Subuh Bersama Mas Kiai Mu'ti : Antara Takdir, Sains, dan Rahim Ibu

Suara Muhammadiyah

29 June 2026

301
Foto Istimewa

Foto Istimewa

Subuh Bersama Mas Kiai Mu'ti : Antara Takdir, Sains, dan Rahim Ibu

Oleh: Ahsan Jamet Hamidi, Ketua PRM Legoso, Tangerang Selatan

Ahad pagi lalu, seperti biasa saya salat Subuh di Griya Dakwah Muhammadiyah di Pondok Cabe Ilir. Ketika saya tiba, Mas Kiai Mu'ti sudah berada di sana. Tampaknya beliau sedang menonton siaran ulang Piala Dunia. Tidak lama kemudian, kami melaksanakan salat berjamaah dan beliau yang menjadi imam. Langgam bacaannya lembut, penuh haru, khas kiai kampung di pelosok Jawa Tengah.

Jika tidak sedang ada acara di luar kota, setiap Ahad pagi saya selalu berusaha melaksanakan salat Subuh di kantor PRM Pondok Cabe Ilir. Tempat ini menjadi tongkrongan baru bagi warga Persyarikatan di sekitar Ciputat, Pamulang, dan Cinere. Pada siang hari, tempat ini menjadi sekolah TK dan tempat berbagai kursus, seperti memasak, menjahit, kecantikan, salon, bahasa Inggris, bahasa Arab, mengaji, hingga bermain drama dan latihan musik angklung.

Ada satu hal yang istimewa. Bagi mereka yang belum sempat menamatkan pendidikan setingkat SMP dan SMA, tersedia PKBM (Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat) di sini. Daripada memalsukan ijazah, lebih baik mengikuti PKBM di Muhammadiyah Pondok Cabe Ilir. Program ini resmi, mudah diakses, dan dikelola dengan penuh tanggung jawab.

Usai salat Subuh, seperti biasa Mas Kiai Mu'ti membuka obrolan untuk pengajian. Kebetulan ada tiga siswa MBS (Muhammadiyah Boarding School) yang ikut. Mereka adalah anak kembar tiga. Setelah berbincang sejenak, topik pengajian pagi itu secara spontan membahas proses kelahiran manusia dan bagaimana teknologi modern melakukan rekayasa genetika dengan berbagai kecanggihan ilmu pengetahuan. 

Sains, Rahim, dan Ayat-Ayat Penciptaan

Mas Kiai Mu'ti mengutip firman Allah dalam Surah Ali Imran tentang Allah yang membentuk rupa manusia sejak berada di dalam rahim.

"Dialah yang membentuk kamu dalam rahim sebagaimana yang Dia kehendaki. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. Ali Imran [3]: 6)

Dahulu kebanyakan orang memandang bahwa kehamilan dan kelahiran merupakan sesuatu yang sangat misterius, sehingga manusia hanya dapat berikhtiar secara spiritual. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan membuat manusia mulai memahami proses pembuahan dan perkembangan janin secara ilmiah. Kehamilan dan kelahiran tetap menyimpan misteri, tetapi tidak lagi sepenuhnya berada di luar jangkauan pengetahuan manusia.

Beliau kemudian mengutip buku Prenatal Classroom yang ditulis oleh F. René Van de Carr dan Marc Lehrer. Buku tersebut membahas stimulasi janin, komunikasi dengan bayi dalam kandungan, serta pendidikan prenatal.

Menurut beberapa teori, manusia dapat mempersiapkan kelahiran anak sejak dalam kandungan, termasuk melalui pola makan dan aktivitas tertentu. Bahkan terdapat teori yang menyebutkan bahwa nutrisi tertentu dapat memengaruhi kemungkinan jenis kelamin anak, meskipun hal tersebut tentu harus disikapi secara hati-hati dan kritis.

Kemajuan ilmu pengetahuan memungkinkan adanya rekayasa medis seperti bayi tabung. Pada kasus tertentu, pembuahan yang tidak dapat terjadi secara alami dapat dilakukan di laboratorium. Sel telur dan sperma dipertemukan di luar tubuh, kemudian hasil pembuahan dimasukkan kembali ke dalam rahim. Yang ditanam bukan bayinya, melainkan embrio hasil pembuahan tersebut.

Mas Kiai Mu'ti menyebut sedikitnya ada tiga fenomena yang berkembang dalam dunia modern. Pertama, bayi tabung. Kedua, bank sperma. Ketiga, persewaan rahim atau ibu pengganti. Pada praktik terakhir, embrio hasil pembuahan suami istri ditanamkan ke dalam rahim perempuan lain yang disewa untuk mengandungnya. Selain itu, terdapat pula teknologi kloning, yaitu reproduksi melalui sel tanpa melibatkan sperma dan ovum sebagaimana proses alamiah.

Pembahasan kemudian beralih kepada Surah Al-Mu'minun ayat 12–14 yang menjelaskan tahapan penciptaan manusia. Allah menciptakan manusia dari saripati tanah, kemudian menjadi nutfah, lalu 'alaqah, mudghah, tulang-belulang, dan akhirnya dibungkus dengan daging sebelum menjadi makhluk yang sempurna.

Ayat ini sering dikaitkan dengan ilmu embriologi modern. Mas Kiai Mu'ti menyebut kisah seorang dokter dari Prancis yang tertarik kepada Islam setelah mempelajari kesesuaian antara proses perkembangan embrio dengan penjelasan Al-Qur'an. Namanya Maurice Bucaille, seorang dokter dan ahli bedah berkebangsaan Prancis yang terkenal melalui bukunya The Bible, The Qur'an and Science (La Bible, le Coran et la Science). Dalam buku tersebut ia membandingkan keterangan Al-Qur'an, Alkitab, dan temuan ilmu pengetahuan modern.

Ikhtiar Manusia dan Takdir Allah

Namun demikian, manusia tetap memiliki keterbatasan. Ilmu pengetahuan dapat membantu memahami proses, meningkatkan kualitas kesehatan, memperkuat kondisi sperma dan ovum, atau membantu proses pembuahan. Akan tetapi, manusia tidak mampu memastikan hasil akhirnya. Di situlah letak takdir Allah.

Semua manusia terikat oleh qada dan qadar, tetapi manusia tidak mengetahui takdirnya. Manusia mengetahui jodoh setelah jodoh itu terjadi. Manusia dapat memperkirakan usia berdasarkan kesehatan, tetapi tidak mengetahui kapan kematian akan datang. Dokter dapat memperkirakan harapan hidup pasien, ahli ekonomi dapat menghitung, dan teknologi dapat membantu, tetapi hasil akhirnya tetap berada di luar kemampuan manusia. Itu tetap menjadi kehendak Allah.

Karena itu, kewajiban manusia adalah berikhtiar. Dalam urusan ekonomi, kesehatan, pendidikan, maupun kehidupan keluarga, manusia berkewajiban melakukan usaha terbaik. Adapun hasil akhirnya tidak selalu dapat dipastikan.

Pembahasan kemudian kembali kepada perkembangan janin. Menurut sejumlah penelitian yang dibaca Mas Kiai Mu'ti, perkembangan otak merupakan proses yang paling pesat selama masa kehamilan. Sebagian besar perkembangan otak terjadi ketika janin masih berada di dalam kandungan. Oleh sebab itu, nutrisi ibu hamil sangat penting.

Selain nutrisi, janin juga mulai mengenali suara. Karena itu, banyak orang memperdengarkan musik atau bacaan tertentu kepada bayi dalam kandungan. Dalam tradisi Islam, memperbanyak membaca Al-Qur'an dan memperdengarkannya kepada janin diyakini memberi pengaruh positif bagi perkembangan anak.

Mas Kiai Mu'ti juga menjelaskan bahwa dalam beberapa hadis disebutkan peniupan ruh terjadi pada usia kandungan tertentu. Setelah itu, proses pendidikan dan pembentukan kepribadian anak mulai memperoleh makna yang lebih mendalam. Karena itulah pendidikan dalam kandungan menjadi penting.

Tradisi seperti mitoni, pengajian, dan doa selama kehamilan mungkin dahulu dipahami secara spiritual. Namun, sebagian praktik tersebut dapat dipahami pula dari sudut pandang pendidikan dan psikologi perkembangan anak.

Meskipun ilmu pengetahuan memungkinkan berbagai bentuk intervensi medis, manusia tetap harus mempertimbangkan etika dan agama. Tidak semua hal yang dapat dilakukan secara teknologi harus dilakukan. Agama memberikan batas-batas moral dalam penggunaan ilmu pengetahuan.

Karena itu, bayi tabung diperbolehkan sepanjang dilakukan oleh pasangan suami istri yang sah. Dokumen pernikahan menjadi penting karena berkaitan dengan perlindungan hak suami, istri, dan anak. Menurut pandangan Muhammadiyah, pencatatan pernikahan sangat penting demi menghindari mudarat dan berbagai persoalan hukum di kemudian hari.

Teknologi DNA dapat membantu mengetahui hubungan biologis seseorang, tetapi tidak dapat menjelaskan aspek spiritual dan moral sebuah hubungan. Demikian pula kloning manusia dan berbagai bentuk rekayasa genetika yang menimbulkan persoalan etika yang serius.

Pada akhirnya, kemajuan ilmu pengetahuan memperlihatkan bahwa banyak misteri kehidupan yang dapat dipahami manusia. Namun, tetap ada wilayah yang berada di luar jangkauan manusia. Di situlah manusia diajarkan untuk berikhtiar dengan ilmu, membatasi diri dengan etika, dan berserah diri kepada Allah.

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Titah Muhammadiyah, Pelopor Gerakan Islam Modernis Oleh: Arifulhaq Atjeh, Dosen, Guru SMKN 1 ....

Suara Muhammadiyah

13 May 2025

Wawasan

Masa Depan Pendidikan di Era Digital Oleh: Rizki P Dewantoro, Kader Muhammadiyah Kemajuan teknolog....

Suara Muhammadiyah

7 September 2024

Wawasan

Takwa Dulu atau Syukur Dulu?; Refleksi QS. Ali Imran ayat 123 Oleh: Rais Yudistira, Pengajar M....

Suara Muhammadiyah

25 February 2026

Wawasan

Idul Fitri dan Keadilan Sosial Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Budaya Universitas Andalas ....

Suara Muhammadiyah

9 April 2024

Wawasan

Jelang Munas Satu Abad: Mengapa Majelis Tarjih Mundur? (4)  Oleh: Mu’arif Kelahiran Maj....

Suara Muhammadiyah

24 January 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah