YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Universitas Ahmad Dahlan (UAD) menerima kunjungan Duta Besar Inggris untuk Indonesia dan Timor-Leste, H.E. Dominic Jermey CVO OBE, dalam rangka memperkuat kerja sama akademik serta mendorong dialog mengenai Just Energy Transition atau transisi energi yang berkeadilan.
Kegiatan yang berlangsung di Museum Muhammadiyah UAD ini mencakup pemutaran film pendek “1000 Cahaya”, kunjungan museum, serta dialog interaktif bersama mahasiswa dan dosen dalam isu perubahan iklim dan keberlanjutan.
Kunjungan ini menjadi momentum penting dalam mempererat hubungan antara institusi pendidikan tinggi di Indonesia dan Inggris, khususnya dalam menjawab tantangan global seperti perubahan iklim, transisi energi, dan keadilan sosial. Hal ini sekaligus menjadi bukti komitmen Muhammadiyah dalam isu energi sejak Global Forum pada November 2023 yang juga dilaksanakan di UAD.
Rektor UAD, Prof. Dr. Muchlas, M.T., dalam sambutannya menegaskan komitmen UAD dalam mendukung pembangunan berkelanjutan melalui pendidikan, riset, dan pengabdian masyarakat.
“UAD secara konsisten mengembangkan berbagai inisiatif menuju kampus berkelanjutan, mulai dari efisiensi energi, program zero waste, hingga pengembangan energi terbarukan. Kami percaya bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mencetak generasi yang peduli terhadap lingkungan dan mampu menjadi agen perubahan,” ujar Prof. Muchlas.
Lebih lanjut, Rektor UAD juga menyampaikan bahwa universitas telah berhasil menurunkan penggunaan listrik hingga sekitar 11 persen serta mengembangkan berbagai inovasi, termasuk konversi limbah menjadi energi dan pengembangan kendaraan listrik oleh mahasiswa.
Dalam konteks akademik, UAD juga mengintegrasikan nilai-nilai keislaman dalam isu lingkungan melalui pendekatan seperti Green Hadith dan Fiqh Hijau, yang menjadi bagian dari kurikulum dan aktivitas mahasiswa.
Sementara itu, Duta Besar Inggris, H.E. Dominic Jermey, menyampaikan apresiasinya terhadap upaya UAD dalam mengembangkan pendekatan inovatif berbasis nilai dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.
“Inggris sangat mendukung kolaborasi dengan institusi pendidikan di Indonesia dalam mendorong transisi energi yang adil dan inklusif. Kami melihat UAD sebagai mitra strategis yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu mengintegrasikan nilai-nilai sosial dan keagamaan dalam aksi nyata menghadapi krisis iklim,” ungkapnya.
Ia juga menekankan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam agenda keberlanjutan global, serta perlunya kolaborasi lintas negara untuk mempercepat inovasi dan implementasi solusi energi bersih.
Direktur 1000Cahaya Muhammadiyah, Hening Parlan, menegaskan bahwa gerakan yang diinisiasi Muhammadiyah merupakan bagian dari komitmen nilai keislaman yang berkelanjutan.
“Komitmen Muhammadiyah dalam transisi energi berkeadilan merupakan wujud dari semangat Green Al Ma’un yang diterjemahkan dalam nilai melalui Fiqh Transisi Energi Berkeadilan, serta diwujudkan dalam aksi nyata yang berkelanjutan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa 1000Cahaya Muhammadiyah telah menjalankan berbagai program berbasis efisiensi energi dan transisi energi di tingkat akar rumput.
“Sejauh ini, kami telah bekerja bersama 19 pondok pesantren, 20 ranting, 20 cabang, 12 masjid, dan 50 sekolah. Kami juga telah melatih sekitar 370 trainer efisiensi energi serta memberdayakan lebih dari 3.000 perempuan sebagai green heroes, serta menginisiasi puluhan panel surya pasca pelatihan,” jelas Hening.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa gerakan 1000Cahaya lahir dari semangat perubahan berbasis komunitas.
“Dengan semangat ‘jangan mengutuk kegelapan, kitalah cahaya’, gerakan ini tumbuh berkat dukungan Viriya ENB dan diperkuat oleh Ford Foundation melalui proyek SMILE dengan pendekatan ecofeminism, serta Green Ability yang mendorong konservasi bersama saudara difabel. Ini menjadi bagian dari langkah amar ma’ruf nahi munkar dalam mewujudkan baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur,” tambahnya.
Dialog yang berlangsung bersama mahasiswa UAD dan tim “1000 Cahaya Muhammadiyah” menyoroti peran generasi muda dalam aksi iklim berbasis komunitas. Program ini menampilkan berbagai inisiatif yang menggabungkan nilai-nilai Islam dengan praktik keberlanjutan, seperti edukasi lingkungan dan pemberdayaan masyarakat.
UAD sendiri telah menjalin kerja sama dengan berbagai universitas di Inggris, termasuk dalam program pertukaran mahasiswa, penguatan kapasitas pendidikan tinggi, serta kolaborasi riset internasional.
Melalui kunjungan ini, diharapkan terjalin kolaborasi yang lebih luas antara UAD dan mitra di Inggris, khususnya dalam bidang energi terbarukan, riset keberlanjutan, dan penguatan kapasitas generasi muda dalam menghadapi tantangan global.
Kegiatan ini juga menegaskan posisi UAD sebagai salah satu perguruan tinggi yang aktif berkontribusi dalam agenda pembangunan berkelanjutan, baik di tingkat nasional maupun global. (diko)
