Sapi Kurban

Publish

4 May 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
54
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Sapi Kurban

Oleh: Wahyudi Nasution

Sudah lama sekali Pak Bei tidak berjumpa dengan sahabatnya yang satu ini, Kang Narjo. Sejak berhenti langganan koran Solo Pos sekitar tiga tahun lalu, perjumpaan keduanya bisa dihitung dengan jari. Mungkin dua atau tiga kali. Dan sore ini, ketika Pak Bei sedang menikmati kopi Semendo sambil buka-buka berita online di hpnya, tiba-tiba datang dua bapak-bapak berboncengan sepeda motor parkir di bawah pohon mangga.

"Assalaamu'alaikum...," kata laki-laki yang suaranya tidak asing.

"Wa'alaikumsalam...Wah Kang Narjo. Alhamdulillaah. Monggo pinarak. Monggo, Mas," Pak Bei mempersilakan sahabat dan temannya duduk di kursi teras, tempat biasa Pak BEI Nerima tamu-tamunya.

"Makanya kok tumben sejak siang tadi ada burung prenjak ganter-ganter. Ternyata mau ada tamu agung," kata Pak Bei.

"Walah Pak Bei ada-ada saja.  Ini saya ngantar teman, tetangga sebelah rumah, namanya Kang Pardi," Narjo memperkenalkan temannya.

"Mas Pardi baru sekali ini ikut Kang Narjo ke sini, ya?," tanya Pak Bei.

"Injih, Pak Bei," jawab Kang Pardi.

"Sebentar saya buatkan kopi ya, Kang," kata Pak Bei sambil beranjak meninggalkan kedua tamunya. Untuk tamu spesial, Pak Bei biasa membuat kopi sendiri, tidak menyuruh anak-anaknya.

"Kami jadi ngrepoti Pak Bei ini," kata Kang Narjo menyambut Pak Bei datang dengan dua gelas di nampan.

"Ngrepoti apa? Kan cuma kopi, Kang," jawab Pak Bei.

Obrolan ringan pun terjadi antara dua sahabat yang lama tidak berjumpa, dari soal kabar keluarga dan anak-cucu, soal langganan koran Kang Narjo yang semakin habis, hingga soal dapur SPPG-MBG dan pembangunan gerai KDMP di Desanya. Biasa, dari dulu Kang Narjo memang suka obrolan tema-tema aktual yang disaksikan atau dibacanya di koran pagi.

"Pangapunten, Pak Bei. Kami sowan kemari ini ada perlu sedikit," Kang Narjo mulai mengalihkan obrolan.

"Ada apa, Kang? Kok sajak wigati."

"Silakan Kang Pardi matur sendiri. Mumpung bisa ketemu. Saya kan cuma menemani," Kang Narjo menyilakan temannya ngomong.

"Begini, Pak BEI. Sebelumnya saya minta maaf kalau Pak Bei kurang berkenan."

"Tenang saja, Mas Pardi. Slow wae."

"Saya ini sehari-hari bertani, Pak Bei. Cuma petani penggarap. Tidak punya sawah sendiri. Jadi cuma nyewa, lalu saya tanami padi diselingi jagung. Bila ada uang sisa penjualan panenan, saya belikan domba dan pedhet (anak sapi) sebagai tabungan."

"Bagus itu, Mas. Ada berapa ekor?"

"Alhamdulillaah domba ada dua indukan, satu pejantan, dan enam anakan. Dari enam anakan itu, ada empat yang sudah poel, sudah dewasa."

"Sapinya ada berapa, Mas?"

 "Ada dua ekor, Pak BEI, jantan semua"

"Wah hebat itu, Mas."

"Saya ke sini mau minta tolong Pak Bei."

"Apa yang bisa saya bantu, Mas Pardi?"

"Saya mau menjual dua sapi saya. Ini kan musim kurban, banyak orang mencari sapi. Kebetulan kami sedang butuh uang untuk biaya anak mau kuliah. Sudah daftar dan ikut tes UTBK minggu lalu, ini masih menunggu pengumuman."

"Semoga anaknya keterima di PT yang diinginkan, Mas."

"Amiin. Matur nuwun, Pak Bei. Tolong Pak Bei beli sapi saya, ya. Atau, tolong dibantu menawarkan ke teman Pak Bei yang membutuhkan sapi kurban."

"Ada foto sapinya, Mas. Tolong saya dikirimi, ya. Saya coba bantu tawarkan ke teman-teman."

"Kebetulan saya bawa hp anak saya, Pak Bei. Ada fotonya di sini. Monggo  dipirsani."

Pak Bei langsung melihat foto-foto sapi di galery hp Mas Pardi dan mengirim ke hpnya. Kelihatan gemuk-gemuk, layak untuk kurban.

"Ini berapa harga Mas Pardi?"

"Yang hitam itu Sapi Jawa, berat sekitar 375 kg, harga 25 juta. Yang hitam kecoklatan itu Symental Cros, berat sekitar 450 kg, harga 27 juta."

"Tinggi juga ya harganya, Mas."

 "Pasarannya memang segitu, Pak Bei. Sejak ada wabah PMK 3 tahun lalu, semakin sedikit petani berani memelihara sapi. Kebanyakan beralih ke kambing."

"Ooh begitu, ya? Sapi-sapi Mas Pardi ini bagaimana? Apakah cukup sehat dan sudah divaksin?"

"Insya Allah aman, Pak Bei. Kondisinya sehat, dan sudah divaksin Pak Mantri."

"Tolong Kang Pardi ini dibantu ya, Pak Bei. Tabungannya ya sapi itu. Mau nguliahkan anak, pasti butuh biaya tidak sedikit," Kang Narjo menimpali.

"Insya Allah saya bantu woro-woro, Kang. Semoga ketemu jodohnya."

"Aamiin. Matur nuwun, Pak Bei," kata Kang Pardi dengan wajah tampak penuh harap.

"Kami pamit dulu, Pak Bei. Sebentar lagi azan Maghrib. Saya harus bertugas ngimami," Kang Narjo pamitan.

Pak Bei nguntapke kedua tamunya hingga di pintu gerbang.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Meneladani Ghirah Perjuangan Menghidupkan PCIM-PCIA Malaysia dari Nita Nasyithah Oleh: Windu Wuland....

Suara Muhammadiyah

25 May 2024

Humaniora

Cerpen Risen Dhawuh Abdullah  Suara jejarum hujan yang membentur atap seng teras tak dapat men....

Suara Muhammadiyah

8 March 2024

Humaniora

Hikmah Ibadah Haji 1445 H / 2024 M Aris Rakhmadi, S.T., M.Eng., Dept of Informatics Engineering, Un....

Suara Muhammadiyah

26 June 2024

Humaniora

Cerpen Risen Dhawuh Abdullah Dan untuk yang kesekian kalinya, ayah mengulanginya lagi. Ayah sama se....

Suara Muhammadiyah

16 February 2024

Humaniora

Silaturrahmi 1447: Perjumpaan Fisik dan Peningkatan Kualitas Oleh: Mahli Zainuddin Tago Jogja, 26 ....

Suara Muhammadiyah

29 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah