METRO, Suara Muhammadiyah - Rektor Universitas Muhammadiyah Metro, Dr. Nyoto Suseno, M.Si., mengajak seluruh sivitas akademika memperkuat ukhuwah dan kebersamaan dalam acara Halal Bihalal dan Silaturahmi Keluarga Besar UM Metro yang digelar pada Sabtu (28/3/2026). Kegiatan tersebut berlangsung di kediaman Kepala Biro Administrasi Umum, H. Suharyono, S.E., di Hadimulyo Barat, Kota Metro.
Dalam sambutannya, Rektor menyampaikan apresiasi atas kehadiran para pimpinan, dosen, tenaga kependidikan, serta mitra Muhammadiyah yang turut meramaikan kegiatan tersebut. Ia menekankan bahwa momentum halal bihalal bukan sekadar tradisi, melainkan sarana mempererat hubungan kekeluargaan di lingkungan kampus.
“Kegiatan ini sangat penting karena menjadi ruang bertemu secara informal, mempererat silaturahmi, dan menyatukan hati serta pikiran kita dalam satu tujuan bersama,” ujar Nyoto Suseno.
Acara yang mengusung tema “Membangun Ukhuwah Menuju Universitas Muhammadiyah Metro Penuh Berkah” ini juga dihadiri jajaran wakil rektor, dekan fakultas, direktur unit, serta perwakilan dari Persyarikatan Muhammadiyah dan organisasi otonom.
Dalam kesempatan tersebut, Rektor juga menyampaikan permohonan maaf lahir dan batin kepada seluruh hadirin. Ia mengajak seluruh elemen kampus untuk saling mengikhlaskan, membangun kepercayaan, dan memperkuat kolaborasi.
“Halal bihalal ini menjadi momen untuk saling memaafkan, saling memahami karakter satu sama lain, dan membangun rasa saling percaya. Dengan kepercayaan itu, kita bisa berkolaborasi lebih baik,” katanya.
Lebih lanjut, ia menegaskan pentingnya menjaga silaturahmi tidak hanya pada tataran formal, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari. Menurutnya, nilai-nilai seperti saling memahami (ta’aruf), saling menguatkan, hingga saling menjamin (takaful) harus menjadi bagian dari budaya kerja di lingkungan kampus.
Rektor berharap melalui kegiatan ini, seluruh keluarga besar UM Metro semakin solid dalam membangun institusi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga membawa keberkahan bagi masyarakat luas, baik di Kota Metro, Provinsi Lampung, maupun secara nasional.
“Kita ingin kebersamaan ini terus terjaga sehingga UM Metro benar-benar menjadi universitas yang penuh berkah dan memberikan manfaat luas,” pungkasnya.
Sementara itu, perwakilan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Lampung, Drs. Jazim Ahmad, M.Pd., dalam sambutannya menegaskan pentingnya rasa memiliki terhadap institusi sebagai kunci kemajuan bersama. Ia menyebut bahwa kemajuan kampus tidak hanya menjadi tanggung jawab pimpinan, tetapi seluruh warga Muhammadiyah.
“UM Metro ini bukan hanya milik rektor dan pimpinan, tetapi milik kita semua. Karena itu, kalau merasa memiliki, mari bersama-sama ikut membesarkan, termasuk dengan membantu promosi kampus,” ujarnya.
Ia juga mengajak seluruh elemen untuk aktif mengenalkan UM Metro kepada masyarakat luas. Menurutnya, semakin besar amal usaha Muhammadiyah, maka semakin besar pula dampak dan kebanggaan yang dirasakan oleh Persyarikatan.
“Kita bangga jika amal usaha di wilayah kita berkembang besar. Itu berarti ikut membesarkan gerakan Muhammadiyah dan memberikan manfaat lebih luas bagi masyarakat,” tambahnya.
Jazim Ahmad turut mengapresiasi perkembangan UM Metro, mulai dari bertambahnya program studi hingga peningkatan kualitas sumber daya manusia, termasuk dosen bergelar doktor dan profesor. Ia optimistis, dengan penguatan tersebut, UM Metro akan semakin maju dan berdaya saing.
Selain itu, ia juga menyampaikan rencana kegiatan silaturahmi yang akan digelar PWM Lampung bersama para pimpinan perguruan tinggi Muhammadiyah sebagai upaya memperkuat sinergi antar lembaga.
Menutup sambutannya, ia menyampaikan permohonan maaf serta harapan agar UM Metro terus berkembang menjadi kampus yang unggul dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Dengan kebersamaan, kerja keras dosen dan karyawan, insyaallah apa yang menjadi cita-cita UM Metro akan terwujud,” tandasnya.
Melanjutkan Kebaikan
Dalam kesempatan tersebut, Ust. Dr. Bairus Salim, M.Pd.I. menyampaikan tausiyah yang sarat makna tentang pentingnya menjaga hati, memperkuat silaturahmi, serta mewaspadai godaan syaitan pasca Ramadhan.
Ia menjelaskan bahwa halal bihalal bukan sekadar tradisi, tetapi memiliki makna mendalam dalam Islam, yakni saling memaafkan dan merelakan kesalahan antar sesama. Secara bahasa, “halal” merupakan lawan dari “haram”, yang menggambarkan kondisi hubungan yang sebelumnya mungkin tidak baik menjadi kembali bersih.
“Di bulan Syawal, kita saling memaafkan. Tradisi ini diperkuat dengan doa ‘Taqabbalallahu minna wa minkum’, yang bermakna semoga Allah menerima amal ibadah kita. Doa ini memiliki dasar dalam riwayat para sahabat,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa dalam berdoa, umat Islam tidak harus terpaku pada redaksi tertentu. Bahkan doa dengan bahasa sendiri, selama mengandung kebaikan, tetap diperbolehkan.
Dalam tausiyahnya, Ust. Bairus juga mengingatkan bahwa kondisi spiritual setelah Ramadhan perlu dijaga, karena berbeda dengan bulan Ramadhan, di bulan Syawal syaitan tidak lagi dibelenggu.
“Ketika Ramadhan, kita merasakan ibadah begitu ringan. Itu karena syaitan dibelenggu. Namun setelahnya, syaitan kembali bebas dan mulai menggoda manusia,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa salah satu strategi utama syaitan adalah menjerumuskan manusia ke dalam kesyirikan. Namun jika gagal, syaitan akan menggunakan cara lain yang lebih halus, yaitu memecah belah umat Islam melalui konflik, fitnah, dan memutus tali silaturahmi.
“Syaitan sangat cerdas. Ketika tidak berhasil menjerumuskan pada kesyirikan, ia akan mengadu domba. Inilah yang sering terjadi, termasuk di media sosial narasi yang memecah belah, menyalahkan, bahkan mengkafirkan,” tegasnya.
Menurutnya, fenomena perbedaan dalam penentuan hari raya, misalnya, tidak seharusnya menjadi pemicu perpecahan. Justru, umat Islam diajak untuk menyikapi dengan bijak dan tetap menjaga ukhuwah.
Ia juga menegaskan bahwa kegiatan halal bihalal seperti ini merupakan bagian dari upaya mempererat silaturahmi yang sangat dianjurkan dalam Islam.
“Apapun bentuk kegiatan yang menguatkan silaturahmi adalah amal saleh. Sebaliknya, memutus silaturahmi adalah dosa besar. Bahkan Nabi menyebutkan bahwa orang yang memutus silaturahmi tidak akan masuk surga,” ungkapnya.
Di akhir tausiyah, ia mengajak seluruh hadirin untuk menjaga konsistensi ibadah yang telah dilatih selama bulan Ramadhan, seperti salat, puasa sunnah, tilawah Al-Qur’an, dan amal kebaikan lainnya.
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan secara istiqamah, meskipun sedikit. Jangan sampai semangat ibadah hanya ada di bulan Ramadhan, lalu hilang setelahnya,” pesannya.
Kegiatan halal bihalal ini pun menjadi momentum refleksi dan penguatan nilai-nilai kebersamaan di lingkungan UM Metro, sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah antar civitas akademika.
