UMY PTS Pertama Tuan Rumah Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia

Suara Muhammadiyah

4 August 2026

235
Istimewa

Istimewa

Meneguhkan Transformasi Literasi dan Etika di Era Kecerdasan Buatan

YOGYAKARTA, Suara Muhammadiyah – Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mencetak sejarah sebagai Perguruan Tinggi Swasta (PTS) pertama yang menjadi tuan rumah Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI) ke-17 pada 4-5 Agustus 2026. Mengusung tema "Kesadaran, Perilaku, Interaksi, dan Budaya Informasi di Era Kecerdasan Buatan", ajang ini menjadi ruang krusial untuk menjawab tantangan rendahnya minat baca di tengah gempuran teknologi digital.

Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof Dr Dadang Kahmad, MSi, menyoroti fenomena masyarakat Indonesia yang terjebak dalam durasi penggunaan media sosial yang ekstrem namun minim asupan konten ilmiah. "Kita itu sebetulnya di Muhammadiyah sangat khawatir dengan kondisi masyarakat Indonesia sekarang yang banyak membaca dunia digital medsos sampai 8 jam per hari, tapi sangat sedikit membaca atau membaca semacam jurnal-jurnal ilmiah di dunia digital," ungkapnya dalam Konferensi Pers yang dipandu Kepala Perpustakaan UMY Novy Diana Fauzie, MA, Selasa (4/8).

Lebih lanjut, Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati itu menekankan bahwa perpustakaan masa kini tidak boleh sekadar menjadi gudang buku statis, melainkan harus bertransformasi secara aktif untuk menarik minat masyarakat luas. Dadang memberikan arahan strategis bahwa perpustakaan yang akan datang itu harus bisa menggaet masyarakat serta membangkitkan minat baca minat untuk mengetahui tentang segala sesuatu yang berguna bagi kehidupan.

Dadang mengaitkan kemiskinan pengetahuan dengan kerentanan masyarakat terhadap fenomena negatif seperti judi online yang marak akibat ketidakmampuan memilah informasi. Ia menegaskan bahwa meskipun banyak yang menempuh pendidikan tinggi, tanpa budaya membaca mereka tetap lemah dalam pengambilan Keputusan. “Karena dia miskin pengetahuan, miskin untuk bisa melakukan sesuatu yang sempurna bagi dirinya sendiri, termasuk pada memilih mana yang baik, mana yang jelek," tegasnya.

Kepala Perpustakaan Nasional, Prof E. Aminudin Aziz, PhD, memperingatkan bahwa di era kecerdasan buatan (AI), validitas informasi menjadi tantangan utama yang harus dikawal oleh institusi perpustakaan. Beliau menyoroti perlunya dasar informasi yang kuat agar tidak terjadi misinformasi di publik.

Terkait dominasi teknologi, Prof. Aminudin memberikan catatan tegas bahwa kecanggihan algoritma AI tidak akan pernah bisa menggantikan nurani dan nilai-nilai kemanusiaan. Ia berpendapat bahwa manusia harus tetap memegang kendali atas etika informasi. "Kecerdasan buatan dalam bentuk apapun tidak boleh kemudian menghilangkan peran sentral dari manusia itu sendiri, karena mesin adalah mesin dia tidak memiliki ikatan nilai moral dan etika," ungkapnya.

Sebagai langkah konkret, Aminudin menuntut agar setiap perpustakaan melakukan perubahan fundamental pada cara mereka beroperasi agar tidak ditinggalkan oleh zaman. Aminudin berharap konferensi ini menghasilkan kesimpulan praktis bagi para pustakawan dan akademisi, karena keberadaan perpustakaan di manapun harus tetap tersedia dengan cara mentransformasi diri di dalam menyimpan, mengelola, dan melayankan informasi itu.

Ketua Forum Perpustakaan Digital Indonesia (FPDI), Dr Joko Santoso, MHum, menjelaskan bahwa pihaknya kini semakin fokus pada standarisasi teknologi informasi untuk mendukung integrasi data secara nasional. FPDI berupaya keras menciptakan keseragaman sistem agar perpustakaan digital di Indonesia memiliki kualitas yang setara.

Inovasi mencolok pada penyelenggaraan tahun ini di UMY adalah hadirnya format konferensi yang lebih interaktif dan solutif bagi para pengelola perpustakaan di daerah. "KPDI ini menjelma menjadi semacam ruang kolaborasi karena di sana juga ada klinik perpustakaan yang menyediakan konsultasi dan diskusi termasuk juga bimbingan teknis," ungkapnya.

Selain itu, FPDI juga menginisiasi lomba portal web perpustakaan untuk pertama kalinya sebagai standar representasi layanan digital kepada masyarakat luas. Joko meyakini bahwa penguatan literasi digital melalui portal resmi adalah benteng pertahanan terbaik melawan disinformasi AI. "Ketika kita bicara soal penggunaan AI, soal kemungkinan terpapar informasi dan seterusnya, di situlah intinya kita memerlukan penguatan digital masyarakat dan itu menjadi salah satu konsen dari Forum Perpustakaan Digital Indonesia," pungkasnya.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Berita

MEDAN, Suara Muhammadiyah -  Kapolda Sumatera Utara Irjen Pol Agung Setya IE SH SIK MSi menyamp....

Suara Muhammadiyah

21 June 2024

Berita

SURABAYA, Suara Muhammadiyah — Aula Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Ja....

Suara Muhammadiyah

1 September 2025

Berita

Muhammadiyah Bertransformasi Menjadi 'Social Enterprise' Raksasa di Mata Gen Z dan Milenial YOGYAKA....

Suara Muhammadiyah

30 March 2026

Berita

PURWOREJO, Suara Muhammadiyah – Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Purworejo (UM....

Suara Muhammadiyah

5 February 2025

Berita

TAIPEI, Suara Muhammadiyah - Universitas Muhammadiyah Prof DR HAMKA (Uhamka) menandatangani kesepaka....

Suara Muhammadiyah

11 December 2023

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah