Shalat untuk Pemerolehan Kekuatan Baru

Publish

15 January 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
61
Sumber Foto Freepik

Sumber Foto Freepik

Shalat untuk Pemerolehan Kekuatan Baru

Oleh: Mohammad Fakhrudin

Menurut Hamka, shalat menjadi waktu istirahat untuk mencari kekuatan baru. Bagi muslim mukmin yang telah mengamalkan shalat dengan benar, pendapat tersebut memang nyata, bukan isapan jempol belaka. 

Siapa pun dan bekerja sebagai apa pun, bahkan, berusia berapa pun, pasti menghadapi masalah. Memang begitulah manusia.

Tidak hanya manusia dewasa, balita pun menghadapi masalah. Pada masa bayi semua masalah diselesaikan oleh orang dewasa. Namun, seiring dengan perkembangan usia, berkembang juga kemampuannya, baik fisik maupun psikis. Dengan demikian, sebagian masalah dapat diselesaikan sendiri. Sebagian lainnya diselesaikan dengan bantuan orang dewasa. Demikianlah sunatullah!

Keinginan dan kebutuhan manusia bertambah. Dari sedikit keinginan dan kebutuhan menjadi banyak. Dari sederhana menjadi kompleks. Pada masa bayi, dia cukup digendong orang dewasa, terutama ibunya. Pada masa kanak-kanak, dia butuh teman bermain. Pada masa dewasa, laki-laki butuh perempuan dan demikian sebaliknya sebagai “teman hidup”. 

Pada setiap masa, manusia dihadapkan pada masalah. Makin banyak keinginan dan kebutuhan, makin banyak masalah yang harus dihadapi. 

Sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala

Ada sembilan puluh sembilan sifat Allah Subhanahu wa Ta'ala. Kita mengenalnya sebagai asmaul husna. Di antara sifat-sifat-Nya adalah Maha Pengampun, Maha Pengasih, Maha Mencukupi, Maha Mengetahui, Maha Pemberi Rezeki, Maha Pemberi Petunjuk, dan Maha Pemelihara! 

Berkenaan dengan sifat-Nya itu, Dia meningkatkan kemampuan manusia, tanpa membedakan apakah beriman atau tidak. Qadarullah pada usia produktif kemampuan manusia makin meningkat. (Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) dan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), rentang usia produktif adalah usia 15–64 tahun). 

Bagi orang beriman, peningkatan kemampuan itu diyakini berlangsung tidak secara otomatis. Ada peran kemahakuasaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dan ikhtiar manusia itu sendiri. Orang tidak beriman tentu tidak berpendapat demikian.

Orang beriman meyakini bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala juga yang memberi kita naluri, pancaindra, akal, dan agama. Bagi orang beriman semua itu merupakan hidayah-Nya. 

Hidayah akal dan agama hanya diberikan kepada manusia. Dengan akal, manusia dapat berpikir. Namun, banyak masalah yang tidak dapat diselesaiakan hanya dengan akal. Ada keterbatasan pada kemampuan akal.

Keterbatasan Akal bagi Insan Beriman

Insan beriman menyadari keterbatasan pada dirinya. Dalam hal tertentu ada kelebihan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Namun, dia sadar bahwa ada kelebihan yang dimiliki oleh orang lain, tetapi kelebihan itu tidak dimilikinya. 

Orang yang cerdas di bidang matematika, belum tentu cerdas di bidang sosial atau seni. Demikian pula sebaliknya. Itulah sunatullah!

Bagi insan beriman, keterbatasan dalam hal tertentu pada dirinya, tetapi menjadi kelebihan pada orang lain, justru dijadikannya sebagai jalan terbaik untuk saling menolong dalam kebenaran dan takwa. Hal itu pun dijadikannya sebagai pengontrol dirinya agar tidak sombong!

Di bidang kedokteran hal itu dapat kita ketahui misalnya ketika akan dilangsungkan tindakan medis operasi. Untuk melakukan tindakan operasi bagi seseorang saja, diperlukan suatu tim dokter. Mereka berdiskusi untuk memastikan tindakan medis yang paling tepat. 

Dokter muslim mukmin merasa belum cukup hanya dengan berdiskusi. Mereka mohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai wujud pengamalan atas pemahamannya terhadap firman Allah Subhanahu wa Ta’ala di dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah (2):153,

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِۗ اِنَّ اللّٰهَ مَعَ الصّٰبِرِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman, mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat. Sesungguhnya, Allah beserta orang-orang yang sabar.”

Sumber Kekuatan Utama

Insan beriman sadar bahwa sumber kekuatan utama adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Di hadapan-Nya manusia tidak berdaya sebagaimana dijelaskan di dalam hadis berikut ini. 

وَعَنْ أَبِي مُوْسَى – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ : قَالَ لِي رَسُوْلُ اللهِ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – : (( أَلاَ أدُلُّكَ عَلَى كَنْزٍ مِنْ كُنُوزِ الجَنَّةِ ؟ )) فَقُلْتُ : بَلَى يَا رَسُوْلَ اللهِ قَالَ : (( لاَ حَوْلَ وَلاَ قُوَّةَ إِلاَّ بِاللهِ )) مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

"Dari Abu Musa radiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menunjukkan kepadaku, “Maukah aku tunjukkan kepadamu salah satu dari simpanan surga?” Aku menjawab, “Tentu, wahai Rasulullah.” Beliau bersabda, “Laa hawla wa laa quwwata illa billah (Tidak ada daya dan upaya, kecuali dengan pertolongan Allah).” (Muttafaqun ‘alaih) 
 
Berdasarkan hadis tersebut, jika kita mengerjakan shalat berdasarkan keimanan akan kebenaran sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala, pastilah kita memperoleh kekuatan baru yang sangat kita perlukan. Sebagai manusia biasa, kita sadar akan dosa dan atas kesadaran itu, kita mohon ampun. Di dalam hati kita ada keimanan bahwa Dia bersifat Maha Pengampun. Dengan keimanan itu, kekuatan baru kita timbul. Kita tidak berputus asa terhadap ampunan-Nya.  

Kita beriman pula bahwa Dia bersifat Maha Pengasih. Tanpa memperoleh belas kasih-Nya, kita tidak mempunyai sifat pengarih sehingga tidak dapat saling mengasihi sesama makhluk-Nya. Oleh karena itu, kita mohon belas kasih-Nya. Dengan keimanan penuh bahwa Dia bersifat Maha Pengasih, kita memperoleh kekuatan baru sehingga dapat saling mengasihi sesama makhluk-Nya.

Kita beriman pula bahwa Allah bersifat Maha Mencukupi. Sebagai manusia biasa, kita dihinggapi perasaan selalu kurang. Oleh karena itu, kita memerlukan pertolongan-Nya. Karena yakin bahwa Allah bersifat Maha. Mencukup, kekuatan baru pun timbul.

Masih ada yang kita butuhkan, yakni petunjuk. Kita mohon petunjuk dengan landasan keimanan bahwa Allah bersifat Maha Pemberi Petunjuk. Bagi insan beriman, petunjuk yang diperoleh melalui kecerdasan akal dirasa belum cukup. Karena yakin memperoleh petunjuk-Nya, kekuatan baru untuk menyelesaikan berbagai masalah yang dihadapinya timbul.

Ada lagi yang kita butuhkan. Kita sangat memerlukan rezeki. Dengan penuh keimanan bahwa Allah bersifat Maha Pemberi Rezeki, kita mohon kepada-Nya dengan  mengerjakan shalat. Timbullah kekuatan baru untuk memperoleh rezeki sesuai dengan kebutuhan, bukan sesuai dengan keinginannya.

Berkenaan dengan kebutuhan-kebutuhan tersebut, ketika duduk di antara dua sujud, kita berdoa, antara lain, sebagaimana dijelaskan di dalam HR at-Tirmizi dari Ibnu Abbas dan dijadikan tuntunan di dalam Himpunan Putusan Tarjih berikut ini,

عن ابن عبّاس انّ النّبي صلعم كان يقول بين السجد تين:اللّهم اغفرلى وارحمنى واجبرنى واهدنى وارزقنى (رواه الترمزى)

“Dari Ibnu Abbas diterangkan bahwa nabi shallallallhu ‘alaihi wa sallam, di antara dua sudud mengucapkan: ALLAHUMAGH FIRLI, WARHAMNI, WAJBURNY, WAHDINI, WARZUQNI” 

“Ya, Allah! Ampunilah aku, belas kasihanilah aku, cukupilah aku, berilah petunjuk, dan beri aku rezeki.”

Ternyata dengan doa ketika duduk di antara dua sujud di dalam shalat saja, timbul kekuatan baru yang luar biasa dahsyatnya. Kita optimistis bahwa dengan shalat kita memperoleh (1) ampunan atas dosa kita, (2) sifat pengasih, (3) kecukupan, (4) petunjuk, dan (5) rezeki. 

Jika shalat kita kerjakan secara utuh dan sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, tentulah kita memperoleh kekuatan baru yang.luar biasa besarnya sesuai dengan kebutuhan. Allah Subhanahu wa Ta'ala memberi kita apa yang kita butuhkan, bukan apa yang inginkan. 

Sungguh sedikit pun kita tidak ragu karena Allah Subhanahu Ta’ala dan Rasul-Nya tidak pernah ingkar janji.

Aamiin!


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Anak Saleh (32) Oleh: Mohammad Fakhrudin "Anak saleh bukan barang instan. Dia diperoleh melalui pr....

Suara Muhammadiyah

27 February 2025

Wawasan

Tapak Tilas Penerjemahan Al-Qur`an dalam Bahasa Inggris (2) Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilm....

Suara Muhammadiyah

5 June 2024

Wawasan

Dinamika Identitas Muhammadiyah Menghadirkan Islam Berkemajuan di Dunia Oleh: Bayu Madya Chandra, S....

Suara Muhammadiyah

23 August 2025

Wawasan

Menentang Penindasan Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas Apakah Al....

Suara Muhammadiyah

5 January 2024

Wawasan

Tantangan Al-Qur`an Bagi para Hater Donny Syofyan: Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Anda....

Suara Muhammadiyah

12 July 2024