BANDUNG, Suara Muhammadiyah – Sebanyak 1.200 mahasiswa Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung bersiap terjun langsung ke tengah masyarakat melalui program Kuliah Kerja Nyata (KKN) 2026.
Tahun ini, pengabdian mahasiswa tidak hanya berorientasi pada pelaksanaan program desa. Namun, diarahkan untuk mendukung penyelesaian persoalan pendidikan melalui verifikasi faktual data Anak Tidak Sekolah (ATS) di Jawa Barat.
Komitmen tersebut menjadi salah satu fokus pembekalan KKN yang digelar Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UM Bandung di Auditorium KH Ahmad Dahlan pada Selasa (28/7/2026).
Mengusung tema ”Inovasi Berbasis Potensi Lokal untuk Desa Mandiri dan Berkelanjutan”, kegiatan ini menjadi bekal awal bagi mahasiswa sebelum menjalankan pengabdian di lapangan.
Kepala LPPM UM Bandung Ijang Faisal menjelaskan bahwa seluruh peserta akan ditempatkan di 44 desa dan kelurahan yang tersebar di sembilan kecamatan di Kabupaten Sumedang, Kabupaten Bandung, dan Kota Bandung.
Selama pelaksanaan KKN, mahasiswa akan mengembangkan berbagai program pemberdayaan masyarakat yang disesuaikan dengan potensi lokal di setiap wilayah.
Menurut Ijang, salah satu program strategis tahun ini adalah keterlibatan mahasiswa dalam verifikasi faktual data Anak Tidak Sekolah (ATS).
Program tersebut diharapkan mampu menghasilkan data yang lebih akurat sebagai dasar penyusunan kebijakan sekaligus memperkuat upaya peningkatan kualitas pendidikan di Jawa Barat.
"Bagi kami, pembekalan KKN bukan sekadar seremoni, melainkan titik awal transformasi mahasiswa dari pembelajar di ruang kelas menjadi pembelajar di laboratorium terbesar kehidupan, yaitu masyarakat," ujarnya.
Dia mengingatkan bahwa keberhasilan KKN tidak hanya diukur dari banyaknya program yang dijalankan, tetapi dari kemampuan mahasiswa membangun hubungan yang baik dengan masyarakat.
Oleh karena itu, mahasiswa diminta mengedepankan akhlak, kedisiplinan, komunikasi yang santun, dan menghormati nilai-nilai yang hidup di lingkungan tempat mereka mengabdi.
"Jangan datang untuk menggurui masyarakat. Datanglah untuk mendengar, memahami, lalu membersamai mereka dalam menemukan solusi yang memberikan manfaat nyata," tegasnya.
Rektor UM Bandung Herry Suhardiyanto menambahkan, mahasiswa yang mengikuti KKN sejatinya membawa nama baik universitas sekaligus menjadi mitra masyarakat dalam mencari solusi atas berbagai persoalan di lapangan.
Menurutnya, pengalaman tersebut merupakan bagian penting dalam membentuk kepemimpinan, empati, dan kemampuan menyelesaikan masalah secara nyata.
Herry juga meminta mahasiswa memanfaatkan momentum KKN untuk memahami kondisi masyarakat secara utuh. Termasuk memastikan validitas data yang berkaitan dengan persoalan pendidikan, khususnya Anak Tidak Sekolah (ATS).
"Saya harapkan para mahasiswa belajar memahami fenomena di tengah masyarakat. Tolong cek betul data-data seperti anak tidak sekolah di lapangan agar mahasiswa memahami keadaan masyarakat yang sebenarnya," kata Herry.
Melalui program KKN 2026, UM Bandung menegaskan komitmennya menghadirkan pengabdian yang tidak berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Dengan memadukan inovasi berbasis potensi lokal, kolaborasi dengan pemerintah daerah, dan keterlibatan aktif mahasiswa, KKN diharapkan menjadi ruang lahirnya solusi yang berkelanjutan bagi pembangunan desa sekaligus memperkuat peran perguruan tinggi dalam menjawab persoalan sosial.***(FK)

