Solusi Ilahi
Oleh: Mohammad Fakhrudin
Kalender bulan Ramadhan dan bulan Syawal telah kita ganti dengan bulan Dzulqakdah. Kini muslim mukmin siap memasuki bulan Zulhijah. Ketiga bulan itu sangat istimewa karena dari tahun ke tahun makin banyak kenangan indah yang tidak dapat terlewatkan dan mempunyai kebermaknaan yang tinggi.
Di antara umat Islam sedunia ada keluarga muslim mukmin yang menyambut ketiga bulan itu jauh sebelum tiba. Saling mendoakan agar dapat dipertemukan kembali dengan Ramadhan dan Idul Fitri tahun berikut terucap ketika bersilaturahim Idul Fitri. Di samping itu, di antara mereka ada yang mulai menabung kembali untuk keperluan Ramadhan dan Idul Fitri berikutnya.
Untuk menyambut bulan Zulhijah pun mereka mempersiapkan diri sejak dini. Ada yang menabung khusus untuk membeli hewan kurban. Dengan demikian, mereka berharap dapat melaksanakan kurban.
Saling Menyemangati
Ada keluarga muslim mukmin yang selama bulan Ramadhan bersinergi antara orang tua dan anak. Mereka saling menyemangati agar dapat beribadah Ramadhan dan beridul fitri makin bermakna, baik makna spiritual maupun makna sosial. Orang tua menyemangati anak dengan doa, nasihat, dan teladan, sedangkan anak menyemangati orang tua dengan doa dan dana.
Mereka membangun komitmen bahwa ibadah Ramadhan harus menghadirkan kedamaian dan kemanfaatan bagi diri dan sesama. Ibadah tersebut harus melahirkan juga sikap dan tingkah laku terpuji. Berkenaan dengan komitmen tersebut, ibadah yang dikerjakan tidak berhenti hanya pada kegiatan ritual, baik yang wajib maupun yang sunnah seperti shalat, puasa, berzikir, dan berdoa.
Selama bulan Ramadhan berbagai ibadah yang bermakna sosial seperti sedekah, infak, dan zakat ditingkatkan juga. Untuk menciptakan suasana kebersamaan, mereka menyediakan takjil menjelang berbuka puasa, menyediakan buka bersama, dan menyediakan konsumsi bagi peserta tadarus di musala atau masjid.
Bagi bagian besar muslim mukmin Indonesia, pada bulan Syawal, silaturahim menjadi amalan yang sangat monumental. Di antara keluarga muslim mukmin ada yang dengan penuh ketakwaan menyelenggarakan acara “open house”. Mereka sejak 1 Syawal menerima kunjungan kerabat, tetangga, dan teman. Sebagai tuan rumah, mereka berusaha memuliakan tamu sebagai wujud pengamalan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam di dalam HR Muslim berikut ini.
ومَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ والْيَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جارَهُ، ومَن كانَ يُؤْمِنُ باللَّهِ والْيَومِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ
"Siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tetangganya, dan siapa pun yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia memuliakan tamunya."
Salah satu wujud pemuliaan tamu adalah menjamunya. Tidak hanya minuman dan aneka kue yang dihidangkan, tetapi juga makan dengan lauk “istimewa”. Mereka dengan senang melakukannya karena mempunyai pemahaman bahwa semua itu merupakan ibadah.
Agar berlangsung dengan baik, ada langkah strategis yang ditempuhnya, yakni menabung jauh sebelum bulan Ramadhan tiba selama sebelas bulan. Mereka beriman bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti membalas amal saleh itu dengan berbagai kebaikan. Di antara balasan kebaikan itu adalah solusi terhadap masalah yang dihadapi.
Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman di dalam Al-Qur’an surat ath-Thalaq (65):2-3
وَمَنْ يَّتَّقِ اللّٰهَ يَجْعَلْ لَّهٗ مَخْرَجًاۙ
“Siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya
وَّيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُۗ
dan menganugerahkan kepadanya rezeki dari arah yang tidak dia duga.”
*Solusi sebelum Masalah Terjadi*
Qadarullah tidak semua rencana manusia menjadi kenyataan. Jumlah orang yang berkunjung dan waktu kunjungan tidak selalu sesuai dengan rencana. Jumlah orang yang berkunjung kadang-kadang lebih banyak, tetapi kadang-kadang lebih sedikit. Waktu kunjungan berubah; maju atau mundur dari yang direncanakan. Bahkan, ada orang yang berkunjung mendadak.
Bagi orang lemah iman, hal itu dapat membuat panik. Namun, orang kuat iman, dengan penuh ketenangan menghadapinya. Keyakinannya sangat kuat bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala pasti memberikan solusi terbaik.
Benar! Allah Subhanahu wa Ta’ala memberinya solusi sebelum masalah terjadi. Dia memberinya ketajaman naluri sehingga menyiapkan jamuan yang cukup untuk orang-orang yang berkunjung. Ketika ada tamu istimewa yang berkunjung di luar jadwal, mereka siap di rumah dan tamu istimewa itu berkunjung ketika orang yang berkunjung tidak sebanyak yang diperhitungkannya. Dengan demikian, tamu istimewa itu pun dapat dijamu dengan baik.
Solusi ketika Masalah Terjadi
Muslim mukmin semestinya tidak perlu panik ketika menghadapi masalah. Di dalam hatinya harus ada keyakinan yang sangat kuat bahwa Allah Subhanahu wa Ta’ala tidak pernah membiarkan hamba-Nya yang takwa mengalami kesulitan. Hal itu dijelaskan di dalam Al-Qur’an surat al-Insyirah (94):5-6,
فَاِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۙ
Oleh karena itu, sesungguhnya beserta kesulitan ada kemudahan.
اِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًاۗ
Sesungguhnya, beserta kesulitan ada kemudahan.”
Dengan berpegang teguh pada ayat tersebut, mereka senantiasa berdoa misalnya yang dijelaskan di dalam hadis berikut ini.
عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ – رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ – عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – أَنَّهُ كَانَ يَقُولُ: «اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
“Dari Abdullah bin Mas’ud radiyallahu’anhu, dari Nabi shallallahu’alaihi wa sallam beliau biasa berdoa,
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الْهُدَى وَالتُّقَى وَالْعَفَافَ وَالْغِنَى
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu petunjuk, ketakwaan, keterjagaan, dan kekayaan.”
(HR Muslim, HR at-Tirmizi, HR Ibnu Majah, dan HR Ibnu Hibban).
Mereka juga berdoa sebagaimana dijelaskan di dalam hadis berikut ini.
مَا يَمْنَعُكِ أَنْ تَسْمَعِي مَا أُوْصِيْكِ بِهِ، أَنْ تَقُوْلِي إِذَا أَصْبَحْتِ وَإِذَا أَمْسَيْتِ: يَا حَيُّ يَا قَيُّوْمُ، بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيْثُ، أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ وَلاَ تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ
“Apa yang mengalangimu untuk mendengar apa yang aku wasiatkan kepadamu? Hendaknya saat berada pada pagi dan sore hari engkau mengucapkan, ‘Wahai Dzat Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri dengan sendiri-Nya, dengan rahmat-Mu aku mohon pertolongan. Perbaikilah urusanku seluruhnya dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku walau hanya sekejap mata.” (HR al-Nasai)
Benar! Dengan ketenangan hatinya, mereka dapat berpikir dengan cepat dan tepat untuk menemukan solusi. Atas izin Allah Subhanahu wa Ta’ala, masalah pun dapat diselesaikan dengan baik.
Solusi setelah Masalah Terjadi
Ada di antara muslim mukmin yang menyadari bahwa ujian hidup tidak hanya keburukan, tetapi juga kebaikan sebagaimana dijelaskan di dalam Al-Qur’an surat al-Anbiya (21):35.
كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةًۗ وَاِلَيْنَا تُرْجَعُوْنَ
“Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Kami menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Kepada Kamilah kamu akan dikembalikan.”
Di antara kita ada yang berharap agar orang yang kita perlakukan dengan baik membalas dengan perlakuan baik juga. Namun, tidak selalu demikian halnya.
Akibatnya di antara kita pun ada yang sangat kecewa. Kekecewaan itu berlarut-larut; tidak hanya sehari dua hari dan berujung menjadi penyebab gangguan pada asam lambung dan gangguan psikis.
Kekecewaan itu tidak kita alami jika kita beramal kebaikan karena Allah Subhanahu wa Ta’ala. Ada keyakinan kuat di hati bahwa Dia pasti membalas kebaikan dengan kebaikan yang berlipat ganda. Tidak peduli apakah orang yang kita perlakukan dengan baik membalas kebaikan atau tidak.
Setelah peristiwa yang tidak menyenangkan terjadi baru timbul kesadaran bahwa beramal kebaikan untuk memperoleh balasan kebaikan juga dari orang yang kita perlakukan dengan baik merupakan kekeliruan. Kesadaran tersebut hakikatnya merupakan solusi. Dengan kesadaran itu, dilakukan perbaikan sikapnya terhadap orang yang membalas kebaikan dengan keburukan.
Ketika memperoleh kebaikan, ada kesadaran bahwa kebaikan pun merupakan bentuk ujian. Oleh karena itu, rasa syukur diwujudkan dengan benar, yakni (1) mengakui di dalam hati bahwa nikmat berasal Allah Subhanahu wa Ta’ala, (2) melisankannya dengan ucapan hamdalah, dan (3) menjadikannya sebagai sarana untuk taat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala, bukan untuk bermaksiat. Inilah solusi menerima kebaikan.
Menjemput Solusi Ilahi
Solusi yang diberikan kepada orang bertakwa sebelum, ketika, dan/atau setelah masalah terjadi merupakan hak prerogatif Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dapat saja sepekan, sehari, atau sejam sebelum kedatangan kerabat, tetangga, atau teman yang memerlukan bantuan uang, kita menerima kiriman uang dari anak yang sama sekali tidak kita duga.dan jumlahnya sama.benar dengan yang diperlukan. Dapat juga ketika ada kerabat, tetangga, atau teman yang sedang berbicara untuk pinjam uang, ketika itu juga, kita mendapat kiriman uang dari anak. Dapat terjadi pula: selang 15.menit atau 60 menit menolong orang, kita menerima kiriman uang dari anak dengan jumlah sama benar.
Perlu kita pahami.dengan benar bahwa murah hati sesungguhnya merupakan salah satu wujud rezeki. Dari sisi lain, kerabat, tetangga, dan/atau teman yang datang tanpa kita ketahui sebelumnya untuk meminta bantuan hakikatnya merupakan bagian dari rezeki yang datang dari arah yang tidak kita duga.
Hal yang perlu kita pahami lebih baik lagi adalah keikhlasan kita berbuat kebaikan. Pemberian hadiah jika kita landasi keikhlasan, pasti diganti oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala: dapat sama benar jumlahnya jika diuangkan dan dapat pula lebih banyak.
Allahu a’lam

