Transhumanisme dan Masa Depan Kemanusiaan

Suara Muhammadiyah

16 August 2026

82
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Transhumanisme dan Masa Depan Kemanusiaan

Ditulis oleh: Roehan Ustman, Pengasuh PP Ibnul Qoyyim Yogyakarta, Anggota Muhammadiyah Patuk Gunungkidul DIY

Transhumanisme adalah gerakan filosofis dan intelektual yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan fisik, mental, dan kognitif manusia serta memperlambat atau menghentikan penuaan melalui pemanfaatan teknologi cangkih seperti kecerdasan buatan, rekayasa genetika, dan nanoteknologi.

Konsep Utama Transhumanisme adalah Peningkatan Manusia, memakai teknologi untuk membuat tubuh dan pikiran manusia jadi jauh lebih kuat atau cerdas. Perpanjangan Umur, berusaha mencegah penyakit dan kematian agar manusia bisa hidup sangat lama atau abadi.

Manusia dan Mesin, menggabungkan sistem biologis manusia dengan perangkat digital atau komputer. 
Dengan menggunakan teknologi Rekayasa Genetika, mengubah gen untuk mencegah penyakit bawaan.
Kecerdasan Buatan (AI), membantu meningkatkan kapasitas berpikir atau menyatu dengan sistem komputer.
Nanoteknologi dan Kriogenik, memperbaiki sel tubuh yang rusak dari tingkat atom.

Transhumanisme memunculkan pertanyaan, apakah karena manusia takut dengan kematian atau karena loncatan perkembangan teknologi?

Transhumanisme lahir dari gabungan kedua hal tersebut, dorongan psikologis yang mendalam untuk mengatasi kematian dan penderitaan, yang kemudian mendapat "kendaraan" berupa lompatan kemajuan teknologi modern seperti kecerdasan buatan, rekayasa genetika, dan nanoteknologi. 

Hasrat untuk menaklukkan maut bukanlah hal baru dan telah ada sejak ribuan tahun lalu.Ketakutan akan penuaan, rasa sakit, dan keterbatasan fisik mendorong manusia mencari cara hidup lebih lama atau bahkan abadi.

Keinginan untuk melampaui takdir biologis dipandang sebagai bentuk pelarian dari batasan kodrat manusia.

Kemajuan sains menyediakan sarana nyata seperti bioteknologi dan neurology untuk mewujudkan ambisi melampaui batas.Perkembangan komputer dan AI memunculkan keyakinan bahwa kapasitas kognitif dan fisik dapat ditingkatkan, bahkan disatukan dengan mesin.

Transhumanisme dari kedua perspektif ini, keduanya saling berbenturan sekaligus melengkapi dalam memandang masa depan manusia.

Sisi Etika Filosofis: Kebebasan vs. Keadilan

Secara filosofis, perdebatan transhumanisme berpusat pada hak individu untuk mengubah diri mereka sendiri melawan dampaknya terhadap masyarakat luas.

Pendukung transhumanisme (kaum pro-humanis) berpendapat bahwa manusia memiliki hak penuh atas tubuh mereka sendiri, termasuk hak untuk memodifikasi genetika atau menanamkan cip teknologi demi peningkatan kapasitas diri.

Penentang (kaum biokonservatif) khawatir teknologi ini hanya bisa diakses oleh orang kaya. Hal ini dapat menciptakan kasta baru: "manusia super" yang kaya secara ekonomi dan unggul secara biologis, sementara masyarakat miskin tertinggal jauh di belakang.

Muncul pertanyaan moral, jika prestasi, kecerdasan, atau kebahagiaan didapatkan dari hasil rekayasa laboratorium atau implan cip, apakah itu masih murni pencapaian "Manusia"?

Dari sudut pandang spiritual, transhumanisme menantang definisi paling mendasar tentang apa artinya menjadi ciptaan.
Banyak tradisi agama melihat transhumanisme sebagai bentuk kesombongan atau ego manusia yang ingin menolak takdir. Upaya menolak kematian dianggap menentang siklus alami yang sudah ditetapkan oleh Pencipta.

Dalam mayoritas agama, penderitaan, penuaan, dan kematian bukan sekadar kerusakan biologis yang harus diperbaiki. Ketiganya adalah bagian penting dari ujian hidup, pendewasaan spiritual, dan pengingat akan keterbatasan makhluk. Jika kematian dihilangkan, esensi dari pertobatan dan kehidupan setelah kematian menjadi kabur.

Nilai seorang manusia dalam agama terletak pada jiwanya, moralitasnya, dan hubungannya dengan Tuhan, bukan pada seberapa cepat otak digitalnya memproses informasi atau seberapa kuat tubuh bioniknya.

Kesenjangan sosial dan eksistensi manusia

Risiko kesenjangan sosial dalam transhumanisme menciptakan kekhawatiran lahirnya ketimpangan mutlak yang belum pernah terjadi dalam sejarah manusia.

Jika dahulu kesenjangan hanya sebatas materi (harta dan kekuasaan), teknologi transhumanisme berpotensi mengubah kesenjangan tersebut menjadi perbedaan biologis dan kognitif. 

Diantaranya:

1. Lahirnya Kasta Baru: 
"The Enhanced" vs "The Natural".
Kasta Unggul: Kelompok kaya yang mampu membeli modifikasi genetik, implan cip otak (seperti evolusi Neuralink), dan terapi antipenuaan. Mereka akan lebih cerdas, sehat, fokus, dan hidup jauh lebih lama.

Kasta Tertinggal: Kelompok miskin atau mereka yang menolak teknologi ini karena alasan keyakinan. Mereka tetap menjadi manusia biasa yang rentan terhadap penyakit, penuaan, dan keterbatasan kognitif.

2. Monopoli Lapangan Kerja dan Ekonomi.
Kecerdasan Buatan + Modifikasi Manusia: Manusia yang telah ditingkatkan kapasitas otaknya secara digital akan mendominasi posisi strategis, pengambilan keputusan, dan sains.

Marginalisasi Manusia Biasa: Manusia biasa akan kalah bersaing dalam dunia kerja modern karena keterbatasan biologis mereka. Hal ini membuat mobilitas sosial vertikal (orang miskin menjadi kaya) menjadi hampir mustahil.

3. Komodifikasi Sifat Dasar Manusia.
Kesehatan sebagai Barang Mewah: Kemampuan untuk terhindar dari penyakit genetik atau pikun bukan lagi hak asasi, melainkan produk premium yang hanya bisa dibeli dengan uang.

Ketidakadilan Sejak Lahir: Desain bayi (designer babies) memungkinkan orang tua kaya memesan sifat genetika terbaik untuk anak mereka sejak di dalam kandungan. Hal ini memotong garis start kompetisi hidup sejak awal.

4. Ancaman terhadap Demokrasi dan Hak Asasi.
Penyalahgunaan Kekuasaan: Ketika sekelompok kecil manusia memiliki kecerdasan dan usia hidup yang berlipat ganda, mereka dapat mengontrol narasi politik dan ekonomi secara permanen.

Runtuhnya Empati: Kaum elite yang merasa diri mereka "lebih dari manusia" (Post-human) berisiko kehilangan rasa empati dan kesetaraan terhadap manusia biasa, yang mungkin hanya akan dianggap sebagai beban sosial atau spesies yang lebih rendah. 

Ketika transhumanisme berusaha menghapus penderitaan, penuaan, dan kematian, fondasi spiritual dan keagamaan yang telah menjaga kewarasan eksistensial manusia selama ribuan tahun akan menghadapi guncangan hebat.

Kematian dan keterbatasan fisik bukanlah "bug" atau kerusakan sistem yang harus diperbaiki, melainkan pilar utama dalam membentuk makna hidup manusia di hadapan Sang Pencipta. 

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

1. Kehilangan Esensi Ujian Hidup dan Pertobatan
Dunia sebagai tempat transit. Mayoritas agama mengajarkan bahwa dunia ini fana dan merupakan tempat ujian. Kematian adalah gerbang menuju keabadian yang sesungguhnya di akhirat. Hilangnya urgensi moral. Jika manusia bisa hidup ratusan tahun atau abadi di dunia melalui teknologi, urgensi untuk berbuat baik, bertobat, dan mempersiapkan diri menghadapi peradilan Tuhan akan memudar. Ego yang absolut. Manusia tidak lagi merasa membutuhkan keselamatan dari Tuhan karena mereka merasa mampu menyelamatkan diri mereka sendiri dari kematian.

2. Penderitaan sebagai Katarsis Spiritual yang Tereliminasi
Pematangan jiwa. Dalam tradisi spiritual, rasa sakit, penyakit, dan kesedihan adalah alat untuk mengikis kesombongan, menumbuhkan empati, dan mendekatkan diri kepada Yang Maha Kuasa. Kehilangan rasa syukur. Tanpa adanya kontras antara rasa sakit dan kesembuhan, atau antara masa muda dan penuaan, manusia akan kehilangan kemampuan terdalam untuk merasa bersyukur dan berserah diri (tawakal).

3. Komodifikasi Jiwa menjadi Sekadar Data
Reduksionisme biologis. Transhumanisme memandang manusia secara mekanistis—tubuh sebagai perangkat keras (hardware) dan kesadaran sebagai perangkat lunak (software). Matinya konsep "Ruh". Gagasan transhumanisme seperti mind uploading (memindahkan kesadaran ke dalam komputer) mereduksi jiwa atau ruh yang suci menjadi sekadar barisan kode digital atau algoritma yang bisa digandakan, diedit, atau dihapus.

4. Krisis Ritual dan Sakramen Keagamaan
Ritual yang tidak relevan. Banyak ritual keagamaan berpusat pada siklus hidup manusia: kelahiran, kedewasaan, pernikahan, penuaan, dan kematian (seperti doa kematian, pemakaman, atau ritual penghormatan leluhur). Kehilangan kesucian tubuh. Ketika tubuh manusia diubah menjadi bionik atau siborg, batasan tentang apa yang suci dan apa yang profan menjadi kabur. Apakah tubuh yang 80% mesin masih mengemban kewajiban spiritual yang sama?

Meyakinkan umat bahwa teknologi bukanlah bentuk "pemberontakan terhadap Tuhan" akan menjadi salah satu misi teologis terbesar dan paling menantang bagi para pemuka agama di masa depan.

Tantangan ini berat karena secara instingtif, ketika teknologi mulai menyentuh wilayah rahasia ilahi—seperti memperpanjang umur, merekayasa genetika, atau menciptakan kecerdasan—umat cenderung melihatnya sebagai tindakan "bermain menjadi Tuhan" (playing God).

Untuk menjembatani jurang pemisah ini, diperkirakan akan menggunakan beberapa strategi komunikasi dan argumentasi teologis berikut:

1. Narasi "Teknologi sebagai Perpanjangan Tangan Tuhan"
Bakat dan Kecerdasan adalah Karunia. Pemuka agama akan menekankan bahwa akal pikiran, sains, dan kreativitas yang dimiliki para ilmuwan bukanlah musuh iman, melainkan karunia yang dititipkan oleh Tuhan.

Tanggung Jawab Kekhalifahan (Stewardship). Dalam banyak tradisi agama (seperti konsep Khalifah dalam Islam atau tugas menjaga taman Eden dalam Kekristenan), manusia diberi mandat untuk merawat dan memperbaiki kualitas hidup di bumi. Teknologi medis dan biologi akan dibingkai sebagai alat untuk menunaikan tugas suci tersebut, bukan untuk menantangnya.

2. Mengubah Paradigma: Melawan Penyakit, Bukan Melawan Takdir
Menghapus Penderitaan adalah Perintah Agama. Agama-agama besar selalu memerintahkan umatnya untuk menyembuhkan yang sakit dan membantu yang lemah. Pemuka agama akan berargumen bahwa menggunakan rekayasa genetika untuk menghapus penyakit keturunan (seperti diabetes atau kanker) adalah bentuk nyata dari menjalankan perintah kasih dan kemanusiaan.

Ikhtiar vs Takdir. Teknologi akan diposisikan sebagai bentuk ikhtiar (usaha) maksimal manusia. Para pemuka agama akan mengingatkan bahwa secanggih apa pun teknologi transhumanisme, manusia tetap tidak akan pernah bisa merekayasa atau mengontrol hal-hal di luar kuasa mereka, seperti asal-mula penciptaan jiwa atau dimensi setelah kematian fisik.

3. Penyusunan Fikih dan Hukum Etika Baru
Fatwa dan Panduan yang Adaptif. Institusi agama akan mengeluarkan panduan moral yang sangat spesifik dan mudah dipahami umat. Mereka akan memperjelas garis batas yang tegas:
Diperbolehkan (Restorasi). Menggunakan teknologi untuk mengembalikan fungsi tubuh yang rusak (misalnya: kaki bionik untuk korban kecelakaan, cip otak untuk penderita Alzheimer).
Dilarang/Dibatasi (Superioritas Ego). Menggunakan teknologi semata-mata karena kesombongan untuk merasa lebih unggul dari manusia lain atau mencoba menghapus total identitas kemanusiaan itu sendiri.

4. Edukasi Berbasis Sains-Spiritual di Tempat Ibadah
Pemuka Agama Terpelajar. Di masa depan, pemuka agama tidak hanya dididik dalam ilmu teologi, tetapi juga harus memahami dasar-dasar bioteknologi dan AI.
Khotbah yang Kontekstual. Mimbar-mimbar agama akan lebih sering membahas integrasi antara ayat-ayat suci dan penemuan sains terbaru, membantu umat melihat bahwa semakin dalam manusia menjelajahi sains, semakin besar pula bukti keagungan Sang Pencipta yang mereka temukan.

Ketika agama bergeser dari sebuah pandangan hidup yang sakral menjadi sekadar "buku panduan etika", lanskap spiritualitas manusia akan mengalami sekularisasi total. Rasa takut akan dosa—yang selama ini menjadi rem moral internal berbasis spiritualitas—akan digantikan oleh etika sekuler dan hukum legal-formal. 

Dalam kondisi ini, manusia tidak lagi takut pada hukuman Tuhan di akhirat, melainkan hanya takut pada sanksi sosial, sanksi hukum, atau kerusakan sistemis di dunia. Maka yang akan muncul adalah:

1. Desakralisasi Moralitas: Dosa Berubah Menjadi "Pelanggaran Kode Etik"
Tindakan yang dulunya dianggap dosa besar (seperti keserakahan ekstrem, manipulasi genetik tanpa izin, atau pengabaian kaum lemah) tidak lagi dipandang sebagai pelanggaran terhadap hukum Tuhan.
Pelanggaran moral akan diselesaikan di ruang sidang etik atau pengadilan siber, bukan melalui pertobatan spiritual. Jika sebuah tindakan tidak melanggar hukum negara atau regulasi korporasi, tindakan tersebut dianggap sah-sah saja, meskipun secara spiritual melintasi batas kodrat.

2. Kehilangan Rasa Bersalah yang Bersifat Transendental
Tanpa konsep dosa, rasa bersalah hanya muncul jika seseorang tertangkap tangan atau merugikan orang lain secara langsung. Kompas moral manusia tidak lagi berbasis pada "Tuhan Maha Melihat", melainkan pada "apakah kamera pengawas atau algoritma AI mendeteksi saya?".

Manusia tidak lagi merasakan kebutuhan akan pengampunan ilahi (istighfar atau pengakuan dosa). Penyesalan beralih fungsi menjadi kalkulasi logis untuk memperbaiki kesalahan strategi sosial.
3. Agama Menjadi "Komoditas Kesejahteraan Mental" (Wellness Product)

Institusi agama dan ritual di dalamnya hanya akan dicari ketika manusia mengalami krisis eksistensial, stres digital, atau membutuhkan ketenangan pikiran (mindfulness).
Umat masa depan hanya akan mengambil bagian-bagian agama yang menyenangkan dan menenangkan (seperti cinta kasih, meditasi, dan kedamaian), sementara mereka akan membuang bagian yang berisi larangan, kewajiban berat, dan ancaman siksa neraka.

4. Etika yang Cair dan Bisa Dinegosiasikan
Tanpa dasar hukum Tuhan yang absolut, etika bersifat sangat dinamis dan mengikuti tren zaman atau kepentingan ekonomi. Jika di masa depan merekayasa kelas pekerja bionik dianggap menguntungkan secara ekonomi, etika masyarakat bisa bergeser untuk melegalkannya.
Deklarasi hak asasi manusia dan kesepakatan global akan menjadi kitab suci baru untuk menentukan mana yang baik dan buruk, sementara teks suci agama hanya menjadi dokumen historis yang dikutip sebagai pemanis pidato.

5. Benteng Terakhir Kemanusiaan
Meskipun kehilangan aspek "takut dosa", agama sebagai pelengkap etika tetap memiliki peran krusial. Agama akan menjadi suara hati kolektif yang mengingatkan manusia agar tidak bertindak melampaui batas hingga memusnahkan kemanusiaan mereka sendiri. Ia menjadi penahan agar transhumanisme tidak berubah menjadi distopia mesin yang dingin tanpa empati. 

Melihat pergeseran ini,  masyarakat masa depan yang dipandu oleh "etika tanpa rasa takut dosa" ini mungkin akan menjadi masyarakat yang lebih damai dan toleran karena hilangnya fanatisme agama, atau justru menjadi masyarakat yang dingin dan kejam karena kehilangan ketakutan pada hukuman ilahi? 

Waktu yang  akan menjawab.

 


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Tadhhiyah, Mengubah Cinta Menjadi Pengabdian Oleh : Dr. Jaharuddin, Dosen FEB Universitas Muhammadi....

Suara Muhammadiyah

8 July 2026

Wawasan

Melejitkan SMK Pusat Keunggulan Oleh: Rizki Putra Dewantoro, Alumni SMK Teknik Muhammadiyah Cianjur....

Suara Muhammadiyah

6 July 2024

Wawasan

Mengarungi Kecenderungan Tafsir Klasik Al-Qur`an (2) Oleh: Donny Syofyan, Dosen Fakultas Ilmu Buday....

Suara Muhammadiyah

29 May 2024

Wawasan

Puasa: Obat Dosa, Penguat Peradaban, dan Cermin Jiwa Oleh: Roehan Usman, Pengasuh Pesantren Ibnul Q....

Suara Muhammadiyah

2 March 2026

Wawasan

Pemberdayaan Ekonomi Sektor Perunggasan Yang Berkemajuan Oleh: Drh H Baskoro Tri Caroko, LPCRPM PP ....

Suara Muhammadiyah

16 August 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah