Tauhid sebagai Cara Pandang Hidup Kader Muhammadiyah
Oleh : Dr. Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta
Tauhid sering dipahami sebagai doktrin paling dasar dalam Islam, keyakinan bahwa Allah Maha Esa. Ia diajarkan sejak dini, dihafalkan dalam surah Al-Ikhlas, dirumuskan dalam kalimat la ilaha illallah. Namun bagi kader Muhammadiyah, tauhid tidak boleh berhenti sebagai afirmasi teologis. Tauhid harus naik derajat menjadi cara pandang hidup, menjadi paradigma berpikir, paradigma gerakan, bahkan paradigma peradaban.
Muhammadiyah lahir dari kesadaran tauhid yang fundamental, KH. Ahmad Dahlan tidak memulai gerakan ini dari ambisi sosial, melainkan dari kegelisahan tauhid. Ia melihat umat yang membaca Al-Qur’an tetapi belum menjadikannya sebagai petunjuk hidup. Ia melihat praktik keberagamaan yang bercampur dengan takhayul, bid’ah, dan khurafat. Maka yang pertama dibenahi adalah fondasinya, kemurnian tauhid.
Allah berfirman, “Katakanlah: Dialah Allah, Yang Maha Esa.” (Q.S. Al-Ikhlas: 1). Ayat ini bukan sekadar pernyataan metafisik. Ia adalah deklarasi pembebasan. Jika Allah Esa, maka tidak ada yang layak dipertuhankan selain Dia. Tidak jabatan. Tidak harta. Tidak tokoh. Tidak sistem dunia. Tauhid membebaskan manusia dari segala bentuk penghambaan selain kepada Allah.
Di sinilah tauhid menjadi paradigma berpikir. Paradigma adalah kerangka dasar dalam melihat realitas. Kader yang bertauhid tidak melihat dunia sebagai ruang netral tanpa nilai. Ia memandang kehidupan sebagai amanah, sejarah sebagai ladang ujian, dan kekuasaan sebagai tanggung jawab. Segala sesuatu dikembalikan kepada kesadaran bahwa hidup ini berada dalam pengawasan Allah dan akan dipertanggungjawabkan di hadapan-Nya.
Allah menegaskan, “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.” (Q.S. Al-An’am: 162). Perhatikan bahwa yang disebut bukan hanya ibadah, tetapi hidup dan mati. Artinya, tauhid mengintegrasikan seluruh dimensi kehidupan. Ia menolak dikotomi antara sakral dan profan. Ia menolak pemisahan antara masjid dan kantor, antara pengajian dan rapat organisasi.
Di sinilah kita perlu jujur melihat gejala sekularisasi cara berpikir. Sekularisasi tidak selalu berarti menolak agama secara terang-terangan. Ia bisa hadir secara halus, ketika agama ditempatkan hanya di ruang ibadah, sementara urusan organisasi, politik, ekonomi, dan manajemen dianggap netral nilai. Ketika keputusan strategis lebih ditentukan oleh pertimbangan pragmatis semata, tanpa keberanian mengukurnya dengan prinsip tauhid.
Kita bisa rajin shalat berjamaah, tetapi dalam pengelolaan amanah masih terjebak pada kepentingan kelompok. Kita bisa berbicara tentang dakwah pencerahan, tetapi dalam praktik organisasi masih mudah terjebak pada rivalitas dan ego sektoral. Di titik itu, tauhid belum sepenuhnya menjadi paradigma. Ia masih menjadi simbol, belum menjadi sistem nilai yang mengarahkan tindakan.
Padahal tauhid memiliki implikasi sosial dan peradaban yang sangat besar. Ketika Allah satu-satunya yang Maha Tinggi, maka tidak ada ruang bagi kesombongan manusia. Ketika Allah satu-satunya sumber hukum, maka keadilan bukan sekadar kesepakatan sosial, tetapi tuntutan ilahiah. Ketika Allah menjadi tujuan akhir, maka seluruh aktivitas gerakan harus bermuara pada ridha-Nya, bukan pada pencitraan atau sekadar ekspansi kelembagaan.
Paradigma gerakan Muhammadiyah sejatinya adalah tauhid yang operasional. Amal usaha bukan sekadar institusi, melainkan manifestasi ibadah kolektif. Pendidikan bukan sekadar transfer ilmu, melainkan pembentukan insan beriman dan berkemajuan. Pelayanan kesehatan bukan sekadar layanan profesional, melainkan wujud kasih sayang yang berakar pada iman.
Tauhid juga membentuk keberanian moral. Seorang kader yang menjadikan tauhid sebagai cara pandang tidak mudah tunduk pada tekanan kekuasaan atau arus opini. Ia sadar bahwa ketaatan tertinggi hanya kepada Allah. Dalam Al-Qur’an ditegaskan, “Maka janganlah kamu takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku.” (Q.S. Al-Ma’idah: 44). Ayat ini melahirkan integritas. Ia mengajarkan bahwa ketakutan terbesar bukan kehilangan posisi, tetapi kehilangan ridha Ilahi.
Dalam kehidupan organisasi, tauhid menuntut transparansi, amanah, dan profesionalitas. Mengelola dana umat bukan sekadar tugas administratif, tetapi ibadah yang akan dihisab. Memimpin bukan sekadar kehormatan, tetapi tanggung jawab yang berat. Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Bukhari dan Muslim). Hadis ini menegaskan bahwa kepemimpinan dalam Muhammadiyah harus berakar pada kesadaran tauhid, bukan pada ambisi personal.
Lebih jauh, tauhid adalah paradigma peradaban. Ia membentuk visi tentang manusia, ilmu, dan kemajuan. Dalam tauhid, ilmu tidak bebas nilai; ia terikat pada kebenaran dan kemaslahatan. Kemajuan tidak diukur semata-mata oleh pertumbuhan materi, tetapi oleh kualitas moral dan keadilan sosial. Peradaban yang bertauhid adalah peradaban yang memadukan kecerdasan intelektual dengan kejernihan spiritual.
Jika kader Muhammadiyah kehilangan cara pandang tauhid, maka gerakan ini berisiko menjadi sekadar organisasi modern yang efisien tetapi kering ruh. Ia mungkin berkembang secara struktural, tetapi melemah secara spiritual. Program berjalan, tetapi orientasi kabur. Aktivitas padat, tetapi hati kosong.
Karena itu, pembaruan ruh gerakan harus dimulai dari pembaruan tauhid. Bukan dengan slogan, tetapi dengan internalisasi. Tauhid harus dihadirkan dalam rapat-rapat strategis, dalam pengambilan keputusan, dalam perencanaan jangka panjang. Setiap kebijakan perlu ditanya, apakah ini mendekatkan kita kepada ridha Allah atau hanya kepada kepuasan sesaat?
Kader Muhammadiyah hari ini menghadapi tantangan zaman yang kompleks, globalisasi, digitalisasi, polarisasi politik, dan kompetisi ekonomi. Semua itu membutuhkan kecerdasan dan profesionalitas. Tetapi tanpa tauhid sebagai fondasi, kecerdasan bisa berubah menjadi keculasan, dan profesionalitas bisa kehilangan arah moral.
Tauhid sebagai cara pandang hidup berarti menjadikan Allah sebagai pusat gravitasi seluruh gerak. Dari sana lahir keikhlasan dalam bekerja, keberanian dalam bersikap, dan keteguhan dalam menghadapi ujian. Tauhid melahirkan kader yang tidak mudah goyah oleh pujian dan tidak runtuh oleh celaan.
Muhammadiyah membutuhkan kader yang bukan hanya cerdas secara organisatoris, tetapi kokoh secara ideologis. Kader yang memahami bahwa setiap langkah adalah bagian dari ibadah. Kader yang sadar bahwa sejarah akan mencatat bukan hanya apa yang dibangun, tetapi dengan niat apa ia dibangun.
Pada akhirnya, pertanyaannya kembali kepada diri kita masing-masing, apakah tauhid masih menjadi jantung gerakan kita, ataukah ia telah bergeser menjadi ornamen wacana? Jika kita ingin Muhammadiyah tetap menjadi gerakan Islam berkemajuan yang autentik, maka tidak ada pilihan lain selain menghidupkan kembali tauhid sebagai cara pandang, sebagai paradigma, dan sebagai nafas perjuangan.
Sebab dari tauhid yang hidup, lahir gerakan yang bersih. Dari tauhid yang kokoh, lahir peradaban yang berkeadaban. Dan dari tauhid yang mendarah daging dalam diri kader, lahir Muhammadiyah yang benar-benar menjadi saksi kehadiran Islam sebagai rahmat bagi semesta.

