Srikandi Ilmu dan Dakwah, Mengenang Kepeloporan Siti Baroroh Baried dalam Milad ke-109 ‘Aisyiyah

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
107

Srikandi Ilmu dan Dakwah, Mengenang Kepeloporan Siti Baroroh Baried dalam Milad ke-109 ‘Aisyiyah

Abd Rohim Ghazali, Senior Fellow Maarif Institute, Wakil Ketua LHKP PP Muhammadiyah (2022-2027)

Bisa dikatakan, Mei adalah bulan Muhammadiyah. Di bulan ini, ada Milad Pemuda Muhammadiyah (2 Mei), Milad Nasyiatul ‘Aisyiyah (16 Mei), dan Milad ‘Aisyiyah (19 Mei). Jangan lupa, Mei juga disebut sebagai bulan Buya –sapaan akrab salah satu Ketua Umum Muhammadiyah, Ahmad Syafii Maarif, karena beliau lahir dan wafat di bulan Mei.

Tulisan sederhana ini ingin sedikit mengulas tentang Milad ke-109 ‘Aisyiyah yang kita maknai bukan sekadar penanda usia organisasi perempuan Muhammadiyah ini, tetapi momentum reflektif untuk menengok kembali jejak panjang kepeloporan perempuan dalam membangun peradaban.

Di tengah arus modernitas yang kerap menempatkan perempuan dalam dilema antara peran domestik dan publik, ‘Aisyiyah sejak awal telah menegaskan bahwa perempuan adalah subjek sejarah—bukan pelengkap, melainkan pelaku utama perubahan. Dalam konteks inilah saya ingin mengajak para pembaca semua untuk mengenang sosok Siti Baroroh Baried. Apa relevansinya? Karena beliau merupakan Ketua Umum PP ‘Aisyiyah terlama, yakni lebih dari dua dekade (1962–1985), dan sekaligus akademisi yang menorehkan jejak kuat di dunia pendidikan tinggi sebagai guru besar perempuan pertama di Indonesia.

Lahir dari rahim tradisi intelektual dan gerakan Islam progresif, Siti Baroroh Baried bukan hanya simbol keberhasilan individual, tetapi representasi dari visi besar ‘Aisyiyah tentang perempuan berkemajuan. Ia menembus batas-batas sosial yang pada masanya masih membatasi ruang gerak perempuan. Menjadi guru besar perempuan pertama di Indonesia bukanlah capaian yang lahir dari ruang kosong; ia adalah hasil dari keberanian, ketekunan, dan komitmen terhadap ilmu pengetahuan.

Namun, keistimewaan Baroroh tidak berhenti pada pencapaian akademik. Ia juga mengemban amanah sebagai Ketua Umum ‘Aisyiyah selama lima periode, dari 1962 hingga 1985—sebuah masa yang penuh dinamika dalam sejarah Indonesia. Di tengah perubahan politik dan sosial yang signifikan, ia mampu menjaga arah gerakan ‘Aisyiyah tetap konsisten dalam memperkuat dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan perempuan. Di bawah kepemimpinan beliaulah, ‘Aisyiyah mampu menembus batas sampai ke kancah internasional.

Pada saat yang sama, ia juga memimpin Fakultas Sastra Universitas Gadjah Mada selama dua periode (1965–1971). Posisi ini menunjukkan bahwa kepemimpinan perempuan bukan hanya mungkin, tetapi juga efektif dalam ruang akademik yang sebelumnya didominasi laki-laki. Ia membuktikan bahwa intelektualitas dan kepemimpinan perempuan dapat berjalan seiring tanpa kehilangan identitas keislaman.

Apa yang membuat kepeloporan Baroroh begitu penting untuk dikenang dalam Milad ke-109 ‘Aisyiyah adalah kemampuannya memadukan tiga hal sekaligus: ilmu, iman, dan gerakan. Ia tidak hanya menjadi akademisi yang produktif, tetapi juga aktivis yang membumi. Ia tidak hanya berbicara tentang perempuan, tetapi bekerja untuk perempuan. Dalam dirinya, kita melihat wajah ‘Aisyiyah yang sesungguhnya sebagai gerakan yang berpijak pada nilai, tetapi bergerak dalam realitas.

Di tengah tantangan zaman hari ini—ketika perempuan menghadapi berbagai persoalan mulai dari ketimpangan akses pendidikan hingga kekerasan berbasis gender—teladan Baroroh menjadi semakin relevan. Ia menunjukkan bahwa pemberdayaan perempuan tidak cukup dengan retorika, tetapi membutuhkan kerja nyata yang berkelanjutan. Pendidikan menjadi kunci, tetapi pendidikan yang dimaksud bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan pembentukan kesadaran.

Lebih jauh, kepemimpinan Baroroh juga mengajarkan tentang pentingnya integritas. Dalam memimpin ‘Aisyiyah selama dua dekade, ia tidak hanya menjaga organisasi tetap hidup, tetapi juga memastikan bahwa nilai-nilai yang diusung tetap terjaga. Ia memahami bahwa organisasi bukan hanya soal struktur, tetapi juga soal ruh—tentang bagaimana nilai-nilai itu dihidupkan dalam setiap gerakan.

Milad ke-109 ‘Aisyiyah yang mengusung tema tentang dakwah kemanusiaan dan perdamaian menemukan resonansinya dalam jejak kepemimpinan Baroroh. Dakwah yang ia jalankan bukan dakwah yang eksklusif, tetapi inklusif—menyentuh berbagai lapisan masyarakat dan menjawab kebutuhan zaman. Ia memahami bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam membangun perdamaian, baik di tingkat keluarga maupun masyarakat.

Dalam konteks Indonesia hari ini, di mana polarisasi sosial dan tantangan kebinekaan masih menjadi isu, semangat dakwah kemanusiaan yang diwariskan oleh tokoh-tokoh seperti Baroroh menjadi sangat penting. Perempuan, melalui ‘Aisyiyah, memiliki potensi besar untuk menjadi jembatan—menghubungkan, merawat, dan memperkuat kohesi sosial.

Namun, mengenang kepeloporan tidak boleh berhenti pada romantisme masa lalu. Ia harus menjadi energi untuk melangkah ke depan. Pertanyaannya bukan hanya siapa Baroroh di masa lalu, tetapi bagaimana semangatnya hidup di masa kini. Apakah perempuan Indonesia hari ini memiliki ruang yang cukup untuk berkembang? Apakah lembaga pendidikan sudah benar-benar inklusif? Apakah gerakan perempuan mampu menjawab tantangan zaman?

Milad ini menjadi momentum untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. ‘Aisyiyah perlu terus memperkuat perannya sebagai gerakan perempuan berkemajuan—yang tidak hanya adaptif terhadap perubahan, tetapi juga mampu menjadi pelopor perubahan. Dalam hal ini, warisan Baroroh menjadi kompas moral sekaligus inspirasi intelektual.

Mengenang Siti Baroroh Baried adalah mengenang keberanian untuk melampaui batas, kesungguhan dalam menuntut ilmu, dan ketulusan dalam mengabdi. Ia adalah bukti bahwa perempuan tidak hanya mampu berdiri sejajar, tetapi juga mampu memimpin dengan visi dan integritas.

Di usia ke-109, ‘Aisyiyah tidak hanya merayakan sejarahnya, tetapi juga meneguhkan masa depannya. Dan di antara deretan tokoh yang telah mewarnai perjalanan panjang itu, nama Baroroh akan selalu menjadi cahaya—menerangi jalan bagi generasi perempuan berikutnya untuk terus bergerak, belajar, dan berkontribusi bagi peradaban.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Humaniora

Oleh: Dr Sarli Amri, Wakil Ketua PDM Kota Tangerang Spanduk itu membentang gagah, menjadi saksi bis....

Suara Muhammadiyah

28 July 2025

Humaniora

Catatan Sidang Tanwir Kupang: Keramahan NTT dan Peran Muhammadiyah di Tengah Minoritas Oleh : Haidi....

Suara Muhammadiyah

1 January 2025

Humaniora

Pengabdian Kader Sang Surya di Tubaba Tubuhnya kurus, berjenggot, dengan sorot mata yang teduh namu....

Suara Muhammadiyah

28 November 2025

Humaniora

Yadi si Anak Rimba Oleh: JsNoer  Pagi itu. Yadi kecil melangkah dengan ragu. Awan hitam yang ....

Suara Muhammadiyah

14 September 2025

Humaniora

Sayap Kertas Cerpen Syakira Vita Sasmaya Di sebuah kota kecil di London, hiduplah seorang anak la....

Suara Muhammadiyah

19 January 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah