YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah Agung Danarto dalam buka puasa bersama seluruh karyawan Suara Muhammadiyah mengatakan bahwa spiritualitas yang dianut oleh Muhammadiyah adalah spritualitas yang menyatu dengan kehidupan nyata.
Meski banyak orang menganggap bahwa beragama yang dilakukan oleh Muhammadiyah dinilai kering, Agung mengatakan bahwa hal itu wajar karena mayoritas masyarakat Indonesia banyak terpapar oleh spiritualitas yang memiliki paradigma wahdatul wujud sebagaimana dipraktekkan oleh Syekh Siti Jenar, Hamzah Fansuri, dan lain sebagainya. Dan model spiritualitas semacam inilah yang banyak mewarnai kehidupan masyarakat Indonesia, sejak peralihan dari agama Hindu ke Islam.
Memahami spiritualitas yang dijalankan Muhammadiyah sejatinya cukup sederhana. Cara beragama Muhammadiyah selain logis, juga menekankan pada aspek ikhtiar dalam segala aspek kehidupan. "Spiritualitas Muhammadiyah adalah spritual yang teraplikasikan kedalam pekerjaan, belajar, bersosial, berpolitik, dan lain sebagainya," ujarnya di SM Tower Malioboro (18/3).
Itu artinya, spiritualitas yang dianut oleh Muhammadiyah tidak dapat dipisahkan dengan segala sesuatu yang ada dalam kehidupan nyata, khususnya dalam hal muamalah dengan sesama manusia. Dalam setiap kegiatan dan aktivitas selalu menyadari adanya Allah sang Pencipta. Mendekatkan diri kepada Allah dengan cara memaksimalkan tugas atau amanat yang dilimpahkan kepadanya, baik sebagai pejabat, pemangku kebijakan, pimpinan parpol, atau rakyat biasa.
Maka tidak heran jika Agung dalam amanatnya mempertegas bahwa spiritualitas yang dijalankan oleh Muhammadiyah sangat berbeda dengan spiritualitas berbasis tarekat yang dalam banyak hal hanya memfokuskan diri pada hubungan dengan Tuhan, serta mengenyampingkan menjalin hubungan yang baik dengan sesama dalam memakmurkan semesta. (diko)
