Urgensi Pilihan Pendidikan Muhammadiyah bagi Keluarga Persyarikatan

Publish

1 April 2026

Suara Muhammadiyah

Penulis

0
77
Dok Istimewa

Dok Istimewa

Meneguhkan Akar, Menyambung Perjuangan: Urgensi Pilihan Pendidikan Muhammadiyah bagi Keluarga Persyarikatan

Najib Maulana Alfikri, Mahasiswa Magister Hukum Ekonomi Syariah (MHES) UM Surakarta

Saat ini, kita melihat Muhammadiyah sebagai sebuah gerakan yang sangat besar. Ada ribuan sekolah, madrasah, hingga perguruan tinggi yang tersebar di kota-kota besar maupun di desa-desa terpencil. Gedung-gedungnya berdiri tegak, meluluskan jutaan orang yang kelak menjadi guru, dokter, pengusaha, hingga pemimpin bangsa. 

Ketika melihat sejarah, kita akan memahami bahwa gerakan pendidikan Muhammadiyah tidak lahir dari gelimang harta atau fasilitas yang mewah. Semuanya bermula dari langgar kecil di Kauman, Yogyakarta. KH Ahmad Dahlan memulainya dengan langkah yang sangat sederhana, dengan delapan orang murid, beberapa meja kecil, dan sebuah papan tulis. Tidak ada rapat akbar, tidak ada investor besar. Yang ada hanyalah keikhlasan, keringat, dan keyakinan teguh bahwa umat ini harus dicerdaskan. Bahkan, beliau sendiri yang turun tangan mengajar, tak jarang juga harus melelang barang-barang berharga di rumahnya demi menggaji guru dan memastikan sekolah itu tetap hidup.

Dari melihat perjuangan KH Ahmad Dahlan, kita seharusnya sadar bahwa fondasi dari Amal Usaha Muhammadiyah adalah keihklasan dan keteladanan. Hal tersebut juga didukung dari pernyataan Prof Sudarman ketika memberikan sambutan pada agenda Pengkajian Ramadhan yang dilaksanakan oleh Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Lampung. Prof Sudarman mengatakan bahwa “sebagai orang Muhammadiyah, kita harus mencontoh para pendahulu, bagaimana para pemimpin Muhammadiyah yang selalu mengedepankan keihklasan dalam berjuang di Muhammadiyah maupun di Amal Usaha Muhammadiyah.”

Jika di masa lalu KH Ahmad Dahlan berkorban harta dan menghadapi cibiran untuk meyakinkan masyarakat agar mau bersekolah di Madrasah Ibtidaiyah Diniyah Islamiyah yang beliau rintis, lalu apa wujud pengorbanan kita sebagai kader dan penggerak Muhammadiyah saat ini?

Pengorbanan dan bentuk dukungan itu dimulai dengan menitipkan anak-anak kita sendiri untuk dididik di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Bagaimana mungkin kita mengharapkan masyarakat luas berbondong-bondong menitipkan anak mereka ke AUM, jika anak-anak dari para pimpinan, majelis, dan warga Muhammadiyah sendiri justru absen dari bangku-bangku kelas kita? Kemegahan gedung sekolah Muhammadiyah saat ini tidak akan ada artinya jika kehilangan ruhnya, dan ruh itu berada pada kepercayaan warganya sendiri.

Kesadaran dalam membangun amal usaha tidak bisa lagi hanya dengan intruksi tertulis dari meja rapat pimpinan. Kesadaran harus dibangun lewat keteladanan yang nyata dari rumah tangga kita. Ketika seorang tokoh atau warga Muhammadiyah dengan bangga menyekolahkan anaknya di AUM, bahkan di saat sekolah tersebut mungkin masih merintis dan butuh perbaikan. Maka mereka sedang merawat api ideologi agar tidak padam di generasi penerus kita sendiri.

Kepercayaan Publik Berawal dari Kepercayaan Kader 

Amal Usaha Muhammadiyah, khususnya di bidang pendidikan, merupakan wajah terdepan dari dakwah Islam berkemajuan. Publik di luar Muhammadiyah akan selalu memantau "Apakah para pimpinan Muhammadiyah menyekolahkan anaknya di sana?" Jika jawabannya "tidak", maka secara tidak langsung kita sedang mengirimkan sinyal kepada masyarakat bahwa kualitas pendidikan kita tidak cukup baik, bahkan bagi anak-anak kita sendiri.

Keberpihakan orang tua terhadap sekolah Muhammadiyah menjadi bentuk marketing atau promosi yang paling otentik. Tidak ada iklan atau baliho yang lebih kuat pengaruhnya daripada kesaksian seorang pimpinan Muhammadiyah yang dengan bangga mengantar anaknya ke sekolah Muhammadiyah. Ketika sekolah Muhammadiyah dipenuhi oleh anak-anak kader, maka energi positif dan semangat gotong royong untuk memajukan sekolah tersebut akan muncul secara alami.

K.H. Ahmad Dahlan pernah berpesan agar warga Muhammadiyah jangan sampai menjadi pengikut yang buta, tetapi harus menjadi penggerak yang paham arah tujuan. Dengan menyekolahkan anak di Muhammadiyah, berarti kita juga sedang melakukan langkah praktis dalam mengamalkan prinsip "hidup-hidupilah Muhammadiyah". Menghidupkan Muhammadiyah berarti memastikan "napas" organisasi—yaitu amal usahanya—tetap terus berkembang.

Jika orang tua yang aktif di Muhammadiyah justru memilih menyekolahkan anaknya ke sekolah lain hanya karena mengejar fasilitas yang lebih mewah, maka secara moral mereka telah mencederai semangat kemandirian yang diajarkan KH Ahmad Dahlan. Fasilitas bisa dibangun, gedung bisa ditinggikan, tapi ruh dan karakter sekolah Muhammadiyah tidak bisa ditemukan di tempat lain. Dengan menyekolahkan anak di Muhammadiyah, berarti orang tua sedang berinvestasi pada keberlangsungan AUM agar tidak kekurangan siswa, yang pada gilirannya akan memberikan kemandirian finansial bagi sekolah untuk meningkatkan kualitasnya secara bertahap.

Menyelamatkan Masa Depan Persyarikatan

Kita harus jujur mengakui bahwa tantangan terbesar Muhammadiyah saat ini bukanlah serangan dari luar, melainkan ancaman kekosongan kader dari dalam. Banyak anak-anak dari tokoh Muhammadiyah yang saat ini telah dewasa justru merasa asing dengan organisasinya sendiri. Mereka mungkin sukses secara profesional, akan tetapi mereka tidak memiliki ikatan emosional maupun ideologis dengan persyarikatan yang telah membesarkan orang tua mereka. Inilah risiko terbesar jika kita membiarkan anak-anak kita menempuh pendidikan di lingkungan yang sama sekali tidak bersentuhan dengan nafas Kemuhammadiyahan. 

Sekolah-sekolah Muhammadiyah telah dirancang untuk menjadi persemaian kader. Di sanalah anak-anak mulai mengenal Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), merasakan pengalaman berorganisasi yang inklusif, dan juga memahami cara beragama yang moderat dan berkemajuan. Jika seorang anak tidak pernah merasakan duduk di bangku sekolah Muhammadiyah, mereka akan kehilangan momen perjumpaan pertama yang sangat berharga dengan ideologi organisasi.

Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, seringkali mengingatkan bahwa keluarga itu basis utama gerakan. Tanpa pendidikan yang selaras di sekolah, nilai-nilai Muhammadiyah yang diajarkan orang tua di rumah akan sulit berakar kuat. Sekolah Muhammadiyah memberikan lingkungan pendukung yang memastikan apa yang diyakini orang tua di rumah, dipraktikkan juga di sekolah.

Coba bayangkan 20 atau 30 tahun ke depan. Jika hari ini para pengurus Muhammadiyah tidak mengarahkan anaknya ke sekolah Muhammadiyah, maka siapa yang akan mengisi kursi-kursi kepemimpinan di tingkat Ranting, Cabang, hingga Pusat? Siapa yang akan menjadi dokter di RS PKU Muhammadiyah? Siapa yang akan menjadi dosen di Perguruan Tinggi Muhammadiyah?

Jika kita hanya mengandalkan orang-orang luar yang masuk ke Muhammadiyah karena motif pekerjaan, tanpa didasari oleh akar ideologis yang kuat sejak dini, maka Muhammadiyah akan kehilangan jati dirinya. Kita harus menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa menyekolahkan anak di Muhammadiyah merupakan strategi jangka panjang untuk memanen kader ideologis yang militan. Mereka yang sejak dini berada di sekolah Muhammadiyah akan tertanam dalam hatinya untuk mencintai Muhammadiyah bukan karena gaji, tetapi karena mereka merasa Muhammadiyah adalah rumah tempat mereka tumbuh dan belajar sejak kecil.

Buya Syafii Maarif dalam banyak tulisan dan pidatonya sering menekankan pentingnya Muhammadiyah untuk terus mencetak intelektual organik—orang-orang yang cerdas secara akademik namun tetap rendah hati dan mau turun tangan mengurus umat. Selain itu, kesadaran orang tua untuk mengarahkan anaknya ke sekolah Muhammadiyah itu juga sebagai bentuk ketaatan pada "Khittah" perjuangan. 

Dengan memberikan pilihan pertama pada sekolah Muhammadiyah, maka kita juga sedang memastikan bahwa estafet perjuangan tidak akan pernah terhenti. Kita sedang membangun rantai emas yang menghubungkan masa lalu yang penuh perjuangan dengan masa depan yang penuh harapan.


Komentar

Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Menatap Hari Kemenangan Oleh: Mohammad Nur Rianto Al Arif, Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah/ Ketu....

Suara Muhammadiyah

14 March 2026

Wawasan

Outlook Microfinance Muhammadiyah 2024 Oleh: Agus Yuliawan, Direktur Eksekutif Induk Baitut Tamwil ....

Suara Muhammadiyah

29 December 2023

Wawasan

Menjaga Hak Anak atas ASI Bentuk Ikhtiar Indonesia Sejajarkan Diri dengan WHO Indonesia adopsi Kod....

Suara Muhammadiyah

3 September 2025

Wawasan

Memaknai Cakra Manggilingan dengan Menyelami R Ng Rangga Warsita Oleh: Rumini Zulfikar, Penasihat P....

Suara Muhammadiyah

6 February 2025

Wawasan

Spirit Hijrah dalam Menjaga Pusaka Kehidupan Umat Oleh: Rumini Zulfikar, Penasehat PRM Troketon "B....

Suara Muhammadiyah

20 July 2024

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah