُنِ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ حِينَ وَلَدَتْهُ فَاطِمَةُ
“Dari ‘Asim bin ‘Ubaidillah dari ‘Ubaidillah bin Abi Rafi’ dari ayahnya, ia berkata, Saya melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melakukan azan pada telinga Hasan ketika ia baru dilahirkan oleh Fatimah.”
Di samping didasarkan hadis tersebut, tradisi memperdengarkan azan dan memperdengarkan ikamah kepada bayi yang baru lahir didasarkan argumen bahwa pada usia 18-20 minggu, perkembangan indra pendengar bayi dalam kandungan sudah benar-benar utuh. Janin sudah mulai dapat mendengar suara dari dalam rahim. Ia pun juga mulai mendengar suara aliran darah melalui plasenta, suara denyut jantung, hingga suara udara pada paru-paru. Lalu, pada usia 24-26 minggu, janin sudah dapat merespons suara-suara keras yang didengarnya.
Perkembangan kemampuan mendengar pada bayi tersebut diuraikan misalnya di dalam artikel “Tahap Perkembangan Pancaindra Janin dalam Kandungan” yang dipublikasi secara online di Hello Sehat.
Berkenaan dengan itu, pada era modern banyak ibu hamil muda sering mendaras Al-Qur’an dan memperdengarkan muratal untuk bayi yang dikandungnya. Ada di antara mereka yang menggunakan Belly Buds/Pregnancy Speaker yang ditempelkan di perutnya. Dengan cara demikian, sejak dini bayi diharapkan sudah dapat “merekam” pada memorinya bacaan ayat-ayat Al-Qur’an.
Dalam hububungannya dengan hadis tentang memperdengarkan azan kepada bayi yang baru lahir, Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah menilai hadis tersebut tidak dapat dijadikan rujukan. Argumennya adalah di kalangan ulama hadis, seperti Yahya bin Ma’in menilai ‘Ubaidillah itu lemah. Al-Bukhari menilai hadis itu mungkar, sedangkan Muhammad bin Saad mengatakan tidak berhujjah dengan hadis tersebut. Berdasarkan pendapat para ulama tersebut, Muhammadiyah dalam ketetapan tarjihnya tidak mengamalkan hadis tentang azan di telinga bayi yang baru dilahirkan.
Penyebab Sumbatan pada Telinga
Sangat mungkin jika anak kecil lebih sering mendengar (mendengarkan) pembicaraan maksiat dan lagu maksiat, bunyi (suara) itulah yang terekam dengan baik pada sarafnya yang berakibat menjadi sumbatan pada telinga. Akibat selanjutnya, mereka sulit menerima pelajaran kebenaran dan kebaikan Ilahi. Bahkan, mereka mungkin menolak ketika kita memperdengarkan murotal Al-Qur'an dan lebih memilih mendengar dan mendengarkan lagu “ndangdut koplo” karena lagu itulah yang tiap hari didengar (didengarkannya), padahal liriknya banyak yang tidak edukatif. Jika keadaan yang demikian itu berlangsung terus-menerus, sangat mungkin sumbatan di telinganya makin tebal sehingga makin kuat menolak untuk mendengarkan nasihat kebenaran dan kebaikan Ilahi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an surat al-An’am (6):25
وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّسْتَمِعُ اِلَيْكَۚ وَجَعَلْنَا عَلٰى قُلُوْبِهِمْ اَكِنَّةً اَنْ يَّفْقَهُوْهُ وَفِيْٓ اٰذَانِهِمْ وَقْرًاۗ وَاِنْ يَّرَوْا كُلَّ اٰيَةٍ لَّا يُؤْمِنُوْا بِهَاۗ حَتّٰٓى اِذَا جَاۤءُوْكَ يُجَادِلُوْنَكَ يَقُوْلُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْٓا اِنْ هٰذَآ اِلَّآ اَسَاطِيْرُ الْاَوَّلِيْنَ
“Di antara mereka ada yang mendengarkan engkau (Nabi Muhammad membaca Al-Qur’an), padahal Kami menjadikan di hati mereka penutup (sehingga mereka tidak) memahaminya, dan (Kami jadikan) pada telinga mereka penyumbat. Jika mereka melihat segala tanda kebenaran, mereka tetap tidak beriman padanya sehingga apabila mereka datang kepadamu untuk membantahmu, orang-orang kafir itu berkata, “Ini (Al-Qur’an) tiada lain hanyalah dongengan orang-orang terdahulu.”
Menurut Hamka di dalam Tafsir Al-Azhar, penyumbat itu diberikan kepada orang-orang yang taklid pada ajaran nenek moyangnya. Meskipun salah, tetap saja mereka tidak mau mendengarkan penjelasan yang berisi kebenaran berdasarkan Al-Qur’an dan as-Sunnah. Mereka malah marah.
Orang-orang yang taklid seperti itu tidak hanya ada pada masa lalu, tetapi juga pada zaman sekarang, bahkan, mungkin juga pada masa yang akan datang.
Warga Muhammadiyah dikondisikan tidak taklid sejak lahirnya Muhammadiyah. Di bidang fikih misalnya, ada dinamika. Hebatnya Muhammadiyah adalah dapat mengelola dinamika itu dengan baik.
Sejarah telah mencatat perjuangan K.H.A. Dahlan membetulkan arah kiblat dan menyelenggarakan pendidikan secara modern. Dia ditentang, dicaci maki, disebut kiai kafir, kiai palsu, dan masjidnya dibakar.
Sementara itu, mulai 1 Muharram 1447 H bertepatan dengan 26 Juni 2025 M, Muhammadiyah menerapkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) termasuk dalam penetapan 1 Ramadhan, 1 Syawal, dan 10 Zulhijjah 1447. Ada yang bersikap sinis. Ada yang menentang.Terhadap sikap mereka, Muhammadiyah merespons dengan penjelasan akademis dengan tetap merujuk kepada Al-Qur'an.dan as-Sunnah.
Pengaruh Kebiasaan Mendengarkan
Berapa menit kita diberi kenikmatan dapat mendengar dan mendengarkan dalam sehari semalam? Apakah kita termasuk golongan orang-orang yang mensyukuri nikmat telinga jika memanfaatkan telinga untuk mendengar dan mendengarkan ayat-ayat Al-Qur’an ceramah dan/atau percakapan islami; lagu islami dalam sehari semalam 5, 10, atau 15 menit?
Adakah di antara kita yang pernah menghitung berapa menit (1) memperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an dan al-Hadis kepada anak-anak dan cucu; (2) memperdengarkan ceramah dan/atau percakapan islami; (3) memperdengarkan lagu islami, dan (4) nonton bareng film islami?
Pembiasaan mendengarkan muratal, qiraah, ceramah dan dialog islami, dan kisah orang saleh dapat berpengaruh sangat positif pada kita. Oleh karena itu, sangat ideal jika kita membiasakan diri mendengarkannya dan membiasakan anak cucu mendengarkannya.
Doa dan Ikhtiar
Agar memiliki filter di telinga, diperlukan doa dan ikhtiar. Kadang-kadang diperlukan waktu yang lama.
Berikut ini adalah contoh doa agar telinga kita dicahayai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala
اللَّهُمَّ اجْعَلْ فِي قَلْبِي نُورًا وَفِي لِسَانِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي سَمْعِي نُورًا وَاجْعَلْ فِي بَصَرِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ خَلْفِي نُورًا وَمِنْ أَمَامِي نُورًا وَاجْعَلْ مِنْ فَوْقِي نُورًا وَمِنْ تَحْتِي نُورًا اللَّهُمَّ أَعْطِنِي نُورًا
“Ya Allah, jadikanlah di dalam hatiku cahaya dan di dalam lisanku (juga) cahaya. Jadikanlah di dalam pendengaranku cahaya dan di dalam peglihatanku (juga) cahaya. Jadikanlah dari belakangku cahaya dan dari depanku (juga) cahaya. Jadikanlan dari atasku cahaya dan dari bawahku (juga) cahaya. Ya Allah, berilah aku cahaya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Doa berikut ini berisi permohonan perlindungan dari buruknya indra pendengar.
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ سَمْعِي، وَمِنْ شَرِّ بَصَرِي، وَمِنْ شَرِّ لِسَانِي، وَمِنْ شَرِّ قَلْبِي، وَمِنْ شَرِّ مَنِيِّي
“Ya Allâh! Sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari buruknya pendengaranku, buruknya penglihatanku, buruknya lidahku, dan dari buruknya hatiku, serta buruknya angan-anganku.” (HR at-Tirmizi)
Berikut ini contoh doa mohon kesehatan badan, telinga, dan mata.
اَللَّهُمَّ عَافِنِى فِى بَدَنِى اللَّهُمَّ عَافِنِى فِى سَمْعِى اللَّهُمَّ عَافِنِى فِى بَصَرِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَاَللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ اللَّهُمَّ إِنِّى أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ
"Ya Allah, sehatkanlah tubuhku, sehatkanlah pendengaranku, sehatkanlah penglihatanku, tidak ada Tuhan selain Engkau. Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu dari kekafiran dan kemiskinan. Ya Allah, aku berlindung dengan-Mu dari siksa kubur, tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi selain Engkau.” (HR Abu Dawud)
Perlu kita pahami pula bahwa berwudu dengan mengusap telinga ketika mengusap kepala, hakikatnya mengandung pelajaran yang berkenaan dengan ikhtiar dan doa menjaga telinga agar bersih dari kemaksiatan. Jadi, aneh jika ada orang sudah berwudu beribu-ribu, bahkan, berjuta-juta kali, tetapi belum menggunakan telinga sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Ada ulama yang berpendapat bahwa mengazani bayi yang baru saja lahir merupakan salah satu ikhtiar memperkenalkan kalimat “thayyibah”. Dianjurkannya agar orang yang mengazani adalah ayahnya.
Lepas dari rujukan dalil Al-Qur’an dan al-Hadis, ada nilai religius "islami" yang dapat dipetik, yakni memperdengarkan kepada anak kalimat “thayyibah” sebagai kalimat pertama yang didengarkannya, diharapkan dapat menjadi fondasi pada memori anak. Nilai religius "islami" lainnya adalah tanggung jawab ayah terhadap anaknya dalam pendidikan akidah.
Sudah kita yakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala yang menciptakan telinga. Oleh karena itu, kita terus-menerus berdoa agar telinga kita, anak, cucu, saudara, teman, dan tetangga diberi filter.
Sungguh disayangkan, jika orang sudah uzur usia, tetapi lebih sering menggunakan telinganya untuk mendengarkan sesuatu yang nilai manfaatnya bagi kehidupan akhirat sangat sedikit. Bukankah makin tua, makin dekat dengan ajal? Betapa ruginya, jika sedang asyik mendengarkan pembicaraan mubazir atau maksiat, dijemput malaikat!
Harus makin kita sadari bahwa usia adalah hak prerogatif Allah Subhanahu wa Ta’ala. Usia dapat berakhir kapan saja! Jangan menunggu tua sebab tua itu tak pasti!
Allahu a’lam
