Yang Menyetor dan yang Menyedot

Suara Muhammadiyah

28 January 2026

1264
Foto Ilustrasi

Foto Ilustrasi

Yang Menyetor dan yang Menyedot

(Amal Usaha Muhammadiyah: Dari Pelayanan menuju Entrepreneur yang Mandiri)

Oleh ; Firdaus, SE, M.Si, Ketua Majelis Ekonomi PW Muhammadiyah Riau


Ekonomi itu jujur.

Ia tidak bisa diajak kompromi.

Yang menyetor akan bertahan.

Yang menyedot akan kelelahan—cepat atau lambat.


Banyak yang terlihat besar: gedung megah, program ramai, aktivitas heboh. Tapi kalau tiap bulan hanya menguras anggaran tanpa memberi hasil nyata, itu liabilitas. Cantik di mata, tapi menghisap napas lembaga.

Aset berbeda. Ia diam, pendiam, tapi rajin menyetor. Sedikit tapi konsisten. Ia membuat organisasi tetap tidak panik, bahkan di tengah krisis.

Inilah titik kunci bagi Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Tidak cukup hanya “bermanfaat” secara formal. AUM harus menjadi lembaga entrepreneur, mandiri, dengan multiple income, bukan hanya mengandalkan donasi, SPP, atau satu sumber pendapatan. Diversifikasi itu bukan mewah; itu keharusan agar AUM kuat dan berkelanjutan.

Contohnya nyata: sekolah, perguruan tinggi, rumah sakit, dan unit sosial harus memiliki aset penyetor: ruko produktif, kebun produktif,  lahan dan unit bisnis yang menghasilkan, unit usaha yang sehat, kerja sama bisnis strategis. Semua itu bukan untuk menggeser misi dan konsentrasi lembaga, tapi menopang dan memperluasnya.

Kesalahan paling mahal adalah mendahulukan yang menyedot (Liabilitas) dan menunda yang menyetor (Aset). Gedung besar dulu, unit usaha produktif nanti. Program ramai dulu, arus kas stabil belakangan. Padahal masa depan Muhammadiyah tidak dibangun dari simbol, melainkan dari aset yang bekerja dalam diam, menyetor manfaat, dan menopang dakwah lintas generasi.

AUM yang sehat adalah AUM yang mampu membiayai dirinya sendiri, meningkatkan mutu layanan, dan tetap memberi ruang pengabdian. Ia bukan beban Persyarikatan; ia adalah penopang dakwah, pendidikan, dan sosial.

Refleksi sederhana tapi tajam:

AUM yang kita kelola hari ini, sudahkah menjadi aset penyetor?

Kalau belum, waktunya berbenah.

Kalau sudah, waktunya memperkuat.


Karena masa depan Muhammadiyah bukan soal terlihat hebat hari ini, tetapi soal mampu bertahan, memberi manfaat, dan menopang dakwah secara mandiri untuk generasi yang akan datang.


Berita Lainnya

Berita Terkait

Tentang Politik, Pemerintahan, Partai, Dll

Wawasan

Mengapa Anak Pintar Belum Tentu Sukses? Penulis: M. Saifudin, Pengasuh Pondok Pesantren Modern Muha....

Suara Muhammadiyah

15 June 2026

Wawasan

Hikmah Syawalan: Empat Hal yang Perlu Diperhatikan Dalam Ibadah Oleh: Tito Yuwono, Ph.D, Dosen....

Suara Muhammadiyah

24 April 2024

Wawasan

Pentingnya Peran Ulama Menuntun Umaro sebagai Pengayom dan Pemakmur Umat Oleh: Rumini Zulfikar, Pen....

Suara Muhammadiyah

10 December 2024

Wawasan

Indonesia, Madura, dan Ritelmart Oleh: Saidun Derani, Dosen Pascasarjana UM-Surabaya dan UIN Syahid....

Suara Muhammadiyah

28 October 2024

Wawasan

Peradaban Dimulai dari Titik Nol: Kedisiplinan Diri dan Kemerdekaan Jiwa, saat Individu Menaklukkan ....

Suara Muhammadiyah

15 March 2026

Tentang

© Copyright . Suara Muhammadiyah