JOMBANG, Suara Muhammadiyah – Hidup sesungguhnya adalah suatu ujian. Ujian untuk menentukan pilihan. Pilihan itulah yang akan menentukan kualitas, menentukan nilai. Demikian Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Muhammad Saad Ibrahim mengemukakan.
“Itulah pada pokoknya naskah ujian yang dihadapkan kepada kita. Dalam upaya menentukan pilihan tersebut, tidak henti-hentinya terjadi perjuangan batin antara memilih kebaikan atau keburukan, antara kebenar atau kebathilan, antara kejujuran atau kedustaan,” tuturnya, Rabu (27/5) saat Khutbah Idul Adha 1447 H di Pelataran Parkiran Jombang Muhammadiyah Center (JMC) Kapten Piere Tendean, Sengon, Jombang, Jawa Timur.
Dalam perjuangan batin seperti itu, kata Saad, umat Islam dituntut untuk berkorban, tidak hanya dalam rangka memilih kebaikan, bahkan memilih keburukan pun juga ada pengorbanan. Tentunya pengorbanan yang punya nilai adalah pengorbanan yang dapat menyampaikan kita pada kebaikan.
“Semakin tinggi dan besar kadar korban itu, semakin tinggi pula kadar perjuangan yang ditempuh. Semakin tinggi jiwa seorang pejuang, semakin banyak pengorbanan yang dituntut, dan itu menandakan semakin berat pula ujian yang ditempuh,” tegas Saad.
Ujian yang berat tidak akan diberikan kepada orang yang berjiwa kecil. Oleh karena itu, kata Saad perlu memiliki jiwa yang besar. Apa gerangan? Tak lain, menghadapi ujian yang berat! Sebagaimana yang telah menimpa Ibrahim, Ismai'il dan keluarganya adalah ujian yang amat berat yang mengantarkan mereka menjadi pribadi-pribadi besar dalam sejarah umat manusia.
“Betapa bukan suatu ujian yang amat berat yang pernah dihadapi oleh manusia suatu perintah untuk mengorbankan anak kandungnya, darah dagingnya sendiri - Isma'il - dalam kilatan tajamnya pedang dalam bayangan jerit kepedihan. Sekali lagi jika kita menghendaki memiliki jiwa yang besar, bersiaplah menghadapi ujian yang berat, amat berat,” bebernya.
Demikianlah, Allah memberikan kepastian bahwa ujian itu pasti terjadi. Oleh karena itu kita harus mempersiapkan diri sematang-matangnya dengan cara meneladani pribadi-pribadi yang telah sukses menghadapi ujian dan cobaan.
“Dalam rangka meneladani pribadi-pribadi besar tersebut, marilah kita berusaha memahami untaian mutiara hikmah yang terkandung di dalam sudut-sudut apresiasi keagamaan mereka untuk kepentingan upaya pembangunan yang sedang kita lakukan,” terangnya.
Pembangunan itu sejak semula memiliki dua dimensi seperti yang jauh-jauh sudah dipancangkan: bangunlah jiwanya, bangunlah badannya untuk Indonesia Raya. Menurut Saad, ini merupakan suatu upaya untuk menjadikan hari esok lebih baik daripada hari ini.
“Dengan memulai membangun mental spiritual untuk kemudian melangkah pada fiisik, material, persis seperti yang kita dengungkan pada lagu kebangsaan kita,” tandas Saad. (Cris)

