Tak Boleh Jadi Penonton, Perempuan Muda Berkemajuan Harus Menjadi Perancang Masa Depan Bangsa

Suara Muhammadiyah

7 August 2026

70
Ariati Dina Puspitasari, SSi., MPd. Foto: Salma

Ariati Dina Puspitasari, SSi., MPd. Foto: Salma

SURAKARTA, Suara Muhammadiyah - Sungguh tak pelak, perubahan zaman berlangsung  begitu sangat cepat. Sekonyong-konyong, muncul transformasi digital dan perubahan pola kehidupan keluarga.

Yang hal demikian itu, disambung dengan meningkatnya persoalan kesehatan mental, krisis iklim, ketidakpastian ekonomi global, hingga dinamika sosial yang semakin kompleks.

"Namun di tengah berbagai tantangan tersebut, Nasyiatul Aisyiyah tidak memilih menjadi penonton," tegas Ariati Dina Puspitasari, Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah.

Di berbagai penjuru negeri, sebut Ariati, kader Nasyiatul Aisyiyah terus hadir dengan semangat dan komitmen sebagai perempuan muda Islam yang memberi manfaat, menghidupkan semangat khairunnas anfa'uhum linnas.

"Ikhtiar tersebut berakar kuat pada nilai Islam Berkemajuan yang meneguhkan tauhid, ijtihad dan tajdid, sikap wasathiyah, serta orientasi menghadirkan rahmat bagi seluruh alam," ujarnya, Jumat (7/8) saat Pidato Iftitah Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah di Puri Nalendra Ballroom Hotel Lor In Syariah, Adi Sucipto, Surakarta, Jawa Tengah.

Nilai-nilai tersebut, terang Ariati, menemukan pengejawantahannya dalam Risalah Perempuan Berkemajuan yang menegaskan bahwa perempuan berkemajuan adalah perempuan yang mengintegrasikan iman, ilmu, amal saleh, akhlak mulia, semangat tajdid, sikap inklusif, dan komitmen menghadirkan kemaslahatan bagi kehidupan.

"Inilah fondasi ideologis yang terus membimbing gerak dakwah Nasyiatul Aisyiyah," jelasnya.

Selama hampir 95 tahun, Nasyiatul Aisyiyah terus meneguhkan dirinya sebagai gerakan kader perempuan muda Muhammadiyah yang berpijak pada tiga pilar utama: keislaman, kekaderan, dan keperempuanan. 

Pada periode ini, ikhtiar tersebut diwujudkan melalui berbagai program yang menjawab kebutuhan zaman, mulai dari Gerakan Mengaji Nasyiah, Green Nasyiah dan Eco Bhinneka, pelayanan kesehatan remaja melalui PASHMINA, Rumah Literasi.

Bersamaan dengan itu, ada penguatan kaderisasi melalui DANA, LINA, PMNA dan Samara Course, pemberdayaan ekonomi melalui BUANA dan APUNA, pencegahan stunting melalui TIMBANG dan Isi Piringku, Sekolah Kepemimpinan Perempuan, pelatihan paralegal tersertifikasi, hingga Tadarus Kebijakan.

"Semua ikhtiar tersebut dijalankan melalui kolaborasi dengan berbagai mitra pemerintah, persyarikatan, lembaga nasional maupun internasional sebagai wujud dakwah yang memberi manfaat lebih luas," tutur Ariati.

Menyoal tema Muktamar, "Perempuan Muda Berkemajuan untuk Peradaban Berkelanjutan", kata Ariati ini lahir dari kesadaran bahwa dunia sedang menghadapi perubahan besar.

Disebutnya bahwa, Indonesia saat ini memasuki bonus demografi. Data SUPAS 2025 menunjukkan jumlah penduduk mencapai 284,67 juta jiwa, dengan sekitar 68,98% merupakan generasi muda, sementara 68,94% berada pada usia produktif.

"Potensi besar ini hanya akan menjadi kekuatan apabila diiringi investasi pada pendidikan, kesehatan, serta pemberdayaan perempuan muda. Sebaliknya, tanpa kualitas sumber daya manusia yang unggul, bonus demografi dapat berubah menjadi beban pembangunan," bebernya.

Di sisi lain, kesenjangan gender masih menjadi pekerjaan besar. Perempuan baru mencapai 27% pada sektor teknologi baru, 35,7% di kalangan akademisi institut teknologi, dan 22,14% dalam dunia politik. Bahkan Global Gender Gap Report 2025 menempatkan Indonesia pada peringkat ke-97 dari 148 negara.

"Data tersebut menunjukkan bahwa ruang kepemimpinan, sains, inovasi, dan pengambilan keputusan masih perlu semakin terbuka bagi perempuan muda," imbuhnya.

Jauh daripada itu, tantangan tersebut diperberat oleh krisis iklim yang semakin nyata. Menurutnya, Indonesia termasuk negara dengan risiko bencana tertinggi di dunia, sementara perempuan menjadi kelompok yang paling rentan terhadap dampaknya.

"Karena itu, pembangunan peradaban yang berkelanjutan tidak dapat dipisahkan dari kesalehan ekologis," terangnya.

Dalam konteks yang seperti itu, Muhammadiyah telah meletakkan landasan teologis melalui Fikih Lingkungan, Teologi Lingkungan, Fikih Agraria hingga Risalah Islam Berkemajuan untuk Krisis Ekologi.

"Dalam perspektif tersebut, perempuan muda memiliki posisi strategis sebagai penggerak kesadaran ekologis, penguat ketahanan keluarga, dan penjaga keberlanjutan bumi," tegasnya.

Karena itu, Ariati menekankan, Muktamar ke-15 ini meniscayakan perempuan muda tidak boleh lagi hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi harus menjadi perancang, penggerak, sekaligus pengambil keputusan bagi masa depan bangsa. 

"Agenda Nasyiatul Aisyiyah ke depan harus semakin memperkuat ekosistem kepemimpinan perempuan muda yang unggul dalam ilmu pengetahuan, teknologi, kepemimpinan, kewirausahaan, advokasi kebijakan, diplomasi, dan gerakan sosial, tanpa kehilangan akar spiritualitas, akhlak, dan nilai tauhid," jelasnya.

Ke depan, Ariati mendorong Nasyiatul Aisyiyah perlu memperkuat kemandirian ekonomi perempuan melalui pendekatan ecolivelihood. Yakni mengembangkan ekonomi hijau, ekonomi syariah, ekonomi sirkular, ketahanan pangan keluarga, serta pemanfaatan teknologi berkelanjutan.

Pada saat yang sama, transformasi digital harus menjadi bagian dari strategi dakwah dan kaderisasi melalui peningkatan literasi digital, kecerdasan artifisial, pengelolaan pengetahuan, branding kader, serta diaspora kader agar nilai-nilai Islam Berkemajuan semakin hadir dan berpengaruh di ruang publik.

"Peradaban berkelanjutan bukanlah proyek jangka pendek, melainkan amanah lintas generasi. Para pendahulu telah meletakkan fondasinya, dan hari ini menjadi tanggung jawab kita untuk melanjutkannya. Memajukan perempuan muda bukan sekadar memperkuat peran perempuan, tetapi membangun masa depan umat, bangsa, dan kemanusiaan," tegasnya.

Ariati berharap, Muktamar ke-15 Nasyiatul Aisyiyah dapat melahirkan kepemimpinan yang amanah, berilmu, rendah hati, visioner, serta mampu membawa Nasyiatul Aisyiyah memasuki abad kedua.

"Yakni sebagai gerakan perempuan muda Islam berkemajuan yang terus menghadirkan solusi, melahirkan pemimpin, dan menebarkan manfaat bagi Indonesia dan dunia menuju terwujudnya Baldatun Thayyibatun wa Rabbun Ghafur," tandasnya. (Cris)


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

WONOGIRI, Suara Muhammadiyah - Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah Se Solo Raya menyelengga....

Suara Muhammadiyah

14 January 2026

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah — Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Prof Dr Irwan Akib men....

Suara Muhammadiyah

5 December 2025

Berita

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta (SMA Muhi) jalin kerja sama internasi....

Suara Muhammadiyah

25 June 2025

Berita

LOMBOK, Suara Muhammadiyah – Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah menggelar Konsolidasi....

Suara Muhammadiyah

19 July 2025

Berita

SLEMAN, Suara Muhammadiyah – Direktur Utama PT Syarikat Cahaya Media / Suara Muhammadiyah Deni....

Suara Muhammadiyah

7 March 2025

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah