Tentang Ketenaran, Kedalaman dan Nilai Sebuah Kehadiran

Suara Muhammadiyah

8 September 2026

140
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Tentang Ketenaran, Kedalaman dan Nilai Sebuah Kehadiran

Oleh: Dr. Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadiyah Jakarta

“Pernahkah kita mendengar seseorang berbicara, tetapi tangan justru refleks meraih ponsel, karena kata-katanya tidak benar-benar sampai ke pikiran, hati, dan rasa?”

Ada orang yang naik ke panggung karena jabatannya. Kehadirannya diperlukan untuk membuka acara, menyampaikan sambutan, mewakili lembaga, atau memberi legitimasi pada sebuah kegiatan. Ada pula yang diundang karena ketokohannya, karena namanya dikenal luas, karena daya tariknya mampu memenuhi ruangan, mengundang perhatian, atau membuat sebuah acara terasa lebih penting. Semua itu wajar. Jabatan memiliki fungsi, ketokohan memiliki tempat, popularitas pun memiliki kegunaan. Persoalan baru muncul ketika kita mulai mencampuradukkan berbagai jenis nilai yang sebenarnya berbeda.

Seseorang yang penting secara struktural belum tentu paling tepat didengar dalam setiap persoalan. Orang yang sangat terkenal belum tentu mempunyai pandangan paling dalam. Orang dengan ribuan atau jutaan pengikut belum tentu memiliki jawaban terbaik. Sebaliknya, orang yang tidak terkenal juga belum tentu lebih bijaksana. Kesederhanaan bukan sertifikat kedalaman, sebagaimana popularitas bukan bukti kehampaan. Yang dibutuhkan adalah kemampuan membedakan, siapa yang hadir karena fungsi institusional, siapa yang hadir karena daya tarik, siapa yang hadir karena pengetahuan, siapa yang hadir karena pengalaman, dan siapa yang benar-benar membawa sesuatu yang sanggup menyentuh serta menggerakkan kehidupan.

Kita mudah terpesona oleh apa yang terlihat besar. Ruangan penuh, tepuk tangan meriah, antrean panjang untuk berfoto, pengikut yang banyak, nama yang disebut dengan penuh hormat. Semua itu memiliki makna, tetapi maknanya terbatas. Ramainya ruangan hanya mengatakan bahwa banyak orang datang. Tepuk tangan hanya mengatakan bahwa orang memberi respons. Banyaknya pengikut hanya mengatakan bahwa seseorang memperoleh perhatian. Tidak lebih dari itu. Masalah muncul ketika perhatian diubah menjadi ukuran kebenaran, ketika popularitas dianggap sebagai bukti kebijaksanaan, atau ketika ketenaran diperlakukan seolah-olah menjamin kualitas setiap ucapan.

Namun kita juga harus berhati-hati agar tidak jatuh pada kesombongan jenis lain. Keramaian tidak selalu dangkal. Popularitas tidak selalu kosong. Seseorang bisa sangat terkenal sekaligus sangat bernilai. Sebuah acara yang penuh sesak dapat membangun semangat, rasa kebersamaan, keberanian, bahkan harapan. Seorang orator yang mampu menghidupkan ruangan memiliki kemampuan yang nyata. Seorang penyanyi yang membuat ribuan orang larut dalam keindahan sedang menghadirkan pengalaman yang memiliki makna. Karena itu persoalannya bukan apakah sesuatu ramai, melainkan ramai untuk apa; bukan apakah seseorang terkenal, melainkan nilai apa yang sesungguhnya ia bawa.

Di sinilah kita perlu membedakan antara perhatian, keterharuan, dan perubahan. Seseorang bisa mendengarkan dengan penuh minat tetapi tidak benar-benar memahami. Ia bisa memahami tetapi tidak tersentuh. Ia bisa tersentuh sampai menangis tetapi tidak melakukan apa-apa. Ia bahkan bisa benar-benar berniat berubah, lalu beberapa hari kemudian kembali kepada kebiasaan lama. Itu tidak selalu berarti tangisnya palsu, tidak pula berarti acara itu sia-sia. Perubahan memang membutuhkan perjalanan yang lebih panjang daripada sekadar satu momen yang menggugah.

Sebuah pesan bisa berhenti di telinga, bisa masuk ke pikiran, bisa turun ke hati, tetapi belum tentu sampai ke tindakan. Di antara mengetahui dan melakukan terdapat jarak yang sering kali sangat panjang. Karena itu kita perlu berhenti mengukur keberhasilan sebuah nasihat hanya dari suasana saat ia disampaikan. Air mata bukan jaminan perubahan. Tepuk tangan bukan bukti transformasi. Keheningan yang dalam pun belum tentu berarti seseorang akan benar-benar mengubah hidupnya. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah semuanya selesai, apakah seseorang menjadi lebih jujur, lebih sabar, lebih lembut, lebih bertanggung jawab, lebih berani meminta maaf, atau lebih sungguh-sungguh memperbaiki diri.

Di tengah dunia yang sangat mudah memberi perhatian kepada nama besar, terkadang kita bertemu manusia yang sama sekali tidak besar namanya. Tidak memiliki jabatan tinggi. Tidak dikelilingi kamera. Tidak mempunyai ribuan orang yang menunggu untuk berfoto. Namun ketika ia berbicara, ada sesuatu yang membuat kita diam. Kalimatnya tidak selalu rumit, tetapi terasa memiliki bobot. Ia berbicara tentang sabar, dan kata itu terasa berbeda. Ia berbicara tentang kehilangan, dan kita merasa bahwa ia tidak sedang sekadar mengulang nasihat. Ada pengalaman panjang, air mata, kegagalan, usaha, dan pergulatan yang tidak semuanya terlihat oleh orang lain.

Tetapi kita pun perlu berhati-hati dalam memandang orang seperti ini. Penderitaan tidak otomatis membuat seseorang bijaksana. Luka dapat melembutkan, tetapi juga dapat mengeraskan. Kesulitan dapat melahirkan empati, tetapi dapat pula menumbuhkan kepahitan. Yang memberi bobot bukan sekadar banyaknya penderitaan, melainkan bagaimana seseorang mengolahnya. Apakah ia merenung, belajar, memperbaiki diri, mengenali keterbatasannya, memahami orang lain, dan tetap memilih kebaikan meskipun pernah diperlakukan buruk.

Kadang-kadang sebuah kalimat menjadi sangat kuat bukan karena kalimat itu baru, tetapi karena ada kehidupan yang panjang di belakangnya. Kata “sabar” bisa terdengar biasa sampai ia keluar dari seseorang yang benar-benar pernah berada di ambang menyerah. Kata “maafkan” bisa terasa ringan sampai ia diucapkan oleh seseorang yang pernah terluka dalam-dalam tetapi memilih tidak membalas. Kata “jangan putus asa” dapat terdengar seperti slogan sampai ia datang dari orang yang pernah jatuh berkali-kali dan masih mampu berdiri dengan hati yang tidak pahit.

Namun pengalaman juga mempunyai batas. Orang yang pernah melewati sebuah penyakit mungkin memiliki kisah yang sangat berharga, tetapi itu tidak otomatis menjadikannya ahli kesehatan. Seseorang yang berhasil membangun usaha dari nol dapat memberikan pelajaran penting, tetapi pengalaman hidupnya tidak otomatis menjadi hukum yang berlaku untuk semua orang. Ketulusan bukan pengganti pengetahuan, sebagaimana pengetahuan tanpa ketulusan juga dapat kehilangan daya kemanusiaannya. Kita membutuhkan keduanya, isi yang benar dan cara yang baik dalam menyampaikannya.

Ada tanggung jawab besar pada siapa pun yang memegang mikrofon. Ketika seseorang berbicara di hadapan banyak orang, ia bukan hanya sedang menggunakan waktunya sendiri, tetapi juga waktu orang lain. Semakin besar audiens, semakin besar pula amanah itu. Karena itu kemampuan berbicara seperlunya merupakan bentuk penghormatan. Kemampuan mengatakan “saya tidak tahu” adalah kematangan. Kemampuan menyerahkan suatu persoalan kepada orang yang lebih ahli adalah kehormatan, bukan kelemahan.

Mikrofon sesungguhnya bukan hanya alat untuk memperbesar suara. Ia adalah izin untuk mengambil sebagian umur manusia lain. Waktu yang telah berlalu tidak dapat dikembalikan, dibeli, atau diganti. Karena itu setiap orang yang mendapat panggung seharusnya bertanya, apakah apa yang saya sampaikan benar-benar layak mengambil waktu mereka? Apakah saya sedang memberi nilai, atau hanya menikmati kesempatan untuk didengar?

Audiens pun memiliki tanggung jawab yang sama pentingnya. Tidak setiap kebosanan adalah kesalahan pembicara. Bisa jadi materi memang terlalu panjang, tetapi bisa pula kita sendiri telah kehilangan kemampuan untuk hadir secara utuh. Kita terlalu cepat mengambil telepon, terlalu mudah teralihkan, terlalu terbiasa memberi perhatian hanya kepada sesuatu yang menghibur. Maka muhasabah harus berjalan ke dua arah, yang berbicara harus menjaga kualitas pesannya, dan yang mendengar harus menjaga kualitas perhatiannya.

Penyelenggara juga perlu bertanya dengan jujur, mengapa orang ini diberi panggung? Apakah karena ia paling tepat, atau hanya karena paling terkenal? Apakah jabatan memang diperlukan, atau sekadar dipakai untuk memberi kesan besar? Apakah setiap penampil dipilih sesuai tujuan acara, atau sekadar mengikuti kebiasaan bahwa nama besar pasti membuat acara tampak berhasil?

Sementara itu, orang yang terus-menerus menerima tepuk tangan menghadapi ujian yang tidak sederhana. Jika setiap kali datang ia disambut, setiap kali berbicara orang diam, setiap kali bercanda orang tertawa, dan setiap selesai tampil orang berebut berfoto, perlahan muncul risiko sulit membedakan antara penghormatan kepada peran dan penghormatan kepada diri. Di sinilah kerendahan hati menjadi penting. Orang besar bukanlah orang yang selalu merasa perlu didengar, melainkan orang yang tetap tahu kapan harus bicara, kapan harus diam, dan kapan harus mempersilakan orang lain yang lebih layak mengambil tempat.

Namun orang yang tidak terkenal pun jangan merasa aman dari ego. Kesombongan tidak hanya tumbuh di bawah sorotan lampu. Ia juga bisa tumbuh dalam keheningan. Orang terkenal dapat berkata, “Lihatlah betapa banyak orang mengagumiku.” Orang yang tidak terkenal dapat berkata, “Aku jauh lebih tulus daripada mereka yang terkenal.” Keduanya tetap sedang berbicara tentang dirinya sendiri.

Karena itu tulisan tentang ketenaran dan kedalaman akan kehilangan maknanya jika setelah membacanya kita justru sibuk mencari siapa orang yang sedang dimaksud. Jika yang muncul hanya, “Ini pasti si A,” atau “Ini cocok sekali dengan si B,” maka kita telah mengubah cermin menjadi teleskop. Sesuatu yang seharusnya dipakai untuk melihat diri sendiri malah digunakan untuk mengamati kesalahan orang lain.

Pada akhirnya setiap panggung akan kosong. Lampu akan dipadamkan. Kursi akan dibereskan. Mikrofon dimasukkan kembali ke dalam kotaknya. Orang-orang pulang. Tepuk tangan berhenti. Foto perlahan tenggelam di antara ribuan foto lain. Nama yang hari ini sangat dikenal suatu saat akan digantikan oleh nama berikutnya.

Maka mungkin ukuran terpenting sebuah kehadiran bukanlah seberapa tinggi panggung tempat seseorang berdiri, seberapa ramai orang menyambutnya, atau seberapa banyak orang mengenali namanya. Pertanyaan yang lebih penting adalah, apa yang menjadi lebih baik karena ia pernah hadir? Apakah orang hanya semakin mengenal dirinya, atau semakin mengenal kebenaran? Apakah mereka hanya pulang membawa foto, atau membawa keberanian untuk memperbaiki kehidupan?

Sebab nilai sebuah kehadiran sering kali baru terlihat ketika keramaian telah usai. Ketika tidak ada kamera, tidak ada tepuk tangan, tidak ada sorotan, dan tidak ada lagi orang yang menyebut nama sang penampil. Di sanalah tersisa ukuran yang lebih sunyi, tetapi mungkin jauh lebih jujur, apa yang masih hidup dalam diri manusia setelah seluruh keramaian selesai.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Oleh: Drh H Baskoro Tri Caroko. PP Muhammadiyah, LPCRPM Bidang Pemberdayaan Ekonomi Seni Dan Budaya.....

Suara Muhammadiyah

6 November 2024

Wawasan

Oleh: Racha Julian Chairurrizal Dalam sejarahnya, manusia adalah makhluk yang selalu bisa beradapta....

Suara Muhammadiyah

2 December 2023

Wawasan

Makna Haji Mabrur  Oleh: Dr. Ajang Kusmana, S.Ag., M.Ag, Ketua LDK PDM Kab. Malang Jatim Kata....

Suara Muhammadiyah

5 June 2026

Wawasan

Resesi dalam Kehidupan Dalam kehidupan di dunia ini tidaklah semulus jalan tol dan secepat pesawat,....

Suara Muhammadiyah

20 October 2023

Wawasan

Refleksi 116 Tahun Kebangkitan Nasional Oleh: Rumini Zulfikar, Penasehat PRM Troketon "Masa Depan ....

Suara Muhammadiyah

20 May 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah