Prof Triyo Supriyatno Menghidupkan STEM dan Optimisme Murid Muhammadiyah
MALANG, Suara Muhammadiyah - Suasana kelas VI SD Muhammadiyah 1 Malang tampak berbeda pada siang hari itu. Bukan sekadar pembelajaran rutin, tetapi pengalaman belajar yang bermakna dan membekas. Prof. Dr. H. Triyo Supriyatno, M.Ag., Ph.D., Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan (WR III) UIN Maulana Malik Ibrahim Malang sekaligus Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Malang, hadir langsung mengajar murid sekolah dasar dengan pendekatan sederhana namun sarat nilai.
Di hadapan para murid, Prof. Triyo menghadirkan eksperimen sederhana: sebuah toples berisi air dengan sebutir jeruk di dasar wadah. Tantangannya, murid diminta mengambil jeruk tersebut tanpa menumpahkan air. Awalnya tampak mustahil. Namun melalui arahan, dialog, dan keberanian mencoba, murid menemukan solusi dengan memutar air perlahan menggunakan telapak tangan hingga jeruk naik ke permukaan.
“Ilmu pengetahuan tidak selalu lahir dari alat canggih. Yang terpenting adalah keberanian berpikir, mencoba, dan tidak mudah menyerah,” ujar Prof. Triyo di sela pembelajaran. Menurutnya, pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, Mathematics) perlu dikenalkan sejak dini sebagai cara berpikir dan sikap hidup, bukan sekadar konsep akademik.
Eksperimen air dan jeruk tersebut menjadi pintu masuk untuk memahami fenomena sains tentang fluida, pusaran air, dan gaya angkat. Murid juga belajar aspek rekayasa melalui proses trial and error, memanfaatkan teknologi paling dekat telapak tangan serta memahami matematika melalui kecepatan, waktu, dan pola gerak air.
Kepala SD Muhammadiyah 1 Malang, Rizka Silvia, S.PdI, M.Pd, mengapresiasi kehadiran
Prof. Triyo yang menurutnya menghadirkan pembelajaran bermakna sekaligus keteladanan.
“Anak-anak tidak hanya belajar sains, tetapi juga belajar optimisme, kesabaran, dan keberanian menghadapi tantangan. Kehadiran Prof. Triyo menunjukkan bahwa ilmu setinggi apa pun harus tetap membumi dan menyapa murid,” tuturnya.
Sementara itu, siti NoorKhayati, guru kelas VI, melihat langsung perubahan sikap murid selama proses pembelajaran berlangsung.
“Tampak jelas murid-murid belajar bahwa gagal bukan akhir. Mereka mencoba dengan lebih pelan, mengevaluasi cara, lalu memperbaikinya. Ini bukan hanya pelajaran sains, tetapi pelajaran hidup,” ujarnya.
Dari bangku kelas, najwa, salah satu murid kelas VI, mengaku senang dengan metode pembelajaran yang berbeda tersebut.
“Awalnya saya pikir jeruknya tidak mungkin bisa naik. Tapi ternyata bisa kalau sabar dan caranya benar. Jadi saya yakin, pelajaran yang sulit pun bisa dipahami kalau tidak menyerah,” katanya.
Pembelajaran siang itu menegaskan bahwa STEM bukan pendekatan eksklusif bagi sekolah dengan fasilitas mewah. Dari air yang berputar dan jeruk yang perlahan naik, murid belajar tentang hukum alam sekaligus membangun karakter optimis bahwa solusi sering lahir dari ketenangan, konsistensi, dan kesungguhan.

