SLEMAN, Suara Muhammadiyah— Badan Kerja Sama (BKS) SMP Muhammadiyah se-Kabupaten Sleman menggelar kegiatan Empowering Leadership di Pacitan pada Jumat (24/04) hingga Sabtu (25/04). Kegiatan ini diikuti oleh para kepala sekolah SMP Muhammadiyah se-Sleman dan didampingi oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Sleman.
Dalam sambutan pembuka, Ketua BKS SMP Muhammadiyah se-Sleman, Hendro Sucipto, M.Pd., menyampaikan bahwa tujuan utama kegiatan penguatan kepemimpinan ini adalah bagaimana sekolah dapat memetakan kekuatan yang dimiliki sekaligus melakukan checking program dalam rangka menghadapi Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) yang akan datang.
Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Sleman, H. Harjaka, S.Pd., S.Ag., M.A., turut menyampaikan apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya kegiatan ini. Beliau menyambut baik langkah BKS dalam merancang strategi pencarian dan pengembangan bakat, baik di kalangan guru, karyawan, murid, maupun para pemangku kepentingan terkait.
"Kami juga menyampaikan terima kasih kepada PDM Pacitan atas partisipasinya dalam kegiatan ini. Bersama-sama, kita terus memajukan pendidikan Muhammadiyah," ujar H. Harjaka.
Sesi pembuka kemudian dilanjutkan dengan khutbah yang disampaikan oleh Ediyanto, M.Pd., M.H.I., Wakil Ketua PDM Pacitan. Dalam khutbahnya yang penuh makna, beliau mengungkapkan rasa syukur atas kebersamaan yang terjalin.
"Serasa surga bocor karena kita berada dalam satu frekuensi di sini. Kita ini mantu nalar, menganyam pikiran," tutur Ediyanto membuka pesannya.
Beliau juga mengutip pesan moral Ahmad Dahlan yang sarat keteladanan, "Allah tahu bahwa diriku kuat. Karenanya aku diberikan beban yang berat. Akan kulalui hari-hariku dengan tabah dan ikhlas, karena itu pertanda bahwa suksesku sudah dekat."
Ediyanto pun mengingatkan pentingnya kesederhanaan dalam kehidupan. "Lebih baik kekurangan daripada terlena dalam kemewahan," tegasnya. Ia juga menggambarkan kondisi sekolah-sekolah saat ini dengan perumpamaan yang mengena. "Kita lihat sekolah kita—ada yang sehat, ada yang setengah sehat, bahkan ada yang di ICU. Semoga semuanya segera sehat."
Dengan semangat yang membara, Ediyanto melanjutkan, "Mata boleh basah, badan boleh lelah, jalan boleh tertimbun sampah, luka boleh berdarah, tetapi jiwa tak boleh menyerah."
Menanggapi tantangan dunia pendidikan di era digital, Ediyanto mengingatkan bahwa penguasaan teknologi adalah keniscayaan. Menurutnya, apabila kita tidak segera menguasainya, kita akan dikuasai oleh pihak lain. Untuk itu, mantan kepala sekolah ini menekankan perlunya penguasaan empat hal mendasar dalam pendidikan, yaitu kemampuan berhitung, jagongan atau petungan (kemampuan berpikir dan berdiskusi), keterampilan praktis, serta pemahaman agama.
"Jika mampu menguasai keempat hal ini, kita akan lebih sukses dan kehadiran kita akan lebih bermanfaat bagi masyarakat," ujarnya meyakinkan.
Ediyanto juga mengingatkan bahwa tantangan pendidikan yang tidak segera ditangani akan menjadi utang kepada generasi kini dan mendatang. Oleh karena itu, memaksimalkan potensi murid adalah sebuah kewajiban yang tidak boleh ditunda.
"Hidup memang penuh masalah, tetapi jangan jadikan masalah sebagai alasan untuk tidak berbahagia. Justru kehadiran masalah baru akan mendatangkan kebahagiaan baru," pungkas Ediyanto dengan penuh semangat, menutup sesi khutbah yang menginspirasi.
Kegiatan Empowering Leadership ini diharapkan menjadi momentum bagi seluruh kepala sekolah SMP Muhammadiyah se-Sleman untuk semakin memperkuat visi kepemimpinan transformatif demi kemajuan pendidikan Muhammadiyah di Kabupaten Sleman. (Naf)
