Rupiah Melemah dan Sentimen Geopolitik Global

Suara Muhammadiyah

27 January 2026

927
Foto Istimewa

Foto Istimewa

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Tekanan terhadap nilai tukar Rupiah yang terjadi belakangan ini dinilai lebih dominan dipengaruhi oleh sentimen global dan ketidakstabilan geopolitik dunia, nilai tukar rupiah pada penutupan perdagangan kemarin, Selasa, 21 Januari 2025 anjlok ke level Rp 16.956 per dolar Amerika Serikat. Hal tersebut disampaikan oleh Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Prof. Dr. Anton Agus Setyawan, S.E., M.Si., dalam menanggapi kondisi ekonomi nasional terkini.

Menurutnya, situasi geopolitik global yang memanas, mulai dari isu Venezuela, ketegangan di Greenland yang melibatkan The North Atlantic Treaty Organization (NATO), hingga konflik Rusia-Ukraina yang belum mereda, turut memberikan efek kepada investor global mengambil langkah aman (safety flight) dengan menarik aset mereka ke instrumen yang lebih likuid dan aman.

"Saya melihatnya kondisi sekarang lebih pada sentimen global. Isu geopolitiknya luar biasa, investor menjadi bingung ketika sekutu bisa menjadi musuhan, belum lagi kondisi di Iran. Ini yang membuat investor memilih aset aman, sehingga berpengaruh ke mata uang kita, dan sebenarnya bukan hanya Rupiah, mata uang lokal negara lain juga terdampak," ujarnya, Jum’at, (23/1) saat ditemui di ruangannya.

Terkait penarikan dana oleh Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa sekitar Rp 75 triliun dari dana Rp 276 triliun SAL (Sisa Anggaran Lebih) yang ditempatkan di Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) sempat menjadi sorotan publik, Ekonom UMS memberikan pandangannya. Ia menjelaskan bahwa langkah tersebut bukanlah sinyal negatif, melainkan strategi pemerintah untuk mempercepat pembiayaan proyek-proyek strategis yang berdampak langsung pada sektor riil.

Ia menilai, penarikan dana tersebut karena respons sektor riil terhadap kredit perbankan belum seoptimal yang diharapkan. Oleh karena itu, pemerintah mengambil inisiatif menggunakan dana tersebut untuk proyek strategis agar uang dapat berputar lebih cepat di masyarakat dan menstimulasi perekonomian.

"Sebenarnya di makroekonomi, selama duit itu berputar, itu tidak masalah. Justru kalau mengendap di perbankan dan tidak disalurkan, itu jadi masalah. Penarikan ini untuk proyek pemerintah yang jelas akan masuk ke sektor riil, mengingat swasta nampaknya belum cukup percaya diri dengan kondisi global saat ini," jelas Anton.

Lebih lanjut, Anton juga menyoroti kondisi utang pemerintah yang saat ini dinilai lebih sehat secara struktur. Menurut data terbaru, sekitar 72 persen utang pemerintah kini berbentuk Surat Berharga Negara (SBN) domestik, sehingga risiko fluktuasi kurs mata uang asing terhadap APBN dapat diminimalisir dibandingkan era sebelumnya yang sangat bergantung pada utang luar negeri.

"Kebijakan Kementerian Keuangan sudah cukup bagus mengatur risiko itu. Negara-negara berkembang sekarang, seperti laporan Bank Dunia, memang cenderung tidak mau lagi bergantung pada utang luar negeri, mereka lebih memilih menerbitkan surat berharga negara yang diserahkan ke masyarakat sendiri, sehingga return-nya kembali ke rakyat," pungkasnya. (Al/Humas)
--


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

Gelar Pelepasan Siswi Kelas XII Tahun Pelajaran 2023/2024 YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Mad....

Suara Muhammadiyah

18 May 2024

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Sejak awal kelahirannya, Rumah Sakit Asri Medical Centre (AMC....

Suara Muhammadiyah

13 June 2026

Berita

PONTIANAK, Suara Muhammadiyah - Di tengah meningkatnya ancaman krisis iklim dan menipisnya solidarit....

Suara Muhammadiyah

13 October 2025

Berita

BANDUNG, Suara Muhammadiyah — Tahun ini, Muhammadiyah genap berusia 113 tahun. Selama lebih da....

Suara Muhammadiyah

14 November 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Umat Islam pada bulan Ramadhan menjadi momentum untuk menambah keta....

Suara Muhammadiyah

30 March 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah