Tajdid Muhammadiyah Punya Sisi Distingtif dan Tidak Dimiliki Gerakan Lain

Suara Muhammadiyah

20 February 2026

714
Prof Dr Haedar Nashir, MSi. Foto: Cris

Prof Dr Haedar Nashir, MSi. Foto: Cris

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Bahwa Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid atau pembaruan Islam. Memang, dalam pandangan umum, pembaruan yang dilakukan Muhammadiyah berimplikasi pada pemikiran Muhammad bin Abdul Wahhab, Muhammad Abduh, Ibnu Taimiyah, dan Rasyid Ridha.

Tetapi, Haedar Nashir, dalam Pengajian Ramadhan 1447 H Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Jumat (20/2) menyingkap, ada sesuatu hal distingtif (pembeda) dari pembaru-pembaru Islam pada periode sebelumnya.

Sebagai fakta di lapangan, Muhammadiyah mampu melahirkan ‘Aisyiyah, sebagai Gerakan Perempuan Islam Berkemajuan. “Itu tidak dilahirkan dan tidak menjadi pemikiran utama dalam pergerakan pembaruan Islam sebelumnya,” kata Haedar, menukil pandangan Mukti Ali.

Di lain sisi, terpotret juga Muhammadiyah mendirikan pranata-pranata sosial modern. Selain pendidikan, yaitu dalam konteks gerakan kesehatan, pelayanan sosial. Yang itu merupakan pantulan teologi Al-Maun.

"Tidak ada pergerakan Islam lain hatta disebut dengan gerakan tajdid al-Islam yang menerjemahkan Al-Qur’an dalam bentuk pranata atau institusi modern. Dan itulah Muhammadiyah,” terang Haedar di Student Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.

Kiai Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah yang didirikannya secara historis dan sosiologis menghadirkan Islam sebagai jawaban atas modernisme awal abad ke-20.

“Ada kekhasan (distingtif) yang tidak punya akar pada sejarah dan format pemikiran pembaruan Islam sebelumnya,” terangnya.

Meskipun berbagai studi dan ahli selalu menempatkan dua objek antara Kiai Dahlan dan Muhammadiyah sebagai gerakan pembaruan Islam yang bersifat pemurnian.

Karakter permunian itu, kata Ketua Umum PP Muhammadiyah tersebut, memerlukan kedalaman pemahaman, perluasan pemahaman, dan perkembangan tafsir.

“Dengan pendekatan yang tentu memerlukan pengayaan juga. Yang Alhamdulillah, Tarjih memberi kita alat dalam memahami Islam perlu pendekatan bayani, burhani, dan irfani,” jelas Haedar. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

GUNUNGKIDUL, Suara Muhammadiyah - Masjid Miftahul Islam yang berada di Dusun Kwarasan Kulon, Kecamat....

Suara Muhammadiyah

14 March 2026

Berita

MALANG, Suara Muhammadiyah - Tak hanya teori saja, pembelajaran di Program Studi Ilmu Komunikasi Uni....

Suara Muhammadiyah

18 February 2025

Berita

Nilai Intelektual dan Solidaritas Kader IMM Ditekankan dalam DAD FDK UIN Suka SLEMAN, Suara Muhamma....

Suara Muhammadiyah

25 May 2025

Berita

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjadi tuan rumah penyelen....

Suara Muhammadiyah

15 October 2024

Berita

PURWOREJO, Suara Muhammadiyah - Empat Organisasi Otonom (ortom) Muhammadiyah Tingkat Kabupaten Purwo....

Suara Muhammadiyah

10 December 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah