Ruang Tengah Buya ASM dan Indonesia Kini

Suara Muhammadiyah

26 June 2026

58
Dokumen pribadi

Dokumen pribadi

Ruang Tengah Buya ASM dan Indonesia Kini

Oleh: Ode Rizki Prabtama

Saya bersyukur disempatkan menghadiri malam puncak bulan Ahmad Syafii Maarif (ASM) 2026 yang digelar Maarif Institute, 18 Juni, di Museum Nasional. Malam itu, bersama teman-teman, kami duduk di tengah ratusan peserta yang mayoritas datang dari generasi milenial dan Z, sebagian Alpha, dan beberapa senior yang hadir menyaksikan sekaligus memberi testimoni, penggalan ingatan tentang keteladanan Buya.

Maarif Institute, saya kira, sukses menyelenggarakan acara ini. Selain sambutan para tokoh yang mengagumkan, ada pertunjukan tarian Betawi, puisi, tayangan musikal Bertutur tentang Guru Bangsa Kaba Kebangsaan dari Minangkabau, dan peluncuran buku Buya Syafii di Mata Orang Biasa. Acara malam itu sesungguhnya adalah puncak dari rangkaian panjang Tadarus Pemikiran Ahmad Syafii Maarif, Menjaga Suluh Merawat Nurani Bangsa yang telah berlangsung sejak beberapa bulan sebelumnya.

Buku yang diluncurkan cukup menarik, sebab tulisan di dalamnya memotret cerita-cerita kecil tentang Buya dari tiga latar sosio-kultural penting, yakni Sumatera Barat, Yogyakarta-Wonogiri, dan Jakarta. Tiga simpul geografis yang masing-masing menyimpan wajah Buya yang berbeda, namun tetap satu dalam watak, rendah hati, lurus, dan tak kenal kompromi dengan kezaliman.

Semasa hidup Buya, perjumpaan saya dengannya tidak banyak. Namun seperti kebanyakan aktivis muda Muhammadiyah, kami begitu merasa dekat dengan keteladanannya. Buya yang saya kenal adalah satu dari sedikit tokoh berpengaruh yang dalam situasi apa pun selalu berusaha menarik Indonesia dan Islam ke garis tengah, dengan semangat kemanusiaan yang tak pernah padam. Buya seolah terus mengatakan kepada kita, jangan bawa bangsa dan umat ini terjebak di gang-gang sempit, baik ekstrem kanan maupun kiri.

Pesan itu bukan sekadar nasihat retorik. Ia lahir dari pengalaman panjang seorang lelaki dari Sumpur Kudus yang tumbuh dalam kemiskinan, menempuh pendidikan di berbagai penjuru dunia, lalu kembali ke Indonesia bukan untuk mencari kuasa, melainkan untuk menjaga. Menjaga agar percakapan tentang bangsa dan agama selalu kembali ke substansinya, yakni keadilan, kemanusiaan, dan martabat.

Di tengah situasi Indonesia kekinian, pesan itu terasa semakin relevan sekaligus semakin berat untuk dipegang. Gejolak geopolitik global ikut menekan. Di dalam negeri, bangsa ini diperhadapkan pada perasaan yang getir dan bercampur-campur. Pemerintah di satu sisi bekerja dan mengampanyekan pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan hingga angka nol, perlawanan terhadap oligarki, efisiensi anggaran, dan penegakan hukum. Agenda-agenda itu bukan tanpa dasar dan niat baik di baliknya tidak sepatutnya kita abaikan begitu saja.

Namun di sisi lain, sebagian masyarakat dan para aktivis yang mengamati dengan cermat justru menaruh rasa tidak percaya, lalu marah. Perasaan itu pun tidak lahir dari kekosongan. Kelakuan pejabat yang korup, tata kelola program negara yang amburadul, aparat penegak hukum yang berlaku curang, semua itu memberikan kabar kuat bahwa para pengurus negara ini mengalami krisis keteladanan. Siapa mau dicontoh?

Buya Syafii pernah menyentil persoalan ini dengan jernih. Ia mencatat bahwa Indonesia tengah mengalami kelangkaan negarawan. “Kita krisis negarawan. Saya katakan, yang banyak politisi muncul. Saya katakan itu yang menyebabkan negara terpontal-pontal." Katanya.

Kata-kata itu terasa seperti diagnosis yang menelanjangi penyakit kronis bangsa ini. Ketika semua orang berlagak politisi, mulai dari pemerintah, aktivis, agamawan, pengusaha, bahkan warga yang terpelajar maupun tidak. Maka yang tumbuh subur bukan kebijaksanaan, melainkan kalkulasi kepentingan. Bukan percakapan tentang masa depan bangsa, melainkan pertarungan citra dan kubu. Seolah residu konflik pemilihan umum dua tahun lalu tidak ada habisnya, terus mengendap dan mengasami ruang publik.

Buya juga mengingatkan bahwa kritik terhadap penguasa adalah hak dan bahkan kewajiban moral warga negara. Tetapi ia menekankan bahwa cara menyampaikannya pun mencerminkan watak peradaban kita.

Buya bilang pada satu kesempatan "Perkara mengkritik pemerintah, oke. Tapi sampaikan dengan cara-cara yang elegan, cara-cara yang baik. Dan juga mestinya pemerintah mendengar kritik itu. Jadi jangan jor-joran kekuasaan, itu namanya kita tidak punya kepekaan."

Ada dua tuntutan yang sekaligus muncul di sini. Kepada warga dan aktivis, agar kritik disampaikan dengan bermartabat, bukan dengan semata-mata membakar emosi dan memperdalam polarisasi. Dan kepada pemerintah, agar tidak menutup telinga, apalagi menganggap kritik sebagai ancaman. Keduanya adalah syarat bagi sebuah demokrasi yang sehat. Bila salah satu abai, maka yang rusak bukan hanya sistem, melainkan kepercayaan yang menjadi lem perekat bangsa.

Kecintaan Buya pada Indonesia begitu dalam dan tidak kondisional. Meskipun ia pernah berkata bahwa sila kelima Pancasila itu ibarat yatim piatu, tak diasuh dengan sungguh-sungguh oleh siapapun, ia tetap meyakini bahwa Indonesia harus ada di bumi ini hingga satu hari menjelang kiamat.

Saya kembali ingat pada suatu saat. Bertepatan dengan empat puluh hari kepulangan Buya, saya ikut menghadiri Memorial Lecture Mengenang Buya Syafii Maarif: Guru Kemanusiaan Penjaga Panggung Kebhinekaan di Salihara Art Center. Di situ dada saya ikut basah menyaksikan budayawan sekaligus wartawan senior Gunawan Mohammad (GM) membacakan memorialnya tentang Buya sambil meneteskan air mata. Di mata GM, Buya bukan hanya rujukan pemikiran, tetapi juga teladan perilaku. Katanya saat itu, lebih dari pemikirannya, ia mengenal sikap hidupnya sebuah bonus sendiri ketika kita mengenal orang bukan karena ilmunya, tapi karena tindak tanduknya.

Kalimat itu membekas. Di tengah dunia yang membanjiri kita dengan informasi, opini, dan konten tanpa henti, kita justru kekurangan teladan hidup. Kita lapar bukan pada teks, melainkan pada sosok, manusia yang hidupnya menjadi argumen paling kuat bagi nilai-nilai yang ia perjuangkan. Buya adalah salah satu dari sedikit sosok itu.

Pertanyaan yang tersisa, dan ini yang justru paling mendesak, adalah siapa yang akan mengisi ruang yang Buya tinggalkan. Bukan dalam arti menggantikan postur dan karisma pribadinya, melainkan mewarisi postur berpikirnya, cara berdirinya di antara dua kutub yang saling menarik dengan keras.

Sebab itulah yang paling merisaukan dari wajah Indonesia hari ini. Percakapan publik kita semakin didominasi oleh dua kelompok yang sama-sama tidak dapat dibenarkan. Di satu sisi terdapat para loyalis buta yang menganggap setiap kritik terhadap pemerintah sebagai pengkhianatan, yang menutup mata atas fakta-fakta yang menyakitkan demi mempertahankan keyakinan bahwa segala sesuatunya baik-baik saja. Di sisi lain terdapat oposisi fanatik yang menolak mengakui satu pun kebaikan dari pihak yang berkuasa, yang menjadikan permusuhan bukan sebagai alat perjuangan melainkan sebagai identitas permanen. Kedua kelompok ini, meski tampak berlawanan, sesungguhnya berbagi satu cacat yang sama, yaitu ketidakmampuan untuk berpikir merdeka dari rasa suka dan benci yang telah mengeras menjadi ideologi.

Buya tidak berada di antara keduanya dalam pengertian yang lemah dan tidak berpendirian. Ia berdiri di tengah justru karena ia memiliki prinsip yang jauh lebih kuat dari sekadar kesetiaan kepada kelompok. Ketika ia mengkritik pemerintah, kritiknya bukan lahir dari kebencian. Ketika ia membela Pancasila dan kebhinekaan, pembelaannya bukan semata karena sentimen kebangsaan. Semua berakar pada keyakinan moral tentang kemanusiaan dan keadilan yang ia bangun selama berpuluh tahun.

Ruang tengah yang ditinggalkan Buya itu kini kosong dan berbahaya bila dibiarkan tidak berpenghuni. Ruang kosong dalam percakapan publik, sebagaimana ruang kosong dalam fisika, cenderung diisi oleh apa pun yang paling kencang bergerak. Dan yang paling kencang bergerak hari ini adalah kebisingan. Maka mereka yang sadar, mereka yang pernah belajar dari keteladanan Buya betapa mahalnya harga sikap tengahan itu, memikul tanggung jawab untuk mengisi ruang itu dengan kesadaran, bukan dengan kebisingan tandingan. 

Ode Rizki Prabtama, Ketua DPP IMM Bidang Pendidikan Bahasa dan Pengembangan Akdemik


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

SM Layak Menjadi Cagar Budaya Oleh: Affan Safani Adham  Sekarang ini media satu persatu hilan....

Suara Muhammadiyah

12 August 2025

Wawasan

Berjuang Tanpa Jeda, Sehat Terlupa: Ironi Mubaligh Kita Oleh: Saiev Dzaky El Kemal, S.H.,M.E, Wakil....

Suara Muhammadiyah

3 June 2026

Wawasan

Oleh: Dina Sutiana, Mahasiswi Pascasarjana Manajemen Pendidikan Islam / Aktivis Literasi Islam Seko....

Suara Muhammadiyah

26 June 2025

Wawasan

Refleksi Milad IMM ke-61: Merawat Ikatan, Membangun Indonesia Berkemajuan Oleh: M. Rendi Nanda Sapu....

Suara Muhammadiyah

14 March 2025

Wawasan

Peran Guru di Amal Usaha Muhammadiyah: Dari Pendakwah hingga Pemimpin Jamaah Oleh: Dr. Hasbull....

Suara Muhammadiyah

13 December 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah