CILACAP, Suara Muhammadiyah - Mahasiswa didampingi Dosen STIE Muhammadiyah Cilacap, mengadakan kegiatan Amaliyah Ramadhan 1447 H dengan berbagai ta'jil dan santunan selama 20 hari di 20 masjid. Sejak Senin (23/02/2026) sampai dengan Sabtu (14/03/2026). Sebanyak 150 ta'jil yang dibagikan dan santunan anak yatim dan yatim piatu serta dhuafa.
Ketua STIE Muhammadiyah Cilacap, Warsono menjelaskan pembagian ta'jil selama 20 hari dan di 20 masjid wilayah Kelurahan Mertasinga Kecamatan Cilacap Utara dan Desa Menganti Kecamatan Kesugihan Cilacap.
"Tujuannya agar kampus lebih berdampak terhadap lingkungan," tandasnya.
Kebijakan kampus secara nasional, arahnya kepada kampus berdampak. Sisi lapangan, maka kebermanfaatan untuk lingkungan menjadi sebuah keharusan.
"Memang lingkungan yang harus merasa memiliki dengan kita maka harus peduli. Kita lebihkan dulu lingkungan agar merasa handar beni terhadap kita," katanya.
Harapan Ramadhan tahun ini, bisa diisi dengan amalan kebaikan yang bagus.
"Sekaligus melatih diri mahasiswa agar tumbuh karakter kepribadian yang bagus dan kita semua segenap civitas akademika bahwa kita harus berbuat baik," harapnya.
Ketua Panitia Amaliyah Ramadhan 1447 H, Aditya Rifki Saputra Prodi D3 Akuntansi semester 4 menjelaskan hari pertama kegiatan Amaliyah Ramadhan Senin (23/02/2026) berupa berbagi Ta'jil di Masjid Jami Al Fiftah Jl. Landak Timur Mertasinga Cilacap.
Dengan tema "Meraih Keberkahan Ramadhan Melalui Kepedulian dan Kebersamaan."
"Insya Allah, berbagi ta'jil sebanyak 150 paket dan santunan di 20 masjid," jelasnya.
Harapannya, untuk teman-teman mahasiswa agar dapat menjalankan tugasnya dengan maksimal. Dalam menyalurkan ta'jil yang merupakan amanah dari sponsor yang telah mendukung.
"Teman mahasiswa dalam pembagian ta'jil, satu kelompoknya berjumlah 8 orang," ujarnya.
Presiden Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STIE Muhammadiyah Cilacap, Zakaria Tri Laksono mengatakan kegiatan Amaliyah Ramadhan 1447 H yang mulai dilaksanakan merupakan wujud nyata kepedulian sosial dan penguatan nilai-nilai spiritual di lingkungan kampus. Momentum Ramadhan tidak hanya menjadi sarana meningkatkan ibadah secara personal, tetapi juga menjadi ruang untuk mempererat ukhuwah, menumbuhkan empati serta membangun semangat berbagi kepada sesama.
"Saya mengapresiasi seluruh panitia dan mahasiswa yang telah berkontribusi aktif dalam menyukseskan rangkaian kegiatan ini, mulai dari kajian keislaman, bakti sosial, hingga kegiatan berbagi kepada masyarakat," katanya.
Partisipasi yang tinggi menunjukkan bahwa mahasiswa tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki kepedulian sosial yang kuat.
"Harapannya, kegiatan Amaliyah Ramadhan ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial tahunan, melainkan menjadi budaya kebaikan yang terus hidup dalam keseharian mahasiswa," ungkapnya.
"Semoga nilai-nilai kebersamaan, keikhlasan, dan pengabdian yang telah ditanamkan dapat terus kita jaga bahkan setelah bulan Ramadhan berakhir.
Mari jadikan Ramadhan sebagai momentum perubahan menuju pribadi yang lebih baik serta kampus yang lebih religius, humanis, dan berintegritas," pungkasnya. (Wasis)

