Semua Ada Kesempatannya

Suara Muhammadiyah

4 October 2024

1668
Doc. Istimewa

Doc. Istimewa

Kita harus bersyukur sampai sekarang, masih bisa menjalani hidup di muka bumi dengan keadaan sehat. Hidup hanya sekali memberikan dorongan kepada manusia untuk memanfaatkan kesempatan yang ada. Kesempatan adalah waktu untuk melakukan sesuatu. Apapun paradigmanya, yang pasti semua orang diberikan kesempatan yang sama oleh Tuhan.

Yakni kesempatan bercita-cita sebagai apa saja baik itu menjadi seorang jurnalis, penulis, masinis, artis, notaris, dan lain sebagainya. Semua ada kesempatan untuk mewujudkan cita-cita tersebut. Tetapi problematikanya ketika ada kesempatan terkadang tidak pernah memanfaatkan, yang terjadi menyia-nyiakannya begitu saja. Yang tersisa kemudian ampasan penyesalan dan kerugian karena ketidaksungguhan dalam memanfaatkan kesempatan yang ada.

Perilaku ini masih sering terjadi. Padahal, kesempatan niscaya mahal harganya. Kesempatan tidak datang dua kali, hanya sekali. Waktu yang dipersembahkan Tuhan, hendaknya dimanfaatkan sedemikian rupa bukan malah diabaikan begitu saja. Apalah artinya berpenampilan menawan, tapi dungu memanfaatkan kesempatan dan waktu yang ada. Tidak ada kemauan untuk berkemajuan, justru malah memilih berkemunduran.

Padahal, secara eksplisit Al-Qur'an memerintahkan kita untuk hidup berkemajuan. "Siapa pun yang mau di antara kalian itu yang menjadi berkemajuan atau berkemunduran," ujar-Nya di Qs al-Mudatsir (74): 37. Hidup berkemajuan maknanya meninggalkan deretan aktivitas buruk dengan menampilkan aktivitas yang bisa membawa kebermanfaatan dan kesejahteraan. Kuncinya lewat memanfaatkan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Kesempatan beribadah, belajar, dan bekerja sebagai bekal menyongsong kehidupan di masa depan.

Kita sadari banyak kesempatan yang terbuang sia-sia. Kita sembrono dengan waktu. Waktu sangat pendek, sementara yang panjang perjalanan menuju akhirat. Hidup ada batasannya, tatkala kereta kematian datang menjemput (Qs an-Nisa (4): 78), tidak ada seorang pun yang dapat menafikannya bahkan mengundurnya (Qs al-A'raf (7): 34). Penyesalan itu akan datang di akhir, sementara masih banyak kekurangan yang belum kita penuhi karena selama hidup di dunia tidak memanfaatkan kesempatan yang diberikan Tuhan dengan sebaik-baiknya.

Di situlah penyesalan tertinggi seorang manusia. Tapi sudah tidak berguna lagi. Banyak orang yang mengesampingkan kepentingan ini. Jika kita menggunakan standar hidup, maka orang cerdas akan bijak memanfaatkan kesempatan dan waktu untuk melakukan kegiatan positif. Nabi Akhir Zaman pernah berpetuah agar memanfaatkan kesempatan muda sebelum masa tua, sehat sebelum sakit, kaya sebelum miskin, waktu luang sebelum sibuk, dan hidup sebelum mati (HR Al-Hakim).

Semua ada kesempatannya, tinggal bagaimana kita memanfaatkannya. Karena itu, mari kita manfaatkan kesempatan dan waktu yang tersisa ini untuk melakukan kegiatan bermanfaat bukan mudarat apalagi mafsadat. Jika kita gagal, gunakan kesempatan untuk memulainya lagi. Jika kita salah, gunakan kesempatan untuk memperbaiki diri. Jika sudah salah dan tidak mau memperbaiki, merasa sudah paling benar sendiri, itulah orang picik pikiran yang menghancurkan dirinya sendiri. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Di Balik Penetapan Awal Ramadan 1447 H: Bukan Sekadar Alaska Oleh: Muhamad Rofiq Muzakkir, Lc., M.A....

Suara Muhammadiyah

17 February 2026

Wawasan

Allah Tak Pernah Ingkar Janji Oleh: Mohammad Fakhrudin Pada akhir-akhir ini gejala "ambruknya" akh....

Suara Muhammadiyah

19 July 2024

Wawasan

Meluruskan Persepsi: Mengapa Islam Adalah Agama Perdamaian dan Keadilan, Bukan Agresi Oleh: Donny S....

Suara Muhammadiyah

20 October 2025

Wawasan

WFH untuk ASN: Respons Cerdas atau Solusi Setengah Hati di Tengah Krisis Energi Global? Oleh: Syahn....

Suara Muhammadiyah

11 April 2026

Wawasan

Sunyi Nurani di Tengah Demokrasi Oleh: Suko Wahyudi, Pegiat Literasi dan Anggota PRM Pandeyan Yogya....

Suara Muhammadiyah

8 April 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah