Teknologi Belum Hapus Kesenjangan Sosial, Pakar UMY Soroti Ketimpangan Inovasi

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
477
Dok Istimewa

Dok Istimewa

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah - Kemajuan teknologi di era Society 5.0 telah membawa transformasi besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia. Namun, belum semua pihak merasakan dampak positifnya secara merata. Hal ini disoroti oleh Guru Besar UMY bidang Ekonomi Politik Internasional, Prof. Dr. Faris Al-Fadhat, M.A., dalam sesi keynote speech pada International Conference of Community Service (ICCS), Kamis (7/8), di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian International Conference on Sustainable Innovation (ICoSI) UMY yang berlangsung sejak Rabu (6/8), dan membahas berbagai solusi inovatif dan terlokalisasi untuk menjawab tantangan global, termasuk kesenjangan sosial dan ekonomi.

Dalam paparannya, Prof. Faris menekankan bahwa perkembangan teknologi tidak selalu identik dengan pemerataan. Meski menciptakan efisiensi dan inovasi, struktur sosial dan ketimpangan ekonomi cenderung stagnan.

“Bahkan dengan kemajuan teknologi yang sangat pesat, struktur sosial kita nyaris tidak berubah dalam 200 tahun terakhir. Data World Inequality Report menunjukkan bahwa 10% populasi terkaya dunia masih menguasai lebih dari 55% kekayaan global, sementara 50% populasi lainnya berada dalam posisi yang tertinggal,” ungkap Faris.

Dosen Program Studi Hubungan Internasional FISIPOL UMY ini juga mengakui bahwa teknologi telah membawa kemudahan luar biasa dalam kehidupan, mulai dari sektor pertanian, pendidikan, hingga kesehatan. Ia mencontohkan petani di Jawa Barat yang kini bisa mengatur irigasi dan suhu lahan hanya melalui ponsel, serta anak-anak di Filipina yang tetap dapat mengakses pendidikan meski terdampak pandemi COVID-19.

Namun, ia mengingatkan bahwa di balik kemajuan itu, akses terhadap teknologi masih sangat timpang. Ia mengkritisi arah investasi yang lebih banyak dikendalikan oleh korporasi besar, yang cenderung mengedepankan akumulasi modal ketimbang kebutuhan masyarakat.

“Perusahaan besar berinvestasi dalam teknologi bukan karena peduli pada pemberdayaan masyarakat, tetapi karena melihat potensi keuntungan jangka panjang. Inilah mengapa sektor teknologi kini menjadi ladang emas baru bagi para pemilik modal,” jelasnya.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Prof. Faris menawarkan tiga pendekatan agar teknologi bisa berperan lebih adil dalam masyarakat, yakni pertama, demokratisasi akses teknologi, agar semua lapisan masyarakat dapat memanfaatkannya. Kedua, penciptaan lapangan kerja baru sebagai respons atas pekerjaan lama yang tergantikan oleh otomatisasi; dan ketiga, regulasi yang berpihak pada masyarakat, untuk memastikan teknologi menjadi alat pemberdayaan, bukan pemisah.

Ia menekankan pentingnya peran negara dan komunitas dalam mengarahkan inovasi agar tidak hanya menjadi mesin produksi kapital, tetapi juga alat pembebasan sosial.

“Teknologi itu netral, tetapi dampaknya sangat ditentukan oleh siapa yang mengendalikannya dan untuk tujuan apa. Jika tidak diregulasi dengan adil, teknologi justru dapat memperdalam jurang sosial dan ekonomi,” pungkasnya. (ID)


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

TUBABA, Suara Muhammadiyah - Bertempat di aula rumah dinas Bupati, Kamis (30/1), Ketua Pimpinan Daer....

Suara Muhammadiyah

31 January 2025

Berita

MAKASSAR, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Makassar (Unismuh) menjadi tuan rumah ....

Suara Muhammadiyah

25 November 2024

Berita

MAGELANG, Suara Muhammadiyah - Dunia pendidikan saat ini menuntut lebih dari sekadar kemampuan menga....

Suara Muhammadiyah

11 October 2025

Berita

JAKARTA, Suara Muhammadiyah - Agar nilai-nilai kebaikan dalam Gerakan Nasional Revolusi Mental (GNRM....

Suara Muhammadiyah

28 September 2024

Berita

MEDAN, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara melakukan pertemuan silatu....

Suara Muhammadiyah

17 September 2025